Dosen Psikologi UNAIR: Kolaborasi Lintas Generasi Kunci Harmoni Dunia Kerja

Eduhealth EduJurnal EduNews Edutainment

educare.co.id, Surabaya, 27 Agustus 2025 – Kehadiran Generasi Z di dunia kerja kerap menuai perdebatan. Survei terbaru General Assembly bahkan menunjukkan sejumlah perusahaan di Amerika Serikat enggan merekrut Gen Z karena dianggap kurang keterampilan interpersonal.

Menanggapi hal tersebut, Dimas Aryo Wicaksono, S.Psi., M.Sc, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), menilai anggapan tersebut lebih bersifat stereotip. “Kalau merujuk Gen Z itu problematik, saya pikir ini lebih pada stereotip. Tergantung kacamata mana yang kita pakai,” ujarnya.

Menurutnya, bias generasi sering muncul lewat mirroring, yaitu kecenderungan membandingkan generasi baru dengan pengalaman generasi sebelumnya saat memulai karier. Dalam psikologi, hal ini terkait individual differences, di mana setiap generasi memiliki karakteristik berbeda. Idealisme Gen Z justru bisa menjadi “darah segar” bagi perusahaan, terutama karena mereka lahir sebagai digital native.

Tantangan Ekspektasi dan Psychological Contract

Aryo menilai, perusahaan perlu melihat Gen Z sebagai individu dengan keunikan masing-masing, bukan sekadar kelompok pekerja. Ia juga menyoroti adanya perbedaan ekspektasi: generasi sebelumnya menekankan loyalitas jangka panjang, sedangkan Gen Z lebih menginginkan fleksibilitas, work-life balance, dan kebermaknaan kerja.

“Dalam psikologi ada konsep psychological contract. Gen Z cenderung transaksional, sehingga komunikasi dua arah untuk mengelola ekspektasi sejak awal sangat penting,” jelasnya.

Pentingnya Kolaborasi Lintas Generasi

Aryo menekankan agar perusahaan tidak menyamaratakan gaya kerja. Pendekatan personal, kepemimpinan adaptif, serta lingkungan kerja suportif dinilai penting untuk membuat Gen Z betah. Namun, ia juga menekankan Gen Z perlu menghargai kontribusi generasi pendahulu dan tidak hanya menuntut dipahami.

Generasi sebelumnya seperti boomers, X, Y, dan milenial, menurutnya, harus berperan sebagai mentor dan coach. Sebaliknya, Gen Z perlu menyesuaikan diri dengan nilai perusahaan. “Kalau terjadi perbedaan prinsip yang mendasar, jangan buru-buru emosional mengajukan pengunduran diri, tapi pikirkan jalur lain untuk menyampaikan idealisme,” pesannya.

Ia menutup dengan analogi: “Seperti aliran air yang mampu membentuk batu keras, idealisme anak muda bisa diwujudkan secara konsisten tanpa harus frontal menentang generasi sebelumnya.” 

(SCP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *