EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) membawa inspirasi kuliner Malaysia dan Filipina ke Desa Onggopatran, Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Mereka mengajak Kelompok Wanita Tani (KWT) Oasis mempelajari cara membuat selai labu dan roti tradisional melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional pada Sabtu (17/10/2026).
Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) UNDIP menggelar kegiatan ini bersama Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, dan Visayas State University (VSU), Filipina. Sekitar 100 peserta mengikuti pelatihan yang berlangsung pukul 09.00–14.00 WIB.
Tim mahasiswa memperkenalkan dua produk, yaitu Pumpkin Kaya dari Malaysia dan pandesal dari Filipina. Selain mengenalkan kekayaan kuliner Asia Tenggara, kegiatan ini mendorong masyarakat untuk mengeksplorasi olahan pangan yang berpotensi menambah nilai jual bahan lokal.
Mahasiswa Malaysia Ajarkan Cara Membuat Pumpkin Kaya
Mahasiswa UniSZA memperkenalkan Pumpkin Kaya, selai berbahan dasar labu yang terinspirasi dari kuliner khas Malaysia. Produk ini menawarkan alternatif olahan labu untuk pelengkap roti maupun variasi makanan lainnya.
Dalam sesi praktik, peserta mempelajari teknik dasar pembuatan selai. Mereka juga mengenal peluang untuk mengembangkan bahan pangan lokal menjadi produk yang lebih beragam.
Inovasi ini memberi inspirasi bagi anggota KWT Oasis untuk mengeksplorasi olahan labu. Mereka dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk kebutuhan rumah tangga maupun merintis produk usaha.
Namun, pengembangan produk untuk pasar membutuhkan persiapan lebih lanjut. Pelaku usaha perlu memperhatikan kualitas, keamanan pangan, biaya produksi, kemasan, dan strategi pemasaran.
Mahasiswa Filipina Perkenalkan Roti Pandesal
Tak hanya selai labu, peserta juga mempelajari pembuatan pandesal. Mahasiswa VSU memperkenalkan roti tradisional Filipina yang populer sebagai menu sarapan.
Pandesal memiliki tekstur lembut dan dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan usaha roti rumahan. Melalui demonstrasi dan praktik langsung, peserta mengenal proses dasar pembuatan roti tersebut.
Kedua pelatihan memberi pengalaman belajar yang berbeda. Peserta tidak sekadar mengenal kuliner dari negara tetangga, tetapi juga mempelajari keterampilan pengolahan pangan yang bisa mereka eksplorasi lebih lanjut.
Tiga Perguruan Tinggi Asia Tenggara Berkolaborasi
Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dan dosen dari tiga perguruan tinggi. Tim Filipina mengirimkan empat mahasiswa, sedangkan UniSZA melibatkan tiga mahasiswa.
Dari UNDIP, sembilan mahasiswa Teknologi Pangan bertugas sebagai student buddies internasional. Delapan dosen Teknologi Pangan turut mendukung jalannya program.
Interaksi lintas negara menghadirkan ruang untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman. Para mahasiswa dapat mengenal tradisi kuliner, teknik pengolahan, serta perspektif baru mengenai pengembangan pangan.
Peran student buddies juga membantu membangun komunikasi selama kegiatan. Kolaborasi ini mempertemukan pengalaman akademik dengan praktik pengabdian kepada masyarakat.
KWT Oasis Dukung Pelatihan Pengolahan Pangan
Ketua KWT Oasis, Ari Wuriati, bersama Ketua Rumah Baca, Suprapti Rejeki, mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Sejumlah perwakilan dari lingkungan kampus juga hadir, termasuk pendiri Rumah Baca, Izur, Ketua International Office, dan Ketua Departemen Pertanian FPP UNDIP.
Keterlibatan berbagai pihak memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Melalui pelatihan langsung, tim mahasiswa berbagi pengetahuan yang dapat membantu warga mengenali alternatif pengolahan bahan pangan.
Bagi KWT Oasis, kegiatan ini membuka kesempatan untuk menggali ide produk baru. Anggota kelompok dapat menilai potensi bahan baku di lingkungan sekitar dan menyesuaikan inovasi dengan kebutuhan konsumen.
Masyarakat juga perlu menguji resep, menghitung modal, dan menentukan harga sebelum memasarkan produk. Langkah tersebut membantu mereka menilai kelayakan usaha secara lebih terukur.
KKN Internasional UNDIP Dorong Inovasi Pangan Lokal
Program KKN Internasional ini menghubungkan pembelajaran lintas negara dengan pemberdayaan masyarakat. Melalui Pumpkin Kaya dan pandesal, mahasiswa memperkenalkan contoh diversifikasi pangan sekaligus mengajak peserta mengeksplorasi keterampilan baru.
Bagi masyarakat Desa Onggopatran, pengetahuan tersebut dapat menjadi titik awal untuk mengembangkan produk kreatif. Penerapannya tentu perlu menyesuaikan ketersediaan bahan baku, kemampuan produksi, dan kebutuhan pasar setempat.
Keberlanjutan program juga membutuhkan pendampingan setelah pelatihan. Dengan langkah tersebut, masyarakat dapat mengembangkan keterampilan yang mereka peroleh menjadi kegiatan produktif sesuai potensi lokal.
Berdasarkan sumber laman resmi Program Studi Teknologi Pangan FPP UNDIP, kegiatan ini mengenalkan olahan labu khas Malaysia dan roti tradisional Filipina kepada KWT Oasis di Bantul. Program tersebut memadukan pertukaran budaya kuliner, praktik pengolahan pangan, dan pemberdayaan masyarakat.

