Wamenag Ajak Pesantren Jadi Motor Koperasi Desa Merah Putih, Perkuat Ekonomi Umat dari Desa
EDUCARE.CO.ID – Wakil Menteri Agama Muhammad Syafii atau yang akrab disapa Romo Syafii, mendorong pondok pesantren untuk tampil di garda depan penguatan ekonomi desa. Dalam Rapat Kerja III Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten di Tangerang, ia menegaskan bahwa pesantren dan perguruan tinggi tidak boleh tinggal diam terhadap berbagai program strategis pemerintah, termasuk Koperasi Desa Merah Putih yang menjadi bagian dari agenda pembangunan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, potensi ekonomi umat harus diarahkan dan disinergikan dengan kebijakan nasional yang telah disiapkan.
Romo Syafii menjelaskan bahwa pemerintah telah menghadirkan instrumen ekonomi desa yang komprehensif melalui Koperasi Desa Merah Putih—mulai dari apotek, klinik, simpan pinjam, pertanian, hingga pengembangan UMKM. Skema ini membuka ruang besar bagi pesantren untuk terlibat langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Alih-alih membangun sistem baru di luar kebijakan yang ada, ia menilai langkah paling realistis adalah mengambil peran aktif dalam program yang sudah berjalan dan memastikan umat menjadi penggerak utamanya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pesantren dan kampus. Santri dinilai memiliki kelincahan dan kedekatan sosial di lapangan, sementara perguruan tinggi dapat memperkuat tata kelola, sistem manajemen, hingga desain pengembangan usaha. Sinergi ini diyakini mampu melahirkan kader-kader terbaik umat yang siap mengendalikan dan mengembangkan ekonomi desa secara profesional, transparan, dan berkelanjutan.
Keterlibatan pesantren dalam program ekonomi desa diharapkan tak hanya memperkuat ketahanan pangan dan kedaulatan ekonomi umat, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan sosial yang lebih luas—termasuk memerangi narkoba dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Romo Syafii pun mengajak seluruh elemen pesantren untuk aktif bersilaturahmi, bernegosiasi, dan mengambil peran dalam setiap peluang pembangunan. “Pesantren harus hadir dan menjadi solusi,” tegasnya, menandai babak baru kontribusi pesantren dalam pembangunan ekonomi nasional.
