Sekolah Rusak Akibat Gempa NTT, 2.000 Paket dan 50 Tenda Darurat Dikirim

Must read

EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat dukungan bagi sekolah dan warga pendidikan yang terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kali ini, Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) mengirim perlengkapan sekolah, kebutuhan keluarga, hingga tenda kelas darurat.

Direktorat PKPLK mengirim bantuan melalui Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Minggu (23/8/2026). Bantuan tersebut mencakup sekitar 2.000 paket perlengkapan dan seragam sekolah serta makanan ringan untuk siswa SMA, SMK, dan SMALB yang terdampak gempa.

Berdasarkan sumber Direktorat PKPLK Kemendikdasmen, bantuan tersebut menyasar penyintas di Kabupaten Nagekeo. Pemerintah menyiapkan bantuan agar siswa tetap memiliki perlengkapan untuk mengikuti pembelajaran di tengah kondisi pascabencana.

2.000 Paket Sekolah Dikirim ke Nagekeo

Direktur PKPLK Kemendikdasmen, Saryadi, mengatakan pengiriman bantuan menjadi bentuk kepedulian keluarga besar pendidikan terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

Menurut Saryadi, kebutuhan para penyintas tidak hanya berkaitan dengan pemulihan bangunan sekolah. Anak-anak juga membutuhkan perlengkapan untuk kembali mengikuti kegiatan belajar.

“Hari ini, kami mengirimkan bantuan sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas keluarga besar pendidikan,” kata Saryadi dalam keterangan terkait pengiriman bantuan.

Selain perlengkapan dan seragam sekolah, Direktorat PKPLK juga mengirim 1.000 family kit untuk keluarga terdampak serta 200 school kit yang berisi kebutuhan sekolah dan makanan ringan.

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar anak dan keluarga selama masa pemulihan.

Kemendikdasmen Siapkan 50 Tenda Kelas Darurat

Kemendikdasmen tidak hanya mengirim perlengkapan sekolah. Direktorat PKPLK juga menyiapkan 50 tenda ruang kelas darurat.

Tenda tersebut dapat menjadi ruang belajar sementara bagi sekolah yang belum bisa menggunakan ruang kelas akibat kerusakan atau kondisi lingkungan yang belum pulih.

Dengan ruang belajar sementara, siswa tetap dapat bertemu guru dan mengikuti kegiatan pembelajaran dalam lingkungan yang lebih aman.

Saryadi menegaskan bahwa pemerintah ingin menjaga agar proses pendidikan tetap berjalan meskipun bencana mengganggu aktivitas sekolah.

“Bantuan berupa tenda darurat untuk kegiatan pembelajaran dikirimkan sebagai bagian dari upaya memastikan proses pendidikan tetap berlangsung di tengah situasi darurat,” ujarnya.

Guru dan Murid Dapat Pendampingan Psikososial

Pemulihan pendidikan tidak hanya membutuhkan ruang kelas dan perlengkapan sekolah. Kondisi psikologis guru dan siswa juga menjadi perhatian.

Karena itu, Direktorat PKPLK bekerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk memberikan pendampingan psikososial kepada guru dan murid yang terdampak gempa.

Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya membantu warga sekolah menghadapi dampak bencana sekaligus kembali menjalankan aktivitas pembelajaran.

Saryadi mengatakan Direktorat PKPLK juga menggandeng berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan layanan pendidikan.

“Kami bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam mempercepat pemulihan layanan pendidikan,” tambahnya.

Kolaborasi tersebut mencakup distribusi bantuan serta pendampingan bagi guru dan siswa dalam menjalankan pembelajaran darurat dan proses pemulihan.

Ribuan Ruang Kelas Terdampak Gempa NTT

Besarnya kebutuhan bantuan terlihat dari data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) per 20 Agustus 2026.

Data tersebut mencatat 1.268 dari 1.378 satuan pendidikan terdampak telah melaporkan kondisi sekolah. Angka itu setara dengan sekitar 92 persen dari total satuan pendidikan terdampak.

Dampak gempa tersebar di tujuh kabupaten. Bencana tersebut turut memengaruhi 177.678 siswa serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.

Dari 8.664 ruang kelas yang masuk dalam pendataan, sebanyak 5.521 ruang kelas mengalami kerusakan. Jumlah tersebut mencapai sekitar 63,7 persen dari ruang kelas yang telah terdata.

Sebanyak 2.229 ruang kelas mengalami rusak berat atau rusak total. Selain ruang kelas, gempa juga berdampak pada laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi, hingga rumah dinas guru.

Seknas SPAB juga mencatat 502 satuan pendidikan mengalami kerusakan berat.

Pendidikan Tetap Berjalan di Tengah Pemulihan

Kerusakan fasilitas membuat proses belajar di sejumlah wilayah NTT menghadapi tantangan besar. Karena itu, bantuan tenda kelas darurat menjadi salah satu langkah untuk menjaga kegiatan pendidikan tetap berjalan.

Selain menyediakan ruang belajar sementara, pemerintah juga mengirim perlengkapan sekolah dan kebutuhan keluarga serta memberikan pendampingan psikososial.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali gedung sekolah. Pemerintah juga perlu memastikan siswa memiliki perlengkapan, guru mendapat dukungan, dan kegiatan belajar dapat kembali berlangsung.

Melalui bantuan dan kolaborasi berbagai pihak, Kemendikdasmen berupaya menjaga hak siswa untuk tetap memperoleh layanan pendidikan meskipun berada dalam situasi darurat.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article