EDUCARE.CO.ID – Jauh sebelum kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi topik besar di dunia teknologi, seorang alumnus Universitas Padjadjaran (Unpad) sudah mengangkatnya dalam skripsi.
Skripsi tersebut karya Rudi Fajar, alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (FEB Unpad). Ia menulis penelitian tentang pemanfaatan AI untuk membantu pekerjaan akuntan publik pada 1992.
Kini, karya itu kembali mendapat perhatian setelah kisahnya viral di media sosial.
Rudi Tulis Skripsi tentang AI pada 1992
Rudi menyusun skripsi berjudul “Artificial Intelligence sebagai Alat Bantu Akuntan Publik dalam Pemilihan Prosedur Pemeriksaan Piutang” pada Juli 1992.
Kala itu, pembahasan mengenai AI belum populer seperti sekarang. Namun, Rudi sudah melihat peluang penggunaan teknologi tersebut dalam pekerjaan akuntansi.
Ketertarikan itu muncul ketika Rudi mengikuti mata kuliah System Management. Ia menemukan pembahasan singkat mengenai AI dan expert system dalam materi perkuliahan.
Rasa penasaran kemudian mendorongnya mencari informasi lebih jauh.
“Waktu itu kan masih muda, penuh dengan rasa ingin tahu, penuh dengan idealisme keilmuan, dan utamanya tertantang,” tutur Rudi dalam keterangan di laman resmi FEB Unpad, Rabu (19/8/2026).
Menurut Rudi, materi kuliah tersebut menyebut AI dan expert system sebagai salah satu bentuk perkembangan program komputer pada masa depan.
“Ada satu paragraf yang membahas selintas mengenai artificial intelligence, yang mengatakan bahwa pada masa depan tingkatan yang paling canggih dari program komputer adalah penggunaan artificial intelligence dan expert system,” jelasnya.
Rudi Berburu Literatur AI hingga ke Singapura
Menyusun penelitian tentang AI pada awal 1990-an tentu tidak mudah. Rudi menghadapi kendala utama berupa keterbatasan sumber referensi.
Rudi tidak menemukan literatur AI yang ia butuhkan di Bandung maupun Jakarta. Karena sudah terlanjur tertarik dengan topik tersebut, Rudi akhirnya mencari sumber hingga ke Singapura.
“Saya tidak menemukan referensinya di Bandung maupun Jakarta, karena sudah kepalang basah, saya mencari literatur ke Singapura dan mendapatkan dua sampai tiga buku yang saya perlukan,” kenang Rudi.
Buku-buku tersebut kemudian membantu Rudi memahami konsep AI dan expert system yang ingin ia kaitkan dengan bidang akuntansi.
AI untuk Bantu Pemeriksaan Piutang
Dalam skripsinya, Rudi mengkaji pemanfaatan AI untuk membantu akuntan publik menentukan prosedur pemeriksaan piutang.
Ia melihat data sebagai salah satu faktor penting dalam menghasilkan informasi yang berkualitas. Semakin lengkap data yang tersedia, semakin baik pula sistem mengolah informasi untuk membantu pengambilan keputusan.
“Saya meyakini jika data besar dan lengkap, maka proses pengolahan informasi akan lebih lengkap, lebih akurat, dan mengurangi human error. Semakin banyak data maka akan semakin pintar dan akurat,” jelas Rudi.
Gagasan tersebut terdengar relevan dengan perkembangan teknologi saat ini. Perbedaannya terletak pada kemampuan teknologi yang tersedia ketika Rudi mengerjakan skripsinya.
Rudi Kembangkan Program Komputer dengan Teknologi Era 1990-an
Rudi tidak mengembangkan program tersebut seorang diri. Ia mendapat bantuan dari teman kosnya yang merupakan mahasiswa Teknik Industri ITB.
Keduanya kemudian membuat program komputer sederhana menggunakan Clipper Summer ’87.
Program tersebut berfokus pada pemilihan sampel dalam pemeriksaan piutang. Dengan pendekatan tersebut, Rudi mencoba menunjukkan bagaimana komputer dapat membantu pekerjaan akuntan dalam mengambil keputusan.
Meski demikian, Rudi tidak mengklaim program tersebut sebagai AI dalam pengertian modern.
Rudi Sebut Karyanya sebagai “Embrio AI”
Setelah melihat perkembangan AI saat ini, Rudi menyadari bahwa program yang ia buat pada 1992 memiliki perbedaan besar dengan teknologi AI modern.
Karena itu, ia memilih istilah “embrio AI” untuk menggambarkan karya tersebut.
“Jika kita kaitkan dengan definisi AI saat ini, tentu masih bisa diperdebatkan. Saya lebih tepat menyebut program tersebut sebagai embrio atau cikal-bakal AI,” ujarnya.
Menurut Rudi, ia tidak bermaksud menciptakan teknologi AI seperti yang dikenal saat ini melalui skripsinya.
Ia ingin menunjukkan cara teknologi membantu pekerjaan manusia melalui contoh yang sederhana dan mudah dipahami.
Meski bentuk teknologinya masih terbatas, gagasan dasarnya memiliki kemiripan dengan pemanfaatan AI saat ini. Data dan sistem komputer membantu manusia mengolah informasi serta mengambil keputusan.
34 Tahun Berlalu, Skripsi Rudi Kembali Menarik Perhatian
Skripsi yang Rudi tulis pada 1992 kembali mendapat perhatian 34 tahun kemudian. Momen tersebut bertepatan dengan semakin pesatnya perkembangan AI di berbagai bidang.
FEB Unpad turut mengapresiasi gagasan Rudi karena ia telah melihat potensi teknologi jauh sebelum AI menjadi pembahasan utama.
“Apa yang pada 1992 masih berupa gagasan dan embrio pemikiran, kini telah berkembang menjadi teknologi yang mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan mengambil keputusan,” ungkap FEB Unpad.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa gagasan akademik tidak selalu langsung menemukan momentumnya. Sebuah pemikiran yang terlihat sederhana pada masanya bisa kembali relevan ketika teknologi berkembang.
IKA FEB Unpad Apresiasi Pemikiran Visioner
Apresiasi juga datang dari Ikatan Alumni FEB Unpad (IKA FEB Unpad).
Organisasi alumni tersebut menilai karya Rudi sebagai contoh keberanian mahasiswa dalam mengeksplorasi gagasan baru, terutama ketika dukungan teknologi dan referensi masih sangat terbatas.
“Apresiasi setinggi-tingginya untuk Kang Rudi Fajar, karya ini menjadi kebanggaan sekaligus pengingat bagi kita semua untuk selalu berani berinovasi dan berpikir jauh ke depan,” tulis IKA FEB Unpad melalui akun Instagram resminya.
Karya Rudi juga menjadi pengingat bahwa kampus dapat menjadi ruang lahirnya gagasan yang melampaui zamannya.
Pada 1992, AI masih terdengar seperti konsep masa depan. Kini, teknologi tersebut telah hadir dalam berbagai aktivitas manusia.
Kisah skripsi Rudi Fajar memperlihatkan bahwa rasa ingin tahu, keberanian mengeksplorasi ide, dan kemampuan melihat peluang teknologi dapat menghasilkan pemikiran yang tetap relevan puluhan tahun kemudian.
Penulis: Putri Faathiman Niara


