512 Sekolah di NTT Terdampak Bencana, Kemendikdasmen Siapkan Skema Belajar Darurat

Must read

EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan proses pembelajaran tetap berlangsung bagi satuan pendidikan yang terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kemendikdasmen menyampaikan keprihatinan atas kondisi murid, guru, dan tenaga kependidikan yang terdampak. Pemerintah juga menempatkan keselamatan warga sekolah sebagai prioritas utama dalam penanganan pendidikan di wilayah bencana.

Berdasarkan rilis Kemendikdasmen, penyesuaian proses belajar menjadi langkah penting agar murid tetap memperoleh hak pendidikan tanpa mengabaikan kondisi darurat di lapangan.

Keselamatan Jadi Prioritas Pembelajaran

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan sekolah di wilayah terdampak perlu menyesuaikan pola pembelajaran dengan kondisi setempat.

“Prioritas dan komitmen Kemendikdasmen adalah keselamatan guru dan murid di wilayah bencana. Karena itu, pembelajaran yang dilakukan juga mempertimbangkan keselamatan guru dan murid. Salah satunya menggunakan sistem pembelajaran darurat dengan kurikulum darurat,” kata Abdul Mu’ti.

Dengan pendekatan tersebut, satuan pendidikan tidak harus menjalankan pembelajaran dengan pola yang sama seperti kondisi normal. Sekolah dapat menyesuaikan kegiatan belajar berdasarkan situasi yang mereka hadapi.

Bantuan Pendidikan Mulai Bergerak ke Labuan Bajo

Selain menyiapkan skema pembelajaran darurat, Kemendikdasmen juga mengirimkan bantuan untuk mendukung kebutuhan warga sekolah.

Tim Kemendikdasmen yang tiba di Labuan Bajo membawa sejumlah perlengkapan untuk membantu keberlangsungan aktivitas belajar selama masa darurat.

Bantuan tersebut terdiri atas 2.000 paket bingkisan anak, 800 school kit, dan 70 family kit.

Abdul Mu’ti mengatakan bantuan tersebut menjadi bagian dari dukungan pemerintah bagi murid dan keluarga yang terdampak bencana.

Ratusan Sekolah Terdampak Bencana

Data Sistem Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per 19 Agustus 2026 mencatat dampak bencana terhadap satuan pendidikan di NTT cukup luas.

Sebanyak 512 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak. Kondisi tersebut turut memengaruhi 94.452 murid serta 8.755 guru dan tenaga kependidikan.

Selain itu, sebanyak 276 satuan pendidikan mengalami gangguan pembelajaran. Kondisi tersebut berdampak pada 52.268 murid yang harus mengikuti kegiatan belajar dari rumah atau titik pengungsian.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pemerintah membutuhkan pendekatan yang fleksibel untuk menjaga keberlangsungan pendidikan selama situasi darurat.

Kemendikdasmen Siapkan Panduan Pembelajaran Darurat

Kemendikdasmen melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) juga menyiapkan panduan pembelajaran bagi sekolah terdampak bencana.

Panduan tersebut membantu satuan pendidikan menentukan pola belajar yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Sekolah dapat mempertimbangkan tingkat kerusakan, fasilitas yang tersedia, kondisi murid dan guru, serta keadaan lingkungan sekitar.

Kepala BKPDM Toni Toharudin menegaskan bahwa Kemendikdasmen terus memberikan perhatian kepada warga sekolah terdampak.

“Kami memastikan mereka tetap mendapatkan dukungan agar proses pembelajaran dapat terus berlangsung dan hak belajar murid tetap terpenuhi, meskipun berada dalam kondisi yang penuh keterbatasan,” ujar Toni di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah agar pendidikan tetap berjalan meskipun masyarakat menghadapi situasi bencana.

Materi Esensial Jadi Fokus Utama

Dalam kondisi darurat, sekolah dapat memprioritaskan materi pembelajaran yang paling penting dan sesuai dengan kebutuhan murid.

Materi tersebut dapat mencakup literasi, numerasi dasar, keselamatan diri, dukungan psikososial, serta pemulihan rutinitas belajar.

Sementara itu, metode belajar dapat menyesuaikan sumber daya yang tersedia. Sekolah dapat menggunakan pembelajaran tatap muka terbatas, belajar mandiri, atau metode lain yang aman bagi murid dan guru.

Pendekatan ini memberi ruang bagi sekolah untuk tetap menjalankan pendidikan tanpa memaksakan sistem pembelajaran normal di tengah kondisi yang belum stabil.

Dukungan Psikososial Tak Kalah Penting

Kemendikdasmen juga menempatkan dukungan psikososial sebagai bagian dari pemulihan pendidikan.

Bencana dapat memengaruhi kondisi emosional murid, guru, dan tenaga kependidikan. Karena itu, sekolah perlu membangun kembali suasana yang aman dan mendukung.

Lingkungan belajar yang positif dapat membantu murid memulihkan kepercayaan diri. Selain itu, suasana tersebut juga dapat membantu warga sekolah kembali menjalankan aktivitas secara bertahap.

Contoh Pembelajaran Tersedia di Rumah Pendidikan

Untuk membantu sekolah menerapkan pembelajaran sesuai kondisi pascabencana, Kemendikdasmen menyediakan berbagai contoh kegiatan belajar dan materi pendukung.

Materi tersebut dapat menjadi referensi bagi guru dalam menyusun pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan murid.

Masyarakat dapat mengakses contoh dan materi pembelajaran tersebut melalui laman Rumah Pendidikan.

Pemerintah Daerah Diminta Perkuat Kolaborasi

Kemendikdasmen mengajak pemerintah daerah, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, serta pemangku kepentingan pendidikan di NTT untuk memperkuat koordinasi.

Kolaborasi menjadi kunci agar proses belajar tetap berjalan dengan mengutamakan keselamatan, fleksibilitas, dan kebutuhan murid.

Di tengah situasi bencana, keberlangsungan pendidikan tetap perlu dijaga. Dengan dukungan pemerintah dan kerja sama berbagai pihak, kondisi darurat diharapkan tidak menghilangkan hak anak-anak NTT untuk terus belajar.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article