EDUCARE.CO.ID – Pemilahan sampah masih menghadapi satu persoalan klasik: kesalahan saat memasukkan sampah ke tempat yang tidak sesuai. Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D., mencoba menjawab masalah tersebut lewat teknologi.
Luluk mengembangkan Smart Waste Bin, tempat sampah pintar yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengenali dan memilah sampah secara otomatis.
Teknologi ini tidak hanya mengenali jenis sampah. Sistem juga mencatat estimasi berat, lokasi, merek produk, hingga perkiraan emisi karbon.
Smart Waste Bin Gunakan AI untuk Pilah Sampah
Berdasarkan sumber laman resmi UGM, Smart Waste Bin menjadi salah satu perangkat dalam ekosistem WESTA (AI-Powered Waste Circular Ecosystem).
Luluk mengembangkan alat tersebut bersama Qubit Instrument (CV Bumi Lestari). Sistem AI membantu mengurangi kesalahan pemilahan yang masih sering terjadi di masyarakat.
“Sering kita jumpai masih ada kesalahan dalam pemilahan sampah meskipun sudah disediakan tempat sampah organik, anorganik, dan residu,” ujar Luluk, Senin (5/10).
Menurutnya, pengguna cukup memasukkan sampah ke dalam Smart Waste Bin. Setelah itu, AI akan memindai dan menentukan kategori sampah secara otomatis.
Saat ini, Smart Waste Bin mengenali tiga kategori. Ketiganya yaitu organik, anorganik, dan residu.
Tim pengembang juga menyiapkan perluasan klasifikasi. Nantinya, sistem akan mengenali lebih banyak jenis sampah, termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3).
Data Sampah Masuk ke Aplikasi WESTA
Smart Waste Bin tidak bekerja sendirian. Perangkat tersebut terhubung dengan aplikasi WESTA.
Sistem menampilkan hasil identifikasi melalui layar pada perangkat. Tim juga sedang mengembangkan aplikasi mobile dan menyiapkannya untuk masuk ke Google Play Store.
Pengguna nantinya dapat melihat sejumlah informasi. Data tersebut mencakup jenis sampah, estimasi berat, lokasi, merek produk, dan perkiraan emisi karbon.
Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam ekosistem WESTA. Data yang terkumpul dapat membantu melihat pola timbulan sampah.
Selain itu, data tersebut dapat mendukung pengelolaan sampah berbasis informasi yang lebih terukur.
Data Merek Bisa Dorong Tanggung Jawab Produsen
Smart Waste Bin juga memiliki kemampuan untuk mengenali merek yang terdapat pada sampah.
Menurut Luluk, informasi tersebut memiliki fungsi penting. Tim dapat mengolah data tersebut untuk melihat produk dari perusahaan yang banyak muncul sebagai sampah di suatu lingkungan.
“Kenapa merek itu penting? Karena data itu nanti bisa kita sampaikan kembali kepada perusahaan-perusahaan yang menghasilkan sampah di lingkungan,” jelas Luluk.
Ia berharap informasi tersebut dapat mendukung penerapan Extended Producer Responsibility (EPR). Prinsip ini mendorong produsen ikut bertanggung jawab terhadap sampah dari produk yang mereka hasilkan.
Dengan pendekatan tersebut, Smart Waste Bin tidak hanya membantu masyarakat membuang sampah. Sistem juga dapat menghubungkan data sampah dengan produsen.
Terhubung Lewat Bluetooth
Smart Waste Bin terhubung dengan aplikasi WESTA melalui Bluetooth Low Energy (BLE).
Pengguna cukup menghubungkan aplikasi dengan perangkat. Setelah itu, pengguna memasukkan sampah ke dalam Smart Waste Bin.
Sistem kemudian memindai sampah dan mengirimkan hasil deteksi ke aplikasi. Informasi tersebut mencakup kategori sampah dan estimasi berat.
Sistem juga menghitung potensi pengurangan jejak karbon dalam satuan kilogram CO₂e.
Data tersebut dapat membantu pengguna memahami dampak dari kebiasaan memilah dan mengelola sampah.
Pengguna Bisa Dapat Poin dari Sampah Bernilai Ekonomi
Tim pengembang juga menyiapkan sistem insentif. Fitur ini terutama menyasar sampah yang memiliki nilai ekonomi, seperti botol plastik.
Sampah yang masuk ke rantai pengelolaan dapat dikonversi menjadi poin. Pengguna nantinya dapat mengumpulkan poin tersebut sebagai bentuk insentif.
“Saat ini fitur penukaran poin dengan reward masih dalam tahap pengembangan,” kata Luluk.
Skema tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih konsisten memilah sampah. Selain menjaga lingkungan, pengguna juga memperoleh manfaat dari sampah yang memiliki nilai ekonomi.
WESTA Masuk Tahap Scale-Up
Pengembangan Smart Waste Bin masuk dalam program Hibah Pengembangan Inovasi (HPI) 2026.
Program tersebut mendorong tim untuk melakukan scale-up WESTA. Targetnya adalah membangun sistem yang siap menjalani uji operasional.
Ekosistem WESTA menggabungkan tiga komponen utama. Ada Smart Waste Bin, aplikasi Mobile Waste Scanner, serta enterprise dashboard.
Ketiga komponen tersebut memiliki fungsi yang saling terhubung. Perangkat mengumpulkan data. Aplikasi membantu pengguna berinteraksi dengan sistem. Sementara itu, dashboard mengelola dan menganalisis data sampah serta jejak karbon.
Integrasi Perangkat dan AI Sudah Berjalan
Perkembangan Smart Waste Bin juga sudah memasuki tahap integrasi.
Berdasarkan perkembangan hingga Agustus 2026, tim telah menyelesaikan instalasi elektronik perangkat. Pada 18 Agustus, seluruh fungsi perangkat sudah terhubung dengan aplikasi dan model AI.
Tahap berikutnya akan membawa WESTA ke lingkungan penggunaan nyata. Tim merencanakan uji coba di lingkungan FEB UGM.
Selain itu, tim akan mengoptimalkan model AI. Mereka juga akan mengintegrasikan empat kelas sampah, termasuk B3, ke dalam perangkat keras.
Pengujian akurasi dan stabilitas juga masuk dalam agenda berikutnya. Tim kemudian akan menguji kemudahan penggunaan perangkat.
Dari Tempat Sampah Menjadi Sumber Data
WESTA membawa konsep pengelolaan sampah ke tahap yang lebih luas. Sistem tidak hanya berfokus pada proses membuang dan memilah sampah.
Perangkat, aplikasi, AI, dan analitik data bekerja dalam satu ekosistem. Data tersebut nantinya dapat membantu berbagai pihak memahami pola sampah secara lebih jelas.
Pada akhirnya, tim ingin membangun sistem pengelolaan sampah berbasis data. Sistem ini juga dapat mendukung pengembangan ekonomi sirkular.
Jika pengembangannya berjalan sesuai target, Smart Waste Bin bukan sekadar tempat sampah pintar. Teknologi ini dapat menjadi pintu masuk menuju pengelolaan sampah yang lebih terukur, efisien, dan berkelanjutan.


