Bukan Sekadar Riset! 22 Konsorsium Kampus DIY Didorong Cari Solusi untuk Masalah Masyarakat

Must read

EDUCARE.CO.ID – Perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai memperkuat kolaborasi untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan daerah. Sebanyak 22 konsorsium perguruan tinggi kini menjadi wadah untuk menggabungkan kepakaran akademik dengan kebutuhan masyarakat.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mendorong agar kekuatan kampus tidak berhenti pada capaian akademik.

Keduanya menyampaikan hal tersebut dalam Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta (SSTY) 2026 yang digelar Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V pada Rabu (9/9/2026).

Berdasarkan rilis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), forum tersebut membahas kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan daerah melalui riset, sains, teknologi, dan inovasi.

22 Konsorsium Gabungkan Kepakaran Kampus

Fauzan menilai persoalan pembangunan daerah semakin kompleks. Karena itu, satu perguruan tinggi tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan secara mandiri.

Menurutnya, kampus perlu menggabungkan berbagai bidang keilmuan agar solusi yang lahir lebih komprehensif.

“Konsorsium bukan sekadar kumpulan institusi yang menandatangani nota kesepahaman. Konsorsium adalah pengakuan bahwa tidak ada satu perguruan tinggi, yang sanggup menjawab persoalan daerah itu secara sendirian. Misalnya stunting tidak bisa diselesaikan oleh fakultas kedokteran saja, ia butuh ahli gizi, ahli pertanian, ahli komunikasi, ahli ekonomi, dan ahli-ahli yang lain,” tegas Wamen Fauzan.

Melalui konsorsium, perguruan tinggi dapat mempertemukan berbagai kepakaran. Pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, dan pemangku kepentingan lain juga dapat ikut masuk dalam proses tersebut.

Pendekatan ini mendorong kampus memulai kerja dari persoalan nyata. Setelah itu, perguruan tinggi dapat menentukan kepakaran dan sumber daya yang mereka perlukan untuk mencari solusi.

Kemiskinan hingga Ketahanan Pangan Jadi Fokus

DIY memiliki ekosistem pendidikan tinggi yang kuat. Namun, daerah tersebut juga menghadapi sejumlah persoalan sosial dan ekonomi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin DIY mencapai 10,08 persen pada September 2025. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka pada November 2025 tercatat 3,30 persen.

Kondisi tersebut membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk memberikan kontribusi yang lebih konkret.

Di DIY, sebanyak 22 konsorsium melibatkan 14 perguruan tinggi negeri dan swasta. Kelompok tersebut telah berkoordinasi dengan lima pemerintah kabupaten/kota di DIY.

Selain itu, mereka juga memetakan kepakaran berdasarkan klaster prioritas pembangunan daerah.

Fokusnya cukup beragam. Beberapa di antaranya mencakup:

  • kemiskinan dan layanan dasar,
  • kesehatan,
  • ketahanan iklim,
  • ketahanan pangan,
  • UMKM dan ekonomi kreatif,
  • pariwisata dan budaya,
  • lingkungan dan persampahan,
  • pendidikan,
  • serta ruang publik.

Dengan pemetaan tersebut, kampus dapat mengarahkan riset dan inovasi sesuai kebutuhan setiap wilayah.

LLDikti Wilayah V Perkuat Kolaborasi

Kepala LLDikti Wilayah V Setyabudi Indartono menjelaskan bahwa konsorsium bertujuan mempertemukan kepakaran perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan yang telah pemerintah daerah identifikasi.

Konsorsium tersebut juga melibatkan para doktor dan profesor. Mereka ikut mendukung pemetaan klaster pembangunan di lima kabupaten/kota DIY.

Setyabudi menilai konsorsium dapat memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat inovasi. Selain itu, perguruan tinggi dapat mengambil peran lebih besar sebagai penggerak pembangunan.

“Kegiatan ini adalah momentum strategis untuk menguatkan posisi Yogyakarta sebagai pusat inovasi dan tempat perguruan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan bangsa. Sarasehan ini hadir sebagai wadah implementasi kolaborasi saintis dan inovator untuk mempercepat pembangunan bangsa melalui konsorsium PTN dan PTS se-DIY,” ujar Setyabudi.

Dengan demikian, konsorsium tidak hanya menjadi forum komunikasi antarkampus. Model tersebut juga membuka peluang kerja bersama berdasarkan persoalan yang benar-benar muncul di masyarakat.

Sri Sultan: Ilmu Pengetahuan Harus Kembali ke Masyarakat

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan pentingnya manfaat nyata dari ilmu pengetahuan.

Menurutnya, keberadaan kampus yang dekat secara geografis dengan masyarakat belum tentu membuat pengetahuan dan persoalan warga saling terhubung.

Karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan hasil ilmu pengetahuan dapat menjawab kebutuhan masyarakat.

“Ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab pada akhirnya selalu membawa kita kepada satu pertanyaan sederhana: siapa yang hidupnya menjadi lebih baik karena pengetahuan itu hadir?” ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya orientasi riset yang tidak hanya mengejar publikasi. Perguruan tinggi juga perlu melihat dampak penelitian terhadap kehidupan masyarakat.

Konsorsium Sejalan dengan Diktisaintek Berdampak

Penguatan konsorsium perguruan tinggi di DIY menjadi bagian dari implementasi Diktisaintek Berdampak.

Melalui pendekatan tersebut, Kemdiktisaintek mendorong pendidikan tinggi, riset, dan inovasi agar memberikan manfaat yang dapat masyarakat rasakan.

Agenda ini juga sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam Asta Cita. Pemerintah menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pembangunan inklusif sebagai bagian penting menuju Indonesia Emas 2045.

Karena itu, konsorsium dapat menjadi jembatan antara pengetahuan akademik, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan masyarakat.

Kampus Didorong Jadi Bagian dari Solusi

Pembentukan 22 konsorsium di DIY menunjukkan upaya perguruan tinggi untuk memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan daerah.

Alih-alih bekerja sendiri-sendiri, kampus dapat menggabungkan sumber daya, jaringan, dan kepakaran. Pemerintah daerah pun dapat menyampaikan kebutuhan yang perlu mendapat dukungan riset dan inovasi.

Dengan pola tersebut, setiap konsorsium dapat mengembangkan solusi yang lebih sesuai dengan karakter persoalan di daerah.

Ke depan, kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan program yang terukur dan berkelanjutan. Hasilnya pun tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan akademik, tetapi juga bagi masyarakat.

Pada akhirnya, pengalaman DIY melalui 22 konsorsium membuka peluang bagi lahirnya model kolaborasi perguruan tinggi yang lebih kuat.

Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat menghasilkan pengetahuan. Kampus juga dapat mengambil peran sebagai bagian dari solusi atas persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan di masyarakat.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article