Lomba Pencak Silat untuk ABK dan Disabilitas, Angkat Potensi dan Kesehatan Peserta

EduNews EduSport

educare.co.id, Surabaya, 11 Agustus 2025 – Yayasan Peduli Kasih ABK (YPKABK) bersama Federasi Pencak Silat Indonesia, BEM Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), dan Kementerian Sosial RI sukses menggelar Lomba Olah Gerak Pencak Silat Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan Disabilitas 2025. Puncak acara berlangsung Sabtu (9/8) di Ruang Sidang A FK UNAIR, Surabaya, ditandai dengan penyerahan hadiah dan talkshow bertema “Prospek dan Berbagai Perspektif ABK & Disabilitas dalam Lomba Pencak Silat”

Ketua YPKABK, Dr Sawitri Retno Hadiati dr MQHC, menjelaskan bahwa ide lomba ini berawal dari keprihatinan terhadap rendahnya aktivitas fisik pada ABK. Menurutnya, gerak berperan penting dalam kognisi, kualitas hidup, dan perkembangan otak. Jika pada dua tahun lalu lomba berfokus pada olah gerak dalam bentuk tarian, tahun ini kegiatan diarahkan pada cabang pencak silat sebagai warisan budaya asli Indonesia.

Kompetisi ini terbuka bagi peserta dari berbagai latar belakang tanpa batasan sekolah atau komunitas. Pendaftaran dilakukan secara langsung maupun virtual, memungkinkan keikutsertaan dari berbagai daerah. Sosialisasi digencarkan melalui media sosial, webinar, dan workshop yang melibatkan guru olahraga, guru BK, serta pendekar pencak silat.

Terdapat 12 kategori lomba berdasarkan umur (di bawah 12 tahun, 12–18 tahun, dan di atas 18 tahun), gender, serta jenis jurus (jurus IPSI dan jurus IPSI solo kreatif). Peserta juga dibagi dalam lima klasifikasi: hambatan visual, pendengaran, gerak, intelegensi, dan sosial-mental.

Sawitri mengungkapkan antusiasme peserta sangat tinggi, terlebih dengan kemudahan mengirim penampilan via video. Meski begitu, panitia menghadapi tantangan, salah satunya verifikasi status disabilitas yang kadang sulit dipenuhi oleh puskesmas. Panitia pun menerima surat keterangan dari sekolah atau tempat terapi. Tantangan lainnya adalah regulasi olahraga disabilitas, di mana pencak silat belum masuk dalam cabang paralimpiade di bawah NPCI, termasuk kategori tuli.

BACA JUGA:  Tim UNAIR Sabet 13 Penghargaan di Mandalika Essay Competition

Kegiatan ini mendapat dukungan positif dari orang tua yang melihat anak menjadi lebih aktif, bugar, dan bersemangat. Pelatih dan pendamping juga memberikan perhatian khusus dan kesabaran ekstra dalam membimbing peserta. Sawitri berharap lomba ini bisa menjadi agenda rutin tahunan demi mengoptimalkan potensi ABK dan disabilitas.

“Kegiatan seperti ini jarang diadakan, padahal dampaknya sangat baik. Semoga bisa terus berlanjut untuk mengoptimalkan potensi ABK dan disabilitas,” kata Sawitri. (SCP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *