EDUCARE.CO.ID – Sebanyak 206 relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) berangkat ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu penanganan korban gempa bumi Flores. Gempa bermagnitudo 7,7 tersebut mengguncang wilayah Pulau Flores pada 15 Agustus 2026.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Kunta Wibawa Dasa Nugraha melepas para relawan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (24/8/2026).
Selama 14 hari, para relawan akan membantu layanan kesehatan di enam wilayah dengan dampak bencana berat. Wilayah tersebut meliputi Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Berdasarkan rilis Kementerian Kesehatan, gempa Flores berdampak terhadap sekitar 1,9 juta jiwa di tujuh kabupaten/kota. Data Pusat Krisis Kesehatan per 23 Agustus 2026 mencatat 91 orang meninggal dunia, ratusan warga mengalami luka-luka, dan 161.874 orang mengungsi.
Gempa juga mengganggu operasional sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah terdampak. Karena itu, pemerintah mengirim tambahan tenaga medis untuk membantu menjaga layanan kesehatan bagi para penyintas.
Kemenkes Kerahkan Tenaga Medis ke Wilayah Terdampak
Kunta meminta seluruh relawan memprioritaskan kebutuhan medis yang muncul di lapangan. Ia juga mengingatkan para tenaga kesehatan untuk bekerja sebagai satu tim dan saling mendukung selama menjalankan misi kemanusiaan.
Selain itu, Kunta menekankan pentingnya menjaga keselamatan diri. Menurutnya, relawan harus tetap memperhatikan kondisi fisik agar dapat memberikan pertolongan secara optimal.
“Saudara berangkat untuk membantu korban, bukan menjadi korban berikutnya. Jangan menganggap kelelahan sebagai tanda pengabdian,” tegas Kunta.
Dalam rilis yang sama, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Agus Jamaludin menjelaskan bahwa 128 tenaga kesehatan ikut dalam keberangkatan tersebut.
Tim tersebut mencakup dokter umum serta dokter spesialis penyakit dalam, anak, bedah, dan ortopedi. Selain dokter, Kemenkes juga mengirim perawat, bidan, dan tenaga farmasi.
Para tenaga kesehatan itu kemudian mendapat dukungan dari 78 dokter internsip yang sebelumnya sudah berada di Pulau Flores.
Kunta juga menyampaikan apresiasi kepada para relawan yang rela meninggalkan keluarga dan pekerjaan untuk membantu masyarakat terdampak bencana.
“Saudara meninggalkan keluarga dan pekerjaan untuk hadir ketika masyarakat sangat membutuhkan bantuan. Terima kasih atas panggilan kemanusiaan ini,” ujar Kunta.
Relawan TCK Kembali Jalankan Misi Kemanusiaan
Salah satu relawan yang berangkat ke NTT ialah Bidan Istiqomah. Ia akan bertugas di Kabupaten Nagekeo dan kali ini menjalankan misi TCK untuk kedua kalinya.
Sebelumnya, pegawai RSUP Fatmawati tersebut ikut menangani krisis di Tamiang, Aceh, pada Desember 2025. Pengalaman itu mendorongnya kembali mengambil bagian dalam misi kemanusiaan.
“Kalau buat saya, menjadi relawan ini rasanya malah nagih (membuat ketagihan untuk mengabdi). Persiapannya yang paling utama adalah fisik dan obat-obatan pribadi,” tutur Istiqomah.
Ia berharap kehadiran tim kesehatan dapat membantu masyarakat terdampak dan mempercepat proses pemulihan.
“Harapannya, semoga semua warga di Ende bisa kita bantu dan lekas pulih,” tambahnya.
Relawan lain, Muhammad Amir Sahala, juga siap menjalankan tugas di RSUD Borong, Manggarai Timur. Dokter spesialis ortopedi dari RS Fatmawati tersebut akan membantu menangani korban yang mengalami cedera akibat reruntuhan.
Menurut Amir, kebutuhan tenaga medis masih tinggi di sejumlah lokasi terdampak. Karena itu, kehadiran TCK dapat membantu tenaga kesehatan daerah menangani pasien secara lebih optimal.
“Banyak sekali korban yang membutuhkan di tengah kekurangan tenaga kesehatan saat ini. Pasti kita akan jadi respons utama untuk membantu korban agar semua dapat tertangani dan mendapat perawatan yang terbaik,” ungkap Amir.
TCK Jaga Layanan Kesehatan Tetap Berjalan
Pengiriman 206 relawan TCK menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap kondisi kesehatan pascagempa Flores. Tim tersebut membantu tenaga kesehatan daerah yang sejak awal bencana sudah menangani para penyintas.
Selain menangani pasien, para relawan juga membantu menjaga layanan kesehatan esensial tetap berjalan di tengah kondisi fasilitas yang belum sepenuhnya pulih.
Dengan tambahan tenaga medis, Kemenkes berharap wilayah terdampak dapat memperoleh dukungan yang lebih kuat selama masa tanggap dan pemulihan awal.
Kehadiran para relawan juga menunjukkan bahwa penanganan bencana membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, tenaga kesehatan, rumah sakit, dan relawan perlu bergerak dalam satu koordinasi agar kebutuhan masyarakat dapat tertangani dengan cepat.
Penulis: Andini Namira Saskirana


