Dagozilla ITB Siap Berlaga di KRSBI Beroda 2025 dengan Robot Canggih

EduNews EduSchool

educare.co.id, Bandung – Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menunjukkan dedikasinya dalam dunia robotika melalui tim Dagozilla ITB. Berada di bawah Unit Robotika ITB, tim ini tengah mempersiapkan diri untuk berkompetisi dalam Kontes Robot Sepak Bola Indonesia Beroda (KRSBI Beroda) 2025, salah satu ajang bergengsi di Kontes Robot Indonesia (KRI) yang bernaung di bawah Lomba Robot Indonesia (LRI).

Dagozilla ITB terus berinovasi dengan mengembangkan robot sepak bola beroda yang sepenuhnya otonom. Menggunakan teknologi Robot Operating System (ROS), robot ini mampu mendeteksi bola, menggiring, dan menendang dengan akurasi tinggi. Tahun ini, tim berfokus pada penyempurnaan sistem dribbler, optimalisasi kontrol, serta peningkatan akurasi sistem vision dengan algoritma YOLO (You Only Look Once) untuk deteksi objek secara real-time.

Selain itu, sistem lokalisasi robot juga terus diperbaiki dengan penggunaan sensor depth camera serta pengembangan perangkat lunak berbasis machine learning guna meningkatkan strategi permainan. “Kami bukan sebagai pemain bola, melainkan pelatih yang menciptakan sistem agar robot dapat bermain secara otomatis,” ujar Rimba Harits Hartanto, Ketua Tim Dagozilla ITB, dalam siaran tertulis itb (14/2).

Sebagai tim robotika yang telah menorehkan berbagai prestasi, Dagozilla ITB juga dikenal sebagai komunitas yang mengutamakan kolaborasi multidisipliner. Anggota tim berasal dari berbagai jurusan di ITB, memungkinkan mereka untuk bekerja sama dalam pengembangan mekanik, elektrik, pemrograman, hingga manajemen tim.

“Di tim ini, saya bisa menerapkan ilmu yang saya pelajari di perkuliahan untuk menyelesaikan tantangan nyata, terutama dalam keterampilan teknis sesuai bidang saya,” kata Rubi Naufal Tiandito, Wakil Ketua Tim Dagozilla ITB. Meski menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan dana dan jadwal latihan yang padat, semangat kolektif serta kecintaan terhadap robotika terus mendorong mereka maju.

BACA JUGA:  Mendikbudristek Tegaskan Satuan Pendidikan Harus Merdeka dari Diskriminasi

Di balik kesuksesan, tim ini juga menghadapi berbagai rintangan. Salah satu insiden yang mereka alami adalah ketika modul penurun tegangan robot mengalami kerusakan di tengah malam. “Beruntung kami memiliki cadangan. Saya langsung bangun dan segera memperbaikinya,” kenang Rimba.

Latihan hingga larut malam dan menginap di ruang kerja menjadi bagian dari rutinitas tim menjelang kompetisi. Namun, kebersamaan tetap dijaga melalui tradisi sederhana seperti makan pizza bersama sebagai bentuk perayaan atas pencapaian mereka.

Dagozilla ITB optimistis bahwa robotika adalah bidang ilmu yang memiliki peran penting di masa depan. Dengan inovasi yang terus dikembangkan, mereka berharap dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah robotika internasional, setelah sebelumnya berhasil menembus delapan besar dalam kompetisi RoboCup Middle Size League (MSL).

Sebagai pesan akhir, Rimba menekankan pentingnya ketekunan dan kerja sama tim. “Robotika bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kesabaran untuk meraih hasil yang lebih besar. Ini adalah bidang yang terus berkembang, dan kami bangga menjadi bagian dari perjalanan ini”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *