Cangkang Telur Diolah Jadi Inovasi Pelapis Daging, Mahasiswa UGM Raih Juara 3 Nasional

Must read

EDUCARE.CO.ID – Limbah cangkang telur berpotensi memiliki nilai guna lebih dari sekadar sisa konsumsi. Tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan gagasan pemanfaatannya sebagai bahan edible coating atau pelapis yang dapat dimakan untuk menjaga mutu daging.

Inovasi tersebut mengantarkan tim UGM meraih Juara 3 dalam Animal Science Paper Competition (ASPC) 2026. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga menyelenggarakan kompetisi tingkat nasional ini pada 1 November 2026.

Tim UGM terdiri atas Prima Cendekia Nirmala Afiatri, Bangkit Setiyoko, dan Nattaya Ashri Syahrazad. Ketiganya berasal dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Dalam mengembangkan karya ilmiah, mereka mendapat bimbingan dari Ir. Galuh Adi Insani, S.Pt., M.Sc., IPM.

Gagasan tim menggabungkan pemanfaatan cangkang telur dan ekstrak bunga telang. Mereka juga mengintegrasikan teknologi machine learning dan QR code untuk mendukung informasi produk, ketertelusuran bahan, serta pemantauan mutu daging.

Gabungkan Cangkang Telur dan Bunga Telang untuk Pelapis Daging

Tim UGM mengembangkan konsep edible coating dengan memanfaatkan cangkang telur sebagai salah satu bahan penyusunnya. Mereka mengombinasikan bahan tersebut dengan ekstrak bunga telang untuk menghadirkan pelapis sekaligus indikator alami kesegaran daging.

Gagasan ini menawarkan pendekatan pemanfaatan bahan sisa yang berpotensi memiliki nilai tambah. Cangkang telur yang kerap berakhir sebagai limbah dapat menjadi bahan untuk pengembangan inovasi di bidang pangan.

Sementara itu, ekstrak bunga telang menjadi bagian dari konsep indikator alami. Kombinasi kedua bahan tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan sistem pemantauan mutu daging.

Tim juga menambahkan aplikasi berbasis machine learning dan QR code. Kedua teknologi ini dirancang untuk mendukung penyampaian informasi produk, penelusuran asal bahan, dan pemantauan kualitas.

Meski menawarkan pendekatan multidisipliner, gagasan tersebut masih perlu melalui tahapan pengembangan dan pengujian lebih lanjut. Pengujian diperlukan untuk menilai karakteristik pelapis, keamanan bahan, kemampuan indikator, serta ketepatan sistem pemantauan sebelum penerapan lebih luas.

Perjalanan Tim UGM Menuju Juara ASPC 2026

Prestasi di ASPC 2026 lahir melalui proses pengembangan karya ilmiah yang melibatkan sejumlah tahapan. Tim terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahan, menelusuri literatur ilmiah, lalu merumuskan gagasan yang relevan dengan bidang peternakan dan pangan.

Setelah menyusun konsep solusi, para mahasiswa mengembangkan argumentasi ilmiah dan menyiapkan karya tulis untuk kompetisi. Mereka juga mempersiapkan penyampaian gagasan di hadapan dewan juri.

Dosen pembimbing, Ir. Galuh Adi Insani, S.Pt., M.Sc., IPM., menjelaskan bahwa kompetisi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus merumuskan solusi inovatif.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menawarkan gagasan baru. Mereka juga perlu menyusun argumentasi berdasarkan kajian ilmiah, mempertimbangkan manfaat, serta menjelaskan peluang penerapan solusi yang mereka kembangkan.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Gadjah Mada, proses pengembangan karya mencakup identifikasi masalah, penelusuran literatur, perumusan inovasi, penyusunan karya tulis, hingga persiapan presentasi di hadapan dewan juri.

Ketua Tim: Ingin Gagasan Tidak Berhenti sebagai Karya Kompetisi

Ketua tim, Prima Cendekia Nirmala Afiatri, menyampaikan rasa syukur atas pencapaian yang diraih bersama kedua rekannya. Ia menilai kompetisi tersebut memberi pengalaman berharga dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menyampaikan gagasan ilmiah.

“Meraih Juara 3 dalam Animal Science Paper Competition 2026 merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Kompetisi ini tidak hanya menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menyampaikan gagasan ilmiah, tetapi juga mengajarkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam merumuskan solusi terhadap berbagai tantangan di bidang peternakan, kesehatan hewan, dan pangan. Kami berharap gagasan yang telah kami kembangkan tidak berhenti sebagai karya kompetisi, melainkan dapat terus disempurnakan dan memiliki peluang untuk diimplementasikan sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tuturnya, Senin (2/11).

Prima berharap tim dapat melanjutkan pengembangan gagasan tersebut hingga memiliki peluang penerapan yang lebih luas. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menghasilkan solusi untuk berbagai persoalan di sektor peternakan, kesehatan hewan, dan pangan.

Kolaborasi Lintas Disiplin Dorong Inovasi Mahasiswa UGM

Keterlibatan mahasiswa dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Teknologi Pertanian memperlihatkan peran kolaborasi lintas bidang dalam pengembangan inovasi. Perpaduan perspektif keilmuan membantu tim merumuskan gagasan yang menghubungkan pemanfaatan bahan, teknologi pangan, dan sistem digital.

Prestasi ini sekaligus menunjukkan keterlibatan mahasiswa dalam membangun budaya akademik dan kompetisi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi. Melalui karya tulis dan riset, mahasiswa dapat mengangkat persoalan di masyarakat menjadi topik pengembangan solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Tim UGM berharap pencapaian tersebut dapat mendorong mereka memperluas kolaborasi dan meningkatkan kapasitas akademik. Mereka juga ingin mengembangkan inovasi yang tidak hanya memiliki kebaruan secara konseptual, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat.

Keberhasilan di ASPC 2026 diharapkan turut memotivasi mahasiswa UGM lainnya untuk aktif berkarya dan mengikuti kompetisi ilmiah. Dengan pengembangan serta pengujian lebih lanjut, gagasan mahasiswa berpeluang memberikan kontribusi bagi sektor peternakan, kesehatan hewan, dan ketahanan pangan Indonesia.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article