EDUCARE.CO.ID – Program Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang disalurkan langsung ke rekening penerima memberikan dampak positif bagi guru di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Selain membantu meningkatkan kesejahteraan, kebijakan tersebut membuat para guru lebih fokus mengajar sekaligus mampu menyediakan fasilitas belajar yang lebih baik bagi peserta didik.
Berdasarkan sumber rilis Kemendikdasmen, banyak guru di wilayah pesisir Wakatobi sebelumnya menjalani profesi dengan honor yang sangat terbatas. Meski demikian, mereka tetap bertahan mengajar demi memastikan anak-anak memperoleh layanan pendidikan yang layak.
Guru Merasakan Dampak Langsung Penyaluran TPG
Guru Informatika SMP Swasta Maritim Mola, Tino, mengaku mulai mengajar pada akhir 2021. Saat itu, ia hanya menerima insentif dari dana BOS sekitar Rp400 ribu setiap bulan yang dibayarkan setiap tiga bulan sekali.
Kini, kondisi tersebut berubah setelah ia memperoleh TPG.
Menurut Tino, tunjangan tersebut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung proses pembelajaran. Ia memanfaatkan dana itu untuk membeli kuota internet, menyiapkan media pembelajaran, dan memenuhi berbagai kebutuhan mengajar lainnya.
Selain itu, sistem penyaluran yang langsung masuk ke rekening setiap bulan memberikan kepastian bagi para guru.
“Guru jadi lebih fokus mengajar karena kebutuhan dasar lebih terjamin,” ujarnya.
Kesejahteraan Meningkat, Kompetensi Tetap Harus Diperkuat
Tino menilai peningkatan kesejahteraan perlu berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi guru.
Karena itu, ia berharap pemerintah terus menghadirkan pelatihan yang relevan agar kemampuan pendidik berkembang mengikuti perubahan dunia pendidikan.
Menurutnya, guru yang sejahtera dan kompeten akan lebih siap meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk di daerah pesisir seperti Mola Bahari.
Dari Honor Rp150 Ribu hingga Menerima TPG
Cerita serupa datang dari Gita Novalista, Guru Geografi SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi.
Saat pertama kali mengajar, ia hanya memperoleh honor sekitar Rp150 ribu per bulan. Setelah beberapa tahun mengabdi, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar Rp500 ribu sebelum akhirnya menerima TPG pada awal 2025.
Bagi Gita, tunjangan profesi bukan sekadar tambahan pendapatan.
Sebaliknya, TPG menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi guru yang selama ini tetap bertahan mengajar di sekolah swasta wilayah pesisir.
Ia mengaku semakin termotivasi untuk memberikan pembelajaran terbaik kepada peserta didik.
Penantian Panjang Guru yang Mengabdi Sejak Awal Sekolah Berdiri
Guru Bahasa Indonesia SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi, Waode Hadiati, juga merasakan manfaat serupa.
Ia mulai mengajar sejak sekolah berdiri pada 2012. Pada masa itu, berbagai proses administrasi, termasuk pengurusan sertifikasi guru dan TPG, masih membutuhkan waktu yang panjang.
Di tengah keterbatasan tersebut, ia bersama beberapa guru lain tetap bertahan agar kegiatan belajar mengajar terus berjalan.
Bahkan, honor yang diterimanya pada masa awal hanya sekitar Rp80 ribu.
Menurut Waode, kondisi itu membuat banyak guru memilih meninggalkan sekolah. Namun, tim inti tetap saling berbagi tugas agar siswa tidak kehilangan kesempatan belajar.
Akhirnya, penantian tersebut terbayar ketika ia mulai menerima TPG pada awal 2025.
Ia menilai kebijakan tersebut menjadi bentuk penghargaan pemerintah terhadap pengabdian guru yang telah bertahun-tahun melayani pendidikan di daerah.
TPG Jadi Bentuk Apresiasi Profesionalisme Guru
Sekretaris Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen, Temu Ismail, menjelaskan bahwa TPG merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap profesionalisme guru, baik ASN maupun non-ASN.
Ia berharap para guru di seluruh Indonesia, termasuk yang bertugas di daerah terpencil dan kepulauan, terus berperan sebagai penggerak pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan.
Menurut data Kemendikdasmen, hingga Juni 2026 penyaluran TPG di Provinsi Sulawesi Tenggara telah menjangkau 2.796 guru dengan nilai sekitar Rp33,6 miliar.
Sementara itu, di Kabupaten Wakatobi, sebanyak 821 guru telah menerima TPG dengan total anggaran sekitar Rp9,8 miliar.
Program tersebut diharapkan terus memperkuat kesejahteraan guru sekaligus meningkatkan mutu pendidikan, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal.






