EDUCARE.CO.ID – Perjalanan hidup Safiq Raif Muzaffar membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Murid SMP Luar Biasa (SMPLB) Islam Qotrunnada Yogyakarta itu sukses meraih Juara 1 Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) bidang Seni Lukis tingkat nasional setelah melalui perjuangan panjang sejak masa sekolah dasar.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan yang tepat mampu membuka potensi setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Safiq berhasil mengungguli 38 peserta dari berbagai provinsi melalui karya bertema “Semarak Kesenian Pesta Rakyat Yogyakarta” yang memadukan kekayaan budaya dengan sentuhan artistik yang kuat.
Berdasarkan sumber rilis Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Ditjen Dikmen Diksus), Safiq memikat perhatian dewan juri melalui karya bertema pesta rakyat Yogyakarta yang menampilkan komposisi warna, detail visual, dan ekspresi budaya yang kuat.
“Saya sudah senang melukis sejak kecil dan akan terus belajar melukis sampai kapan pun,” ujar Safiq.
Berawal dari Penolakan di Sekolah
Safiq tidak meraih kesuksesan secara instan. Sebelum bergabung dengan SLB Islam Qotrunnada, ia sempat bersekolah di sekolah inklusi umum. Namun, keterbatasan pendengaran membuat Safiq sulit berkomunikasi dengan guru dan teman sehingga proses belajarnya belum optimal.
Akibat kondisi tersebut, Safiq pernah tinggal kelas saat duduk di kelas satu. Setelah itu, sekolah juga tidak menaikkannya ketika berada di kelas tiga.
Guru SLB Islam Qotrunnada sekaligus Pembina Yayasan Islam Nur Aini, Tri Purwanti, mengatakan perjalanan Safiq penuh tantangan sejak kecil.
“Safiq tidak meraih keberhasilan dalam semalam. Ia sudah berjuang sejak masih kecil,” ujar Tri.
Menurut Tri, ketika masih bersekolah di sekolah sebelumnya, Safiq hanya mampu menyalin tulisan dari papan tulis tanpa benar-benar memahami isi pelajaran.
Melihat perkembangan anaknya yang tidak maksimal, sang ibu kemudian mencari sekolah yang lebih sesuai. Atas rekomendasi tetangga, keluarga akhirnya memindahkan Safiq ke SLB Islam Qotrunnada saat masih duduk di kelas tiga SD.
Keputusan itu menjadi titik balik yang mengubah perjalanan hidup Safiq.
Bakat Melukis Terasah di SLB
Setelah Safiq bergabung dengan SLB Islam Qotrunnada, para guru segera melihat potensi besarnya di bidang seni rupa.
Awalnya, Safiq gemar menggambar karakter kartun. Namun, guru melihat kemampuan komposisi gambar dan detail visual yang jauh di atas rata-rata.
Karena itu, sekolah memberikan pendampingan secara intensif agar kemampuan tersebut berkembang lebih maksimal.
“Di sekolah lama dia tidak berkembang. Setelah masuk SLB Qotrunnada, Safiq menjadi lebih mandiri. Dia juga belajar menjahit dan kemampuan melukisnya berkembang sangat pesat,” jelas Tri.
Pada awalnya, Safiq hanya menggunakan krayon sebagai media berkarya. Seiring waktu, ia mulai mempelajari teknik melukis menggunakan cat di atas kanvas serta menguasai penggunaan pisau palet (palette knife).
Selain itu, guru juga membimbingnya memahami gradasi warna, komposisi visual, hingga teknik melukis yang lebih kompleks.
Tetap Berlomba Meski Baru Keluar dari Rumah Sakit
Safiq juga menghadapi berbagai tantangan berat sebelum meraih gelar juara nasional.
Beberapa hari sebelum mengikuti seleksi tingkat provinsi, ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit.
“Lima hari sebelum lomba, Safiq masih menjalani perawatan di rumah sakit. Bahkan malam sebelum lomba, dokter baru melepas infusnya, lalu ia langsung berangkat ke Yogyakarta. Saat melukis, wajahnya masih pucat dan tangannya masih gemetar,” tutur Tri.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat Safiq untuk memberikan penampilan terbaik.
Konsisten Berprestasi Hingga Juara Nasional
Prestasi Safiq berkembang secara bertahap dari tahun ke tahun.
Saat masih duduk di bangku SDLB, ia tiga kali lolos ke FLS2N tingkat nasional.
Pada kesempatan pertama ia meraih Juara Harapan II. Berikutnya ia meningkatkan pencapaiannya menjadi Juara Harapan I. Kini, saat berstatus murid SMPLB, Safiq berhasil menyabet Juara 1 Nasional.
Capaian tersebut menunjukkan hasil dari latihan yang konsisten, pendampingan guru, serta dukungan penuh dari keluarga.
Kini Mulai Belajar Seni Digital
Meski telah meraih prestasi nasional, Safiq tidak berhenti mengembangkan kemampuannya.
Saat ini ia mulai mempelajari desain grafis, menggambar komik, hingga teknik ilustrasi digital menggunakan pen tablet.
Di sisi lain, Safiq juga memperdalam pendidikan agama dengan tinggal di Pondok Pesantren Hibatullah Yogyakarta yang khusus membina anak tuli.
Perjalanan Safiq menjadi bukti bahwa kesempatan belajar yang tepat mampu membuka jalan bagi anak berkebutuhan khusus untuk meraih prestasi hingga tingkat nasional.



