Sering Scroll TikTok dan Reels? Waspadai Fenomena Brain Rot pada Pelajar

Must read

EDUCARE.CO.ID – Maraknya video berdurasi singkat di berbagai platform media sosial membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi dan hiburan. Namun, di balik kemudahan tersebut, para ahli mulai menyoroti fenomena brain rot, yaitu kebiasaan mengonsumsi konten digital ringan secara berlebihan yang berpotensi menurunkan kemampuan fokus dan mengubah kebiasaan belajar.

Oxford University Press menetapkan istilah brain rot sebagai Oxford Word of the Year 2024, sehingga fenomena ini semakin menarik perhatian publik. Istilah tersebut menggambarkan pola konsumsi konten digital yang berlangsung terus-menerus, minim tantangan intelektual, dan berisiko menurunkan kualitas konsentrasi serta kemampuan berpikir mendalam.

Berdasarkan berbagai kajian serta informasi dari Oxford University Press dan UNESCO, brain rot bukan merupakan diagnosis medis. Para ahli menggunakan istilah tersebut untuk menjelaskan perubahan perilaku digital yang dapat memengaruhi cara seseorang belajar apabila seseorang tidak membangun kebiasaan digital yang sehat.

Mengapa Banyak Orang Sulit Lepas dari Konten Pendek?

Psikolog menjelaskan bahwa otak manusia menyukai rangsangan baru. Setiap kali seseorang menggulir video pendek, otak menerima informasi baru dalam waktu singkat sehingga memicu rasa ingin terus melihat konten berikutnya.

Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, seseorang bisa terbiasa memperoleh hiburan secara instan. Akibatnya, seseorang lebih sulit membaca buku, mengikuti pelajaran, atau mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu lama.

Para pakar menegaskan bahwa penyebab utama bukan terletak pada teknologi, melainkan pada pola penggunaan yang kurang seimbang.

Dampak Brain Rot terhadap Pelajar

Kemampuan berkonsentrasi menjadi salah satu faktor penting dalam proses belajar. Ketika perhatian mudah teralihkan, pelajar akan lebih sulit memahami materi dan menyelesaikan tugas secara optimal.

Konsumsi konten digital secara berlebihan dapat menimbulkan beberapa dampak berikut:

  • Sulit mempertahankan fokus saat membaca buku.
  • Mudah terganggu oleh notifikasi ponsel.
  • Minat membaca bacaan panjang menurun.
  • Lebih sulit mengingat informasi karena terlalu cepat berpindah dari satu konten ke konten lain.
  • Kemampuan berpikir kritis dan mendalam ikut berkurang.

UNESCO juga menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis tetap menjadi keterampilan penting di era digital. Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu berjalan seimbang dengan kebiasaan belajar yang mampu melatih analisis dan pemahaman.

Teknologi Tetap Memberikan Manfaat

Para pakar pendidikan menilai teknologi bukan penyebab utama menurunnya konsentrasi. Pengguna tetap bisa memperoleh manfaat dari video pendek jika menggunakannya secara bijak.

Konten singkat dapat membantu menjelaskan materi dengan cepat, mempermudah pemahaman konsep tertentu, dan menjadi media pembelajaran yang menarik. Masalah mulai muncul ketika seseorang menghabiskan lebih banyak waktu untuk menggulir media sosial daripada membaca, berdiskusi, atau belajar secara mendalam.

Cara Menjaga Fokus Belajar di Era Digital

Pelajar dapat menerapkan beberapa kebiasaan sederhana agar tetap produktif di tengah derasnya arus informasi digital, antara lain:

  • Membatasi waktu bermain media sosial setiap hari.
  • Menonaktifkan notifikasi ketika belajar.
  • Membiasakan membaca buku atau artikel yang lebih panjang.
  • Menggunakan metode Pomodoro, yaitu belajar selama 25 menit lalu beristirahat selama 5 menit.
  • Memanfaatkan media sosial sebagai sarana belajar, bukan sekadar hiburan.

Selain itu, orang tua dan guru juga berperan penting dalam mendampingi penggunaan gawai. Pendampingan yang tepat dapat membantu anak membangun kebiasaan digital yang sehat tanpa harus menjauh dari perkembangan teknologi.

Bijak Menggunakan Teknologi

Kemajuan teknologi akan terus menghadirkan berbagai inovasi yang memudahkan kehidupan. Namun, setiap individu tetap perlu mengelola cara menggunakan teknologi agar tidak mengganggu proses belajar.

Menyeimbangkan waktu antara membaca, belajar, berinteraksi secara langsung, dan menggunakan media sosial menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran.

Fenomena brain rot menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk berkembang, bukan penghambat dalam meraih prestasi. Dengan penggunaan yang bijak, generasi muda dapat tetap memanfaatkan teknologi sekaligus mempertahankan kemampuan berpikir kritis, fokus, dan kreatif.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article

spot_img