EDUCARE.CO.ID-Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengunjungi Museum Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, usai mengikuti Upacara Hari Lahir Pancasila 2026. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman sejarah dan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda.
Berdasarkan rilis resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), kunjungan itu juga menjadi momentum untuk merefleksikan relevansi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Multatuli
Dalam kunjungan tersebut, Fajar didampingi Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana.
Bonnie Triyana dikenal sebagai penggagas Museum Multatuli sekaligus pegiat pelestarian sejarah di Indonesia. Selama kunjungan berlangsung, Fajar meninjau berbagai koleksi dan narasi sejarah yang tersimpan di museum tersebut.
Ia juga mempelajari kisah Multatuli serta keterkaitan Kabupaten Lebak dengan sejumlah tokoh penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Menurut Fajar, pesan yang terkandung dalam karya Max Havelaar masih relevan hingga saat ini.
“Semangat yang dituangkan dalam Max Havelaar sangat relevan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama terkait keadilan dan kemanusiaan. Karena itu, pesan tersebut perlu terus kita jaga dan aktualisasikan,” ujarnya.
Lebak Simpan Warisan Sejarah Bangsa
Selain menyoroti sosok Multatuli, Fajar juga menilai Kabupaten Lebak memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa.
Menurutnya, daerah tersebut menyimpan jejak sejumlah tokoh nasional yang berperan penting dalam perjalanan Indonesia.
Beberapa tokoh yang memiliki keterkaitan dengan Lebak antara lain Soekarno, Haji Agus Salim, Tan Malaka, dan Maria Ulfah.
Karena itu, Fajar mendorong berbagai pihak untuk memperkenalkan warisan sejarah tersebut kepada generasi muda.
“Lebak merupakan mutiara sejarah yang luar biasa. Banyak tokoh besar bangsa memiliki hubungan dengan daerah ini. Karena itu, generasi muda perlu mengenal warisan sejarah tersebut,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sejarah tidak boleh berhenti sebagai catatan masa lalu. Sebaliknya, sejarah harus menjadi sumber inspirasi bagi generasi penerus bangsa.
Museum Jadi Ruang Belajar yang Hidup
Fajar juga mengapresiasi keberadaan Museum Multatuli sebagai satu-satunya museum post-kolonial di Indonesia.
Menurutnya, museum memiliki peran strategis dalam memperkuat pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan.
Karena itu, museum perlu hadir sebagai ruang belajar yang menarik, interaktif, dan relevan bagi anak muda.
“Bagi dunia pendidikan, museum seperti ini merupakan oase bagi generasi muda. Museum harus terus berkembang dan menghadirkan pengetahuan baru agar semakin diminati,” ungkapnya.
Selain menjadi sarana edukasi, museum juga dapat membantu generasi muda memahami perjuangan bangsa serta nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.
Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Sejarah
Di sisi lain, Fajar melihat potensi besar Museum Multatuli dan Kabupaten Lebak sebagai destinasi wisata sejarah.
Menurutnya, dukungan infrastruktur yang semakin baik membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk mengakses situs-situs bersejarah di daerah tersebut.
Karena itu, pengembangan wisata sejarah dapat memberikan manfaat ganda.
Selain memperkuat memori kolektif bangsa, sektor tersebut juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
“Jika terus dikembangkan, wisata sejarah di Lebak dapat memperkuat identitas kebangsaan sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Pancasila dan Sejarah Jadi Bekal Generasi Masa Depan
Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Momentum tersebut juga mengingatkan pentingnya mewariskan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda.
Melalui pemahaman sejarah yang kuat, generasi muda dapat mengenal perjalanan bangsanya dengan lebih baik.
Selain itu, mereka juga dapat mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan cara tersebut, generasi muda diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan masa depan tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.



