Lebih Tenang Mengajar, Lebih Bahagia Menjalani Peran: Cerita Guru Perempuan di Balik Kebijakan Kemendikdasmen
EDUCARE.CO.ID – Di balik ruang kelas yang penuh tawa anak-anak dan papan tulis yang tak pernah sepi, ada sosok guru yang terus berjuang—tak hanya mendidik, tetapi juga menata keseimbangan hidup. Bagi para guru, kesejahteraan bukan sekadar angka, melainkan ketenangan batin yang membuat mereka bisa hadir sepenuh hati untuk murid-muridnya.
Beragam kebijakan dan program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kini mulai dirasakan langsung oleh para guru sebagai angin segar. Tunjangan yang disalurkan perlahan mengubah banyak hal: dari kecemasan akan kebutuhan sehari-hari, menjadi ruang lega untuk kembali fokus pada panggilan jiwa sebagai pendidik.

Ismi Ifarianti, guru Taman Kanak-Kanak Negeri Bendungan Hilir, Jakarta, adalah salah satu dari mereka yang merasakan perubahan itu. Dengan senyum penuh syukur, Ismi mengakui bahwa tunjangan yang diterimanya bukan hanya membantu secara finansial, tetapi juga memberi ketenangan emosional.
“Tunjangan ini membuat saya lebih fokus mengajar dan lebih semangat mendampingi anak-anak untuk belajar dan tumbuh. Rasanya jerih payah kami sebagai guru benar-benar dihargai,” tuturnya.
Cerita serupa datang dari Tiar Krisnawan, guru SD Negeri Cimone 3, Tangerang, Banten. Baginya, kebijakan kesejahteraan ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang pengakuan dan motivasi.
“Dengan tunjangan ini, kami merasa lebih dihargai dan terdorong untuk terus berkembang, sekaligus memenuhi kebutuhan hidup dengan lebih baik,” ujarnya.
Pada tahun 2025, Kemendikdasmen telah menyalurkan berbagai bentuk tunjangan kepada jutaan guru, baik ASN maupun Non-ASN. Mulai dari Tunjangan Profesi Guru, Tunjangan Khusus, Dana Tambahan Penghasilan, hingga insentif dan Bantuan Subsidi Upah bagi guru PAUD nonformal. Angka-angka ini mencerminkan komitmen negara untuk menghadirkan keadilan dan perhatian yang lebih nyata bagi para pendidik.
Ke depan, harapan itu kian diperkuat. Insentif Guru Non-ASN tahun 2026 akan dinaikkan, sebuah langkah yang diyakini mampu menumbuhkan semangat profesionalisme dan kualitas pembelajaran. Di saat yang sama, program peningkatan kualifikasi akademik juga terus dilanjutkan—karena guru yang sejahtera adalah pondasi utama pendidikan yang bermutu.
Di balik kebijakan dan data, ada kisah-kisah manusiawi tentang guru yang kini bisa mengajar dengan hati lebih tenang, senyum lebih lepas, dan harapan yang kembali tumbuh. Karena ketika guru merasa dihargai, pendidikan pun bergerak maju dengan lebih bermakna. (isn)
