EDUCARE.CO.ID – Guru IPA SMKN 1 Nganjuk, Jawa Timur, Weni Rahmawanti, menutup studi magisternya dengan capaian akademik sekaligus inovasi pembelajaran. Ia meraih IPK 4,00 pada Program Magister Pendidikan Sains, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Tak hanya lulus dengan nilai sempurna, Weni juga meraih predikat wisudawan terbaik Program Magister Pendidikan Sains pada Wisuda ke-121 Unesa yang berlangsung pada 12 Agustus 2026.
Prestasi tersebut beriringan dengan penelitian tesisnya tentang E-Gamelan, sebuah media pembelajaran digital yang memadukan konsep sains dengan budaya lokal.
E-Gamelan Gabungkan Sains dan Budaya Lokal
Weni mengembangkan perangkat pembelajaran inkuiri berbasis etnosains dengan dukungan E-Gamelan. Inovasi tersebut berfokus pada materi konsep bunyi sekaligus mengenalkan gamelan kepada siswa.
Menurut Weni, pembelajaran sains terkadang masih terlalu berfokus pada teori. Kondisi itu dapat membuat sejumlah konsep terasa jauh dari kehidupan sehari-hari siswa.
Karena itu, ia mencoba menghadirkan budaya lokal sebagai bagian dari pengalaman belajar. Gamelan menjadi salah satu objek yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan dapat digunakan untuk menjelaskan konsep bunyi secara lebih kontekstual.
“Kehadiran E-Gamelan menjadi jembatan untuk menjadikan materi bunyi yang abstrak lebih mudah dipahami secara interaktif dan menyenangkan,” ujar Weni usai diwisuda, dikutip dari situs Unesa.
Perangkat tersebut juga menyesuaikan pembelajaran dengan Kurikulum Merdeka, pendekatan STEAM, serta pembelajaran kontekstual.
Melalui pendekatan etnosains, siswa tidak hanya mempelajari konsep ilmiah. Mereka juga dapat mengenali hubungan antara ilmu pengetahuan, lingkungan, dan budaya yang berkembang di masyarakat.
E-Gamelan Dorong Siswa Lebih Aktif Belajar
Hasil penelitian Weni menunjukkan respons positif terhadap penggunaan perangkat pembelajaran tersebut. Siswa menjadi lebih antusias ketika mengikuti proses belajar.
Selain itu, kegiatan pembelajaran mendorong siswa untuk berdiskusi dan mengeksplorasi materi. Mereka juga memperoleh kesempatan memahami konsep bunyi melalui pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut membuat pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori. Sebaliknya, siswa dapat menghubungkan konsep sains dengan objek budaya yang mereka kenal.
Dengan demikian, E-Gamelan menjadi contoh bahwa teknologi digital dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal.
Tesis Dikerjakan Dini Hari, Tetap Mengajar di Sekolah
Di balik pencapaian tersebut, Weni menghadapi tantangan dalam membagi waktu. Selama menempuh pendidikan S2, ia tetap menjalankan tugas sebagai guru di SMKN 1 Nganjuk.
Pada saat yang sama, Weni juga harus membagi waktu untuk keluarga. Ia menjalankan perannya sebagai istri dan ibu sambil menyelesaikan berbagai tuntutan akademik.
Rutinitas menyusun tesis bahkan kerap berlangsung hingga dini hari. Weni terbiasa bangun sekitar pukul 01.00 untuk melaksanakan salat malam. Setelah itu, ia melanjutkan pekerjaan tesis hingga menjelang waktu subuh.
Usai menyelesaikan pekerjaan akademik, ia kembali menjalankan rutinitas keluarga sebelum berangkat mengajar.
Dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan Weni selama menjalani masa studi. Suami dan anak-anaknya terus memberikan dukungan selama proses penyelesaian pendidikan.
Kedua anak Weni juga menjadi sumber inspirasi. Keduanya memiliki prestasi di bidang seni, termasuk musik tradisional dan mendongeng.
Aktif Membina Siswa di SMKN 1 Nganjuk
Aktivitas Weni tidak berhenti pada kegiatan mengajar. Di SMKN 1 Nganjuk, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan siswa.
Weni menjadi pembina OSIS, Pramuka, dan ekstrakurikuler karawitan. Ia juga rutin mengikuti pelatihan serta seminar untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas pembelajaran.
Di luar lingkungan sekolah, Weni turut mendirikan TPQ Ar Rahman sebagai lembaga pendidikan untuk pembelajaran Al-Qur’an.
Berbagai aktivitas tersebut menunjukkan peran Weni sebagai pendidik yang tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik di kelas. Ia juga aktif mendampingi siswa dalam berbagai bidang.
Budaya Lokal Bisa Jadi Sumber Belajar Sains
Pengembangan E-Gamelan memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus meninggalkan budaya lokal. Justru, budaya dapat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan konsep pembelajaran yang dianggap sulit.
Dalam kasus E-Gamelan, gamelan menjadi media untuk membantu siswa memahami materi bunyi. Pendekatan itu sekaligus membuka ruang bagi siswa untuk mengenal dan menghargai kekayaan budaya Indonesia.
Bagi Weni, pengalaman tersebut memperkuat keyakinan bahwa pembelajaran sains dapat dibuat lebih inovatif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan siswa.
Ke depan, ia ingin terus mengembangkan metode pembelajaran berbasis budaya lokal. Weni juga berharap hasil penelitiannya dapat diterapkan lebih luas sehingga memberi manfaat bagi guru dan peserta didik di berbagai daerah.


