EDUCARE.CO.ID – Bagaimana cara membuat anak-anak tertarik membaca naskah kuno? Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memilih pendekatan kreatif. Lembaga tersebut mengubah isi sembilan kelompok naskah kuno Nusantara menjadi 50 buku anak dan komik.
Langkah ini membuat warisan sejarah hadir dalam bentuk bacaan yang lebih dekat dengan generasi muda. Selain itu, anak-anak dapat mengenal cerita, budaya, dan kearifan lokal melalui media visual yang lebih komunikatif.
Berdasarkan sumber laman resmi Puspresnas, sembilan kelompok naskah tersebut mencakup Desawarnana, Hikayat Aceh, I La Galigo, Peto Syarif, Siksa Kandang Karesian, Sutasoma, Syekh Yusuf, Tuanku Imam Bonjol, dan Panji Kuda Semirang.
Dari sembilan kelompok tersebut, tim menghasilkan 38 buku anak bergambar, dua chapter book, dan 10 komik. Khusus naskah Syekh Yusuf, tim mengembangkan delapan judul.
Perpusnas Bawa Naskah Kuno ke Dunia Anak
Perpusnas ingin membuat warisan dokumenter lebih mudah dikenali generasi muda. Karena itu, lembaga tersebut menggandeng berbagai pihak dalam proses pengembangan buku dan komik.
Direktur Kantor Regional UNESCO di Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, transformasi naskah dapat membuka akses baru bagi generasi muda.
“Saat ini, Perpusnas melanjutkan warisan tersebut dengan mentransformasikan catatan menjadi format yang lebih mudah diakses oleh generasi muda termasuk penerbitan 50 buku anak dan komik, serta 25 adaptasi Babad Diponegoro dalam Bahasa Inggris,” ujar Maki, dikutip dari laman Puspresnas, Kamis (24/9/2026).
Maki juga menyoroti kolaborasi antara Perpusnas, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan pihak lain yang terlibat dalam proyek tersebut.
Menurutnya, kerja sama tersebut dapat mengubah warisan dokumenter menjadi pengetahuan yang terus berkembang.
Karena itu, ia mendorong semua pihak menjaga naskah, arsip, dan rekaman sejarah agar tetap bermanfaat bagi generasi berikutnya.
“Bersama, kita dapat memastikan bahwa naskah, arsip, dan rekaman tetap menjadi sumber pembelajaran, kreativitas, dan dialog yang hidup bagi generasi mendatang,” katanya.
Buku Anak Jadi Jembatan Kenalkan Sejarah
Kepala Perpusnas E Aminudin Aziz menjelaskan alasan lembaganya memilih buku anak dan komik sebagai media alih wahana.
Perpusnas bekerja sama dengan ITB, terutama Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain. Kolaborasi tersebut membantu tim mengemas kekayaan sejarah dan budaya Nusantara melalui pendekatan visual.
Aminudin ingin anak-anak mengenal identitas bangsanya sejak dini. Menurutnya, pemahaman tersebut dapat tumbuh melalui bacaan yang dekat dengan dunia mereka.
“Tujuan penerbitan ini sangatlah jelas, bahwa kami ingin anak-anak di tanah air lebih mengenal jati diri dan sejarah bangsanya sendiri, sekaligus menjadikan karya ini sebagai jembatan untuk memperkenalkan mahakarya intelektual dan warisan Nusantara kita kepada dunia internasional,” ujar Aminudin.
Selain itu, Aminudin menegaskan bahwa bentuk baru tersebut tidak menghilangkan nilai dalam naskah asli.
Justru, pendekatan kreatif membantu pembaca memahami pesan sejarah dan budaya dengan cara yang lebih menarik. Anak-anak juga dapat mengenali cerita lama tanpa harus langsung berhadapan dengan bahasa dan aksara yang sulit mereka pahami.
Cerita Panji Jadi Contoh Warisan yang Kaya Nilai
Salah satu contoh yang mendapat perhatian ialah cerita Panji. Warisan tersebut tercatat sebagai Memory of the World (MoW) UNESCO.
Menurut Aminudin, cerita Panji menyimpan banyak pelajaran yang dapat dikenalkan kepada anak-anak.
“Misalnya cerita Panji yang menjadi MoW UNESCO, dari situ banyak pelajaran yang bisa diambil. Dengan kata lain, kita fokus kepada penyediaan bahan bacaan anak karena kita ingin membangun kecakapan literasi anak-anak sejak dini,” tuturnya.
Melalui buku anak dan komik, Perpusnas ingin menjadikan cerita tersebut sebagai bagian dari pengalaman membaca anak.
