Sastra Dinilai Penting untuk Karakter Anak, Mendikdasmen Minta Sekolah Buka Lebih Banyak Ruang Kreatif

Must read

EDUCARE.CO.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendorong sekolah dan keluarga memberi ruang lebih luas bagi anak untuk berekspresi melalui sastra dan media digital. Menurutnya, sastra membantu peserta didik membangun karakter, mengasah kepekaan rasa, dan memperkuat literasi sejak usia dini.

Berdasarkan sumber rilis Kemendikdasmen Nomor 640/sipers/A6/VII/2026, Abdul Mu’ti menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber Talkshow Hari Puisi Nasional di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengembangkan kemampuan berpikir. Pendidikan juga harus menumbuhkan olah rasa, olah hati, dan olah raga agar peserta didik berkembang secara seimbang.

“Pendidikan itu ada empat, yaitu olah raga, olah rasa, olah pikir, dan olah hati. Keempatnya harus tumbuh semuanya dan harus kita berikan ruang yang terintegrasi,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurutnya, sastra dapat menjadi sarana penting untuk menumbuhkan empati dan kemampuan berbahasa yang santun. Karena itu, sekolah perlu menyediakan lebih banyak ruang kreatif bagi anak untuk membaca, menulis, dan berkarya.

Ruang Digital Perlu Menjadi Tempat Berkarya

Abdul Mu’ti menilai perkembangan teknologi digital tidak seharusnya mengurangi minat anak terhadap sastra. Sebaliknya, ruang digital dapat menjadi media baru bagi generasi muda untuk berkarya dan membangun ekosistem literasi yang lebih luas.

“Kita ke depan perlu memikirkan digital poetry atau puisi-puisi digital. Rumah Pendidikan dapat menampung karya anak-anak dan guru, termasuk karya sastra puisi. Selain itu, kementerian juga menerbitkan Majalah Literasi secara rutin,” katanya.

Melalui platform digital, peserta didik dapat mempublikasikan karya sastra dan berinteraksi dengan komunitas literasi dari berbagai daerah.

Literasi Menjadi Bagian dari Pembelajaran Mendalam

Selain mendorong puisi digital, Kemendikdasmen juga menguatkan literasi melalui kebijakan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Dalam pendekatan ini, guru menyajikan materi lebih fokus, sedangkan peserta didik memperkaya pemahaman melalui pengalaman belajar yang beragam.

Karena itu, guru mulai memberi tugas yang tidak hanya berisi latihan soal, tetapi juga kegiatan membaca dan menulis.

“Anak-anak masih kita beri PR. Tapi PR-nya tidak mengerjakan soal. PR-nya membaca buku, PR-nya menulis. Literasi dan numerasi kita galakkan dengan memberi ruang yang lebih banyak untuk anak-anak membaca buku-buku nonteks,” jelasnya.

Melalui kebiasaan membaca dan menulis tersebut, peserta didik dapat menjadikan literasi sebagai bagian dari aktivitas belajar sehari-hari.

Kemendikdasmen Siapkan 5,5 Juta Buku Nonteks

Untuk memperluas akses bacaan, Kemendikdasmen melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa akan menyalurkan sekitar 5,5 juta buku bacaan nonteks ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Koleksi buku tersebut dapat memperkaya bahan bacaan peserta didik sekaligus memperluas imajinasi mereka. Selain meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, literasi juga membantu anak memahami konteks, memecahkan persoalan, dan membangun karakter.

Guru Menjadi Penggerak Minat Sastra

Di sisi lain, Abdul Mu’ti menilai guru memegang peran sangat penting dalam menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap sastra. Ia mengaku mulai menyukai puisi karena inspirasi guru Bahasa Indonesia saat masih bersekolah.

Teaching is inspiring. Mengajar itu menginspirasi, bukan menggurui,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak guru menjadi teladan literasi dan menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Sekolah Perlu Memperbanyak Ruang Kreatif

Lebih lanjut, Mendikdasmen mendorong sekolah memperbanyak ruang aktualisasi sastra melalui kegiatan membaca puisi, menulis karya sastra, lomba, komunitas literasi, dan aktivitas kreatif lainnya.

Menurutnya, ruang-ruang tersebut dapat membantu anak menyalurkan kreativitas sekaligus membangun kepercayaan diri.

Pada akhirnya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa budaya literasi hanya dapat tumbuh jika sekolah, guru, keluarga, dan komunitas bergerak bersama. Semakin luas ruang berekspresi yang tersedia, termasuk di ranah digital, semakin besar peluang peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, kreatif, dan mencintai budaya bangsa.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article

spot_img