EDUCARE.CO.ID – Botol plastik bekas di Gampong Ujung Kampung, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, kini punya fungsi baru. Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Teuku Umar (FIK UTU) mengubah limbah tersebut menjadi kursi yang bisa digunakan warga.
Berdasarkan sumber Universitas Teuku Umar (UTU), kegiatan ini berlangsung selama program Praktik Belajar Lapangan (PBL) pada 8 Juli hingga 4 Agustus 2026.
Tim mahasiswa mengembangkan kegiatan tersebut sebagai upaya mengurangi pencemaran akibat sampah anorganik. Mereka juga mengajak masyarakat melihat botol plastik sebagai material yang masih memiliki nilai guna.
Botol Plastik Bekas Diubah Menjadi Kursi

Mahasiswa mengawali kegiatan dengan mengumpulkan botol plastik di sekitar permukiman warga. Mereka kemudian memilah dan membersihkan botol sebelum menggunakannya sebagai bahan utama kursi.
Proses pembuatan berlangsung di balai desa. Mahasiswa mengajak warga, perangkat gampong, dan kader kesehatan untuk ikut bekerja bersama.
Warga tidak hanya membantu mengumpulkan botol. Mereka juga mempelajari cara menyusun botol hingga membentuk struktur kursi yang kuat.
Kegiatan tersebut membuat proses daur ulang terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Warga dapat melihat langsung bahwa sampah plastik masih memiliki manfaat jika mereka mengolahnya dengan tepat.
Terapkan Prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle
Program PBL mahasiswa FIK UTU mengangkat konsep Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Konsep tersebut mendorong masyarakat mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih berguna, serta mendaur ulang limbah.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa mengajak warga mengurangi tumpukan sampah plastik di lingkungan gampong. Pada saat yang sama, hasil daur ulang dapat menjadi alternatif perabot sederhana.
Pendekatan tersebut juga menawarkan solusi yang relatif hemat biaya. Warga dapat memanfaatkan material yang tersedia di lingkungan sekitar sebelum membeli bahan baru.
Mahasiswa Ajak Warga Melihat Nilai dari Sampah

Ketua Tim Mahasiswa PBL UTU, Afrihal Dwi Andika, menjelaskan tujuan utama kegiatan tersebut. Menurutnya, mahasiswa ingin mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah plastik.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kreativitas dan kolaborasi mampu mengubah sampah plastik menjadi barang yang berguna,” kata Afrihal saat menyerahkan hasil karya kepada warga.
Afrihal berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Ia juga ingin warga mampu mengembangkan limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Karena itu, tim mahasiswa tidak hanya fokus menyelesaikan kursi. Mereka turut membagikan keterampilan pengolahan limbah kepada warga selama kegiatan berlangsung.
Gotong Royong Jadi Bagian dari Proses
Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam program tersebut. Warga ikut mengumpulkan bahan dan membantu proses pembuatan kursi.
Selain itu, perangkat gampong dan kader kesehatan turut mendukung kegiatan mahasiswa. Kolaborasi tersebut membuat proses pengelolaan sampah berjalan sebagai kegiatan bersama.
Dengan cara ini, mahasiswa dapat membawa edukasi lingkungan langsung ke tengah masyarakat. Sebaliknya, warga mendapat pengalaman praktis yang dapat mereka terapkan setelah program PBL selesai.
Pemerintah Gampong Beri Apresiasi
Keuchik Gampong Ujung Kampung, Nurzal, menyambut positif program mahasiswa UTU. Ia menilai kegiatan tersebut menawarkan cara sederhana untuk membantu warga menghadapi persoalan sampah.
“Kami sangat mengapresiasi program mahasiswa PBL UTU. Semoga inovasi ini terus berkembang dan mendorong masyarakat mengelola sampah dengan lebih bijak demi lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman,” tutur Nurzal.
Menurutnya, kegiatan semacam ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Program tersebut juga membuka peluang bagi warga untuk mengembangkan pemanfaatan limbah secara mandiri.
Kursi Daur Ulang Hadir di Fasilitas Publik Gampong
Setelah proses pembuatan selesai, tim PBL Kesehatan Masyarakat FIK UTU menyerahkan kursi hasil olahan kepada masyarakat. Warga kemudian dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan fasilitas publik di lingkungan gampong.
Penyerahan tersebut menjadi bagian akhir dari kegiatan sekaligus menunjukkan hasil nyata program PBL. Mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga menghasilkan produk yang bisa langsung masyarakat gunakan.
Lebih jauh, keterampilan yang mahasiswa bagikan dapat menjadi modal bagi warga untuk mengembangkan produk daur ulang lainnya.
Dari Botol Bekas Jadi Kebiasaan Baru
Program mahasiswa FIK UTU membuktikan bahwa masyarakat bisa memulai pengelolaan sampah dari langkah sederhana. Botol plastik yang biasanya berakhir sebagai limbah dapat kembali berguna melalui kreativitas dan kerja bersama.
Di sisi lain, kegiatan ini juga mempertemukan pendidikan kesehatan masyarakat dengan persoalan lingkungan. Mahasiswa belajar menerapkan pengetahuan mereka, sementara warga mendapat pengalaman baru dalam mengelola sampah.
Ke depan, kebiasaan memilah dan memanfaatkan sampah dapat terus berkembang di Gampong Ujung Kampung. Dengan demikian, kegiatan PBL tidak berhenti ketika mahasiswa kembali ke kampus.
Program tersebut meninggalkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran lingkungan yang dapat warga lanjutkan secara mandiri. Dari botol plastik bekas, mahasiswa UTU dan masyarakat menunjukkan bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari tindakan kecil.