Dengan begitu, literasi tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca teks. Anak juga dapat mengenal sejarah dan budaya melalui cerita yang mereka nikmati.
Pelestarian Tidak Berhenti di Digitalisasi
Perpusnas selama ini menjalankan berbagai proses untuk menjaga keberadaan naskah kuno. Proses tersebut mencakup identifikasi, pendaftaran, dan digitalisasi koleksi.
Namun, Aminudin melihat satu hal penting. Pengetahuan dalam naskah juga perlu menjangkau lebih banyak pembaca.
Karena itu, alih wahana menjadi bagian dari proses pelestarian. Perpusnas tidak hanya menjaga bentuk fisik naskah, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mengenal isi dan nilai di dalamnya.
Pendekatan tersebut membuat proses pelestarian bergerak lebih jauh. Setelah menjaga dokumen, lembaga juga mengajak masyarakat membaca dan mempelajari pengetahuannya.
Naskah Kuno Rekam Kehidupan Masyarakat Masa Lalu
Dosen ITB sekaligus Ketua Tim Produksi Buku Bacaan Anak dan Komik Naskah IKON dan MoW, Riama Maslan Sihombing, melihat naskah kuno dari sudut yang lebih luas.
Menurut Riama, naskah kuno bukan sekadar benda lama. Dokumen tersebut merekam kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Melalui naskah, masyarakat dapat mempelajari berbagai aspek kehidupan. Isinya mencakup persoalan kekuasaan, kehidupan sosial, budaya, hingga spiritualitas.
Akan tetapi, generasi muda menghadapi tantangan ketika ingin membaca naskah secara langsung.
Bahasa dan aksara lama tidak selalu mereka kenal. Selain itu, konteks sosial dalam cerita juga berbeda dengan kehidupan saat ini.
Tokoh-tokoh dalam naskah pun belum tentu langsung mereka kenali. Akibatnya, isi naskah dapat terasa jauh dari kehidupan anak-anak masa kini.
“Naskah dapat tetap terjaga secara material, sementara hubungan generasi berikutnya dengan pengetahuan di dalamnya perlahan mungkin terputus. Bahasa dan aksaranya mungkin tidak lagi akrab, konteks sosialnya terasa berbeda, dan tokoh-tokohnya tidak selalu mudah dikenali oleh anak-anak hari ini,” jelas Riama.
Karena itu, tim menggunakan pendekatan visual untuk membantu mempertemukan pengetahuan lama dengan pembaca baru.
Alih Wahana Bantu Sebarkan Nilai Naskah
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Jasa Informasi dan Naskah Nusantara Perpusnas, Yeri Nurita, menegaskan tujuan lain dari proyek tersebut.
Menurut Yeri, alih wahana tidak bertujuan mengubah nilai atau menghilangkan keaslian naskah. Tim justru menggunakan format baru agar pesan di dalam naskah dapat menjangkau lebih banyak orang.
Buku anak dan komik menawarkan cara yang lebih komunikatif. Visual, karakter, dan alur cerita dapat membantu anak memahami pesan tanpa menghilangkan konteks utama.
“Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kegemaran membaca dan memperkuat kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan budaya bangsa,” kata Yeri.
Dengan pendekatan tersebut, naskah kuno tidak hanya menjadi koleksi yang tersimpan. Isinya dapat terus masuk ke ruang belajar dan aktivitas membaca anak.
Dari Naskah Lama Menjadi Bacaan Generasi Baru
Pengembangan 50 buku anak dan komik menunjukkan cara baru dalam menjaga warisan intelektual Nusantara.
Perpusnas tidak hanya menyimpan naskah. Lembaga tersebut juga mengembangkan cara agar generasi muda mau membaca dan mengenal isinya.
Sementara itu, kolaborasi dengan ITB membantu menghadirkan pendekatan desain yang lebih dekat dengan karakter pembaca anak.
UNESCO juga melihat proyek tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga warisan dokumenter agar tetap relevan.
Pada akhirnya, cerita dari I La Galigo, Sutasoma, Hikayat Aceh, Panji, Syekh Yusuf, dan berbagai naskah lainnya dapat menemukan pembaca baru.
Anak-anak pun memiliki kesempatan mengenal sejarah melalui buku bergambar dan komik. Dengan cara ini, warisan Nusantara tidak hanya bertahan sebagai dokumen masa lalu.
Sebaliknya, pengetahuan tersebut dapat terus menjadi sumber belajar, kreativitas, dan inspirasi bagi generasi berikutnya.

