EDUCARE.CO.ID – Siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC) Gowa kembali mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. Siswi MAN Insan Cendekia Gowa, Salwa Salsabila, mempresentasikan riset terapi alternatif penyembuhan luka bakar pada International Conference on Exercise, Health & Physiology (ICEHP) dan Indonesian Physiological Society Annual Meeting (IPSAM) 2026 di Institut Teknologi Bandung (ITB), 2–3 Juli 2026.
Berdasarkan sumber Kemenag, penelitian tersebut merupakan karya Salwa Salsabila, siswi kelas XII A. Ia mengangkat inovasi pemanfaatan platelet-rich plasma (PRP) atau plasma kaya trombosit serta ekstrak sirih merah (Piper crocatum) sebagai alternatif untuk membantu penyembuhan luka bakar derajat dua.

Bandingkan Gel dan Krim untuk Terapi Luka Bakar
Melalui makalah berjudul Wound Repair Physiology Shaped by Delivery Base: Bovine PRP and Piper crocatum Extract in Gel versus Cream Formulations on Second Degree Burn Healing, Salwa menguji efektivitas plasma kaya trombosit sapi dan ekstrak sirih merah dalam dua bentuk sediaan, yaitu gel dan krim.
Penelitian tersebut bertujuan mengetahui bentuk sediaan yang memberikan hasil terbaik dalam proses penyembuhan luka bakar derajat dua. Panitia memilih riset tersebut sebagai full paper, lalu memberikan kesempatan kepada Salwa untuk mempresentasikannya secara langsung di forum ilmiah internasional.
Salwa mengaku sempat merasa tidak percaya diri saat mengikuti seleksi. Namun, ia akhirnya berhasil membuktikan bahwa siswa madrasah mampu bersaing di tingkat global.
“Awalnya saya tidak yakin bisa bersaing, tetapi pengalaman ini membuktikan bahwa siswa MA juga mampu tampil di konferensi internasional jika mau berusaha dan mendapat bimbingan yang tepat,” ujar Salwa.
Raih Penghargaan Best Presentation
Keberhasilan Salwa tidak berhenti pada kesempatan presentasi. Ia tampil sebagai oral presenter di hadapan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi kesehatan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, hingga Jerman.
Penampilannya mendapat apresiasi tinggi dari dewan penilai. Salwa pun meraih penghargaan 1st Place Best Presentation pada kategori mahasiswa dan pelajar.
School of Pharmacy ITB bersama Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar forum ilmiah tersebut dengan melibatkan 213 peserta dari lima negara. Sebanyak 93 peserta mempresentasikan hasil penelitian mereka, sedangkan 120 peserta lainnya mengikuti konferensi sebagai nonpresenter.
Budaya Riset Jadi Kunci Prestasi
Kepala MAN IC Gowa, Burhanuddin, menjelaskan bahwa budaya riset yang terus berkembang di madrasah menjadi kunci keberhasilan tersebut.
Ia mengatakan sekolah mendorong siswa melakukan penelitian berbasis eksperimen sejak masih duduk di bangku sekolah. Program tersebut melatih peserta didik menyusun karya ilmiah, menganalisis data, hingga mempresentasikan hasil penelitian secara profesional.
Menurut Burhanuddin, budaya riset memberi bekal penting bagi siswa untuk menghadapi tantangan akademik maupun dunia kerja pada masa depan.
Guru Dampingi Proses Penelitian Secara Bertahap
Guru pembimbing Ayu Mutmainnah Halim menuturkan bahwa tim guru mendampingi seluruh proses penelitian secara sistematis.
Ia bersama tim menyusun jadwal penelitian, membagi tugas eksperimen, mengevaluasi perkembangan setiap pekan, serta membantu penyempurnaan hasil riset sebelum dikirim ke konferensi.
Ayu menilai pendekatan tersebut membuat siswa belajar mengelola waktu, meningkatkan tanggung jawab, sekaligus membangun kemampuan berpikir ilmiah.
“Guru cukup menjadi jembatan. Anak-anak kita memiliki potensi besar ketika sekolah memberi mereka ruang dan kepercayaan,” kata Ayu.
Pengalaman Internasional Jadi Motivasi
Bagi Salwa, kesempatan tampil di forum ilmiah internasional memberikan pengalaman yang sangat berharga. Ia belajar mempertanggungjawabkan setiap hasil penelitian menggunakan data ilmiah, bukan sekadar asumsi.
“Gagal di lab itu wajar, yang penting catat dan perbaiki. Forum ini mengajari saya menjawab dengan data, bukan asumsi,” ungkapnya.
Sementara itu, Burhanuddin berharap keberhasilan tersebut memotivasi semakin banyak siswa madrasah untuk mengembangkan budaya penelitian sejak dini.
Ia menegaskan bahwa riset tidak harus menunggu jenjang perguruan tinggi. Rasa ingin tahu, kedisiplinan, dan pendampingan guru mendorong siswa madrasah menghasilkan karya ilmiah yang mendapat pengakuan internasional sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.




