EDUCARE.CO.ID – Pemerintah mempercepat penguatan layanan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperluas akses pendidikan bagi lebih dari 164 ribu murid difabel dengan memperbaiki sarana, prasarana, dan kualitas pembelajaran di sekolah luar biasa (SLB).
Berdasarkan sumber rilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, langkah ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman revitalisasi SLB tahun 2026 serta peresmian sekolah hasil revitalisasi tahun 2025 yang dipusatkan di SLB Tunas Bakti, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (12/8/2026).
SLB Tunas Bakti Jadi Titik Awal Penguatan Layanan Inklusif
SLB Tunas Bakti saat ini melayani 83 murid dari empat kecamatan dengan dukungan 14 guru dan seorang kepala sekolah. Sebelum revitalisasi, sekolah menghadapi berbagai kendala, mulai dari atap bocor saat hujan, dinding yang kusam, hingga keterbatasan ruang praktik keterampilan.
Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan, konsentrasi, dan keselamatan belajar peserta didik. Karena itu, pemerintah memprioritaskan perbaikan menyeluruh agar lingkungan belajar menjadi lebih aman dan ramah disabilitas.
71 Ribu Sekolah Direvitalisasi pada 2026
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa Kemendikdasmen menargetkan revitalisasi 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia pada tahun 2026. Dari jumlah tersebut, 114 SLB yang membina 164.294 murid difabel masuk dalam skema prioritas.
Selain memperbaiki bangunan sekolah, pemerintah juga menambah tiga unit Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital di setiap sekolah penerima bantuan tahun ini. Selanjutnya, Kemendikdasmen menyelenggarakan pelatihan pendampingan bagi lebih dari 1.500 guru pendidikan inklusif untuk memperkuat kualitas proses belajar mengajar.
“Layanan pendidikan untuk SLB dan sekolah inklusi merupakan komitmen kami dalam menjalankan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Anak-anak ini memiliki potensi luar biasa yang harus kita fasilitasi secara bermakna,” tegas Abdul Mu’ti.
DPR Nilai Revitalisasi sebagai Investasi Jangka Panjang
Ketua Komisi X DPR RI Siti Hediati Soeharto mengapresiasi langkah cepat Kemendikdasmen dalam menerjemahkan komitmen pemerintah menjadi tindakan nyata di lapangan.
Menurutnya, perbaikan fasilitas SLB bukan sekadar renovasi bangunan, melainkan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang mandiri dan berdaya saing.
“Perbaikan fasilitas SLB adalah investasi pendidikan jangka panjang bagi masa depan anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.
DIY Tegaskan Komitmen Tidak Ada Anak Tertinggal
Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta juga menegaskan dukungannya terhadap program ini. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY Raden Suci Rohmadi menilai revitalisasi SLB menjadi bukti komitmen bersama agar tidak ada anak yang tertinggal dari layanan pendidikan berkualitas.
Ia menambahkan bahwa pendidikan inklusif harus menghadirkan penerimaan, kesempatan, dan keberpihakan tanpa diskriminasi.
Perbaikan Menyeluruh untuk Lingkungan Belajar Ramah Disabilitas
Di SLB Tunas Bakti, pemerintah melakukan beberapa intervensi utama, antara lain:
- rehabilitasi total enam ruang kelas,
- pembangunan ruang keterampilan tata boga lengkap dengan fasilitas pendukung,
- penataan area aktivitas luar ruang yang aman bagi murid berkebutuhan khusus,
- dan pengecatan ulang seluruh gedung sekolah.
Pemerintah berharap langkah tersebut menciptakan lingkungan belajar yang higienis, aman, dan adaptif terhadap kebutuhan tumbuh kembang peserta didik.
Guru dan Murid Sambut Semangat Baru
Kepala SLB Tunas Bakti Amrih Handayani mengaku bersyukur atas bantuan revitalisasi yang diterima sekolahnya. Menurutnya, perubahan fasilitas menghadirkan semangat baru bagi guru dan murid.
“Anak-anak sekarang bisa belajar dan mengembangkan bakat di lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan menyenangkan,” katanya.
Selain penandatanganan revitalisasi, kegiatan juga mencakup penyerahan alat pelindung diri bagi pekerja proyek serta peninjauan langsung kelas dan karya murid.
Bantuan Revitalisasi di DIY dan Nasional Terus Bertambah
Pada tahun 2025, Kemendikdasmen telah merevitalisasi empat SLB di DIY, yaitu SLBN 2 Bantul, SLB Islam Qotrunnada, SLB Ma’arif, dan SLB PGRI Trimulyo. Sementara itu, revitalisasi tahun 2026 menjangkau SLB Tunas Bakti, SLB Pamardi Putra, dan SLB Bina Anggita.
Secara nasional, hingga Juli 2026 program revitalisasi telah menjangkau 1.609 satuan pendidikan dengan total nilai bantuan sekitar Rp2,02 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk PKBM, SKB, SLB, dan SMK di berbagai daerah Indonesia.
Kemendikdasmen berharap percepatan revitalisasi ini memperkuat layanan pendidikan inklusif sekaligus memastikan setiap anak, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan belajar yang setara dan bermutu.



