Dari Ruang Retak ke Kelas Digital: Revitalisasi dan Digitalisasi SMK Menguatkan Pendidikan di Timur Indonesia
EDUCARE.CO.ID — Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempertegas langkah menghadirkan pendidikan bermutu yang merata hingga ke pelosok negeri. Salah satu fokusnya adalah penguatan SMK di Kawasan Timur Indonesia (KTI) melalui dua strategi besar: Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran.
Sejak 2025, program ini dijalankan secara bertahap di berbagai wilayah, termasuk Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Sebanyak 389 SMK di KTI telah menerima program revitalisasi dengan total anggaran lebih dari Rp649 miliar. Sementara itu, 1.972 SMK memperoleh dukungan Digitalisasi Pembelajaran untuk memperkuat ekosistem belajar berbasis teknologi.
Tak sekadar memperbaiki bangunan, revitalisasi menghadirkan ruang praktik siswa (RPS), ruang kelas, toilet, serta sarana pendukung lain yang lebih aman dan nyaman. Di saat yang sama, digitalisasi memastikan ruang-ruang tersebut terhubung dengan teknologi, membuka akses pada sumber belajar yang lebih luas dan interaktif.

Revitalisasi: Membangun Fondasi, Menumbuhkan Kepercayaan
Bagi banyak SMK di wilayah kepulauan dan daerah dengan tantangan geografis berat, keterbatasan fasilitas menjadi hambatan serius. Kerusakan bangunan, minimnya sarana praktik, hingga akses listrik yang belum memadai kerap mengganggu proses pembelajaran.
Hal itu dirasakan oleh SMK Sanjaya Bajawa di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Sekolah yang telah berdiri hampir lima dekade ini menerima rehabilitasi delapan ruang kelas, perbaikan toilet, serta renovasi ruang administrasi dan perpustakaan.
Kepala sekolah, Elisabeth Nena, menuturkan bahwa sebelum revitalisasi, sejumlah ruang kelas mengalami kerusakan berat—mulai dari plafon, atap, dinding, hingga instalasi listrik. Kondisi tersebut memaksa guru dan murid berpindah-pindah ruang saat belajar, terutama ketika cuaca ekstrem melanda.
Kini, ruang-ruang tersebut telah berubah menjadi lingkungan belajar yang lebih layak. Listrik telah terpasang dengan baik, dan pembelajaran berbasis media digital dapat dilakukan tanpa kendala perpindahan ruang. Perubahan fisik sekolah juga membawa dampak psikologis: tumbuhnya kembali rasa percaya diri dan kepedulian murid terhadap lingkungan belajar mereka.
Digitalisasi: Menjembatani Akses, Menghidupkan Interaksi
Selain revitalisasi fisik, program Digitalisasi Pembelajaran menghadirkan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) ke berbagai SMK. Perangkat ini memungkinkan pembelajaran menjadi lebih kontekstual, kolaboratif, dan visual.
Di SMK Gotong Royong Tobelo, Maluku Utara, kehadiran PID mengubah dinamika kelas. Kepala sekolah Petronela Baranyanan menyampaikan bahwa pembelajaran yang sebelumnya berpusat pada guru kini menjadi lebih partisipatif. Murid lebih aktif berdiskusi, mempresentasikan hasil kerja kelompok, dan memanfaatkan fitur visual pada perangkat tersebut.
Digitalisasi bukan sekadar menghadirkan layar di kelas, tetapi membuka peluang eksplorasi pengetahuan yang lebih luas. Murid dapat mengakses sumber belajar digital, menyusun materi secara interaktif, serta mengembangkan keterampilan abad ke-21 yang relevan dengan dunia kerja.
Strategi Terpadu untuk Pemerataan Mutu
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa revitalisasi dan digitalisasi merupakan dua sisi dari strategi yang saling melengkapi. Revitalisasi membangun fondasi fisik yang kokoh, sementara digitalisasi membuka akses dan memperluas cakrawala belajar.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk memastikan setiap anak Indonesia—dari barat hingga timur—memiliki kesempatan belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan terhubung dengan teknologi. Dengan fondasi yang kuat dan akses digital yang merata, SMK di KTI diharapkan mampu melahirkan generasi yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing tinggi.
Revitalisasi membangun harapan. Digitalisasi menumbuhkan peluang. Bersama, keduanya menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih adil dan bermutu bagi seluruh anak bangsa. (isn)
