TFH dan FPCI Ajak Mahasiswa Indonesia Berperan dalam Kebijakan AI
Jakarta (educare.co.id) – Tools for Humanity (TFH), perusahaan teknologi global yang mengembangkan protokol World, berkolaborasi dengan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) untuk mendorong partisipasi mahasiswa dalam pengembangan kebijakan kecerdasan buatan (AI) di masa depan. Inisiatif ini diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman antara kedua organisasi, disertai dengan peluncuran kompetisi esai nasional.
Kompetisi ini bertujuan untuk membekali generasi muda Indonesia dengan wawasan serta keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi perkembangan AI. Peserta diharapkan dapat mengeksplorasi berbagai aspek AI, termasuk pengembangannya yang etis, kepercayaan digital, serta ancaman seperti deepfake dan pencurian identitas. Salah satu tema utama dalam kompetisi ini adalah konsep “Proof of Human,” teknologi inovatif untuk membedakan manusia dengan bot dalam era digital yang semakin maju.
Founder dan Chairman FPCI, Dino Patti Djalal, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memastikan pengembangan AI yang sejalan dengan tujuan pembangunan nasional. “AI menyediakan peluang transformatif bagi Indonesia. Kemitraan ini akan memberdayakan generasi muda untuk terlibat secara lebih mendalam menghadapi peluang dan tantangan AI, serta membentuk kebijakan yang mencerminkan nilai dan aspirasi bangsa. Sebagai langkah konkret, FPCI membentuk Unit AI untuk memperdalam pemahaman tentang peran AI dalam kebijakan luar negeri,” Ujarnya.
Sementara itu, Chief Policy Officer TFH, Nick Pickles, menegaskan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap Indonesia. “Kami sangat antusias mendukung generasi muda Indonesia untuk berpartisipasi dalam diskusi strategis mengenai AI. Kami berharap kompetisi ini membekali mereka dengan wawasan dan jaringan yang diperlukan untuk berperan aktif dalam perkembangan AI secara global,” kata Pickles.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, yang turut hadir dalam penandatanganan nota kesepahaman, menyambut baik inisiatif ini. “Kita harus mengantisipasi kemajuan teknologi dengan teknologi. Pendekatan TFH yang mengutamakan privasi, keamanan, dan transparansi menjadi contoh penting bagaimana AI dapat diintegrasikan dengan kepercayaan dan integritas,” ujarnya. Ia juga memverifikasi profil World ID miliknya, yang merupakan bentuk digital dari ‘Proof-of-Human’ buatan World.
Selain kompetisi esai, TFH memiliki misi global dalam menciptakan akses digital tepercaya bagi komunitas di seluruh dunia. Salah satu inovasi utamanya, protokol World, memungkinkan individu untuk memverifikasi identitas mereka sebagai manusia di ranah digital, sejalan dengan upaya Indonesia dalam memerangi misinformasi dan membangun ekosistem digital yang lebih kredibel.
Kompetisi ini dijadwalkan dimulai pada Februari 2025, dengan tahapan seleksi di universitas sebelum menuju babak semifinal dan final di Jakarta pada akhir tahun. Lima finalis terbaik akan mendapatkan hadiah uang tunai serta kesempatan bertemu dengan para pendiri dan eksekutif TFH, memperkuat hubungan Indonesia dengan ekosistem AI global.
Melalui inisiatif ini, TFH dan FPCI berharap dapat meningkatkan literasi AI di kalangan generasi muda serta memastikan Indonesia menjadi pemain utama dalam transformasi digital dan diskusi global mengenai AI.
