Limbah Bekatul Disulap Mahasiswa UGM Jadi Plester Antikolesterol

Must read

EDUCARE.CO.ID – Bekatul beras putih yang selama ini kerap dianggap sebagai hasil samping penggilingan padi kini mendapat perhatian dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim mahasiswa UGM mengolah bekatul menjadi nanoemulsi ekstrak bekatul yang kemudian mereka formulasikan dalam bentuk plester transdermal.

Inovasi tersebut menjadi bagian dari riset Tim PKM-RE BRANOVATE UGM. Tim mengembangkan teknologi ini sebagai kandidat sistem penghantaran bahan aktif untuk membantu menangani dislipidemia, salah satu gangguan yang sering muncul bersama sindrom metabolik.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Gadjah Mada, tim menjalankan riset melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE). Mereka memadukan potensi bahan alam dengan teknologi penghantaran zat aktif melalui kulit.

Bekatul Beras Putih Punya Potensi Bioaktif

Dislipidemia terjadi ketika kadar lemak dalam darah mengalami gangguan. Kondisi tersebut antara lain ditandai dengan peningkatan kolesterol total, trigliserida, dan LDL.

Gangguan profil lipid dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Karena itu, pengembangan kandidat terapi untuk membantu memperbaiki profil lipid terus mendapat perhatian.

Ketua Tim BRANOVATE, Fauzia Amrina Rosyada, melihat peluang dari bekatul beras putih. Menurutnya, bahan hasil samping pertanian tersebut masih memiliki kandungan bioaktif yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

“Di tengah permasalahan sindrom metabolik, kami melihat limbah bekatul beras putih memiliki kandungan yang berpotensi membantu memperbaiki profil lipid,” ujar Fauzia, Selasa (1/9/2026).

Melalui penelitian ini, tim tidak hanya mencari kandidat inovasi farmasi. Mereka juga ingin meningkatkan nilai guna bekatul yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.

γ-Oryzanol Jadi Fokus Penelitian

Tim BRANOVATE memilih bekatul beras putih (Oryza sativa L.) karena bahan tersebut mengandung berbagai komponen bioaktif. Salah satu senyawa yang menjadi perhatian utama tim ialah γ-oryzanol.

Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan potensi γ-oryzanol dalam membantu memperbaiki profil lipid. Temuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar tim dalam menyusun hipotesis penelitian.

Namun, tim masih menghadapi tantangan dalam pemanfaatan ekstrak bekatul. Salah satunya berkaitan dengan bioavailabilitas ketika tubuh menerima bahan aktif melalui konsumsi oral.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim mengembangkan ekstrak bekatul dalam bentuk nanoemulsi. Mereka kemudian memasukkan formulasi tersebut ke dalam plester transdermal.

Plester Transdermal Jadi Alternatif Penghantaran

Fauzia menjelaskan bahwa tim memilih sistem transdermal karena ingin mencari alternatif penghantaran bahan aktif selain melalui saluran pencernaan.

“Namun, pemanfaatannya secara oral masih memiliki keterbatasan bioavailabilitas, jadi kami mengembangkan bekatul dalam bentuk nanoemulsi transdermal,” jelas Fauzia.

Sistem transdermal memungkinkan bahan aktif masuk melalui kulit. Tim berharap pendekatan tersebut dapat membantu meningkatkan penghantaran senyawa dari ekstrak bekatul ke dalam tubuh.

Meski demikian, efektivitas dan keamanan formulasi masih perlu melalui berbagai tahap pengujian. Karena itu, plester tersebut saat ini masih berada dalam tahap penelitian praklinis dan belum menjadi terapi untuk digunakan pada manusia.

Tim Uji Formula pada 25 Tikus Jantan

Untuk mengevaluasi formula yang mereka kembangkan, tim melakukan pengujian laboratorium dan praklinis. Mereka menggunakan 25 tikus jantan sebagai hewan uji.

Tim membagi hewan tersebut secara acak menjadi lima kelompok. Kelompok itu terdiri atas:

  • kontrol normal;
  • kontrol negatif dengan model sindrom metabolik;
  • kontrol positif yang memperoleh statin;
  • kelompok plester plasebo; dan
  • kelompok perlakuan dengan plester nanoemulsi ekstrak bekatul.

Tim kemudian membentuk model sindrom metabolik pada hewan uji melalui induksi lemak dan streptozotocin-natrium (STZ-Na).

Selanjutnya, tim akan membandingkan profil lipid setiap kelompok. Mereka mengamati tiga parameter utama, yaitu kolesterol total, trigliserida, dan LDL.

Hasil pengujian tersebut akan membantu tim menilai potensi formula nanoemulsi ekstrak bekatul dalam memengaruhi profil lipid pada model hewan.

Karakterisasi Nanoemulsi Sudah Berjalan

Tim BRANOVATE telah menyelesaikan sejumlah tahapan awal penelitian. Mereka memulai proses dengan melakukan preparasi dan ekstraksi bekatul.

Setelah itu, tim menganalisis ekstrak serta melakukan profiling awal menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Tahap tersebut membantu tim melihat karakteristik awal komponen dalam ekstrak.

Tim juga telah menyelesaikan karakterisasi nanoemulsi dan pembuatan plester. Tahapan tersebut menjadi dasar sebelum mereka melanjutkan pengujian berikutnya.

Selanjutnya, tim akan melakukan uji pelepasan dan pengujian in vivo. Melalui tahapan tersebut, mereka akan mengevaluasi kemampuan formulasi serta pengaruh perlakuan terhadap profil lipid hewan uji.

Lima Mahasiswa Gabungkan Ilmu Farmasi dan Kedokteran

Riset BRANOVATE melibatkan lima mahasiswa dari dua program studi. Fauzia Amrina Rosyada dan Elvira Nathania Ardiani berasal dari Program Studi Farmasi angkatan 2023.

Kemudian, Aurora Khanifa Jati dan Cika Aida Pusparani berasal dari Program Studi Farmasi angkatan 2024. Sementara itu, Najwa Rachma Marsanti berasal dari Program Studi Kedokteran angkatan 2025.

Dr. apt. Adhyatmika dari UGM mendampingi tim dalam menjalankan penelitian tersebut.

Kolaborasi lintas angkatan dan bidang keilmuan ini membantu tim menggabungkan perspektif farmasi dengan ilmu kedokteran dalam pengembangan kandidat inovasi.

Bekatul Jadi Kandidat Bahan Farmasi Bernilai Tambah

Tim BRANOVATE berharap penelitian ini dapat memberikan bukti praklinis awal mengenai potensi sistem penghantaran berbasis ekstrak bekatul.

Jika penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan, pengembangan berikutnya masih membutuhkan serangkaian tahapan untuk memastikan efektivitas dan keamanan sebelum masuk ke tahap penelitian pada manusia.

Di sisi lain, riset ini juga menunjukkan peluang pemanfaatan hasil samping pertanian untuk bidang farmasi. Bekatul tidak hanya dapat dipandang sebagai hasil samping penggilingan padi, tetapi juga memiliki potensi sebagai sumber bahan bioaktif untuk penelitian lebih lanjut.

Ke depan, tim menargetkan pengembangan inovasi tersebut menuju tahapan penelitian berikutnya. Mereka berharap riset BRANOVATE dapat berkontribusi pada pengembangan kandidat terapi untuk gangguan profil lipid sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian di Indonesia.

 

Penulis: Putri Faathiman Niara

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article