Bukan Cuma Makan Gratis! SEAMEO RECFON Dorong Edukasi Gizi Sehat di Sekolah

Must read

EDUCARE.CO.ID – Gizi tidak bisa dipisahkan dari kualitas pendidikan. Murid membutuhkan asupan yang cukup agar dapat mengikuti proses belajar dengan optimal.

Pesan tersebut mengemuka dalam Konferensi Pers Pertemuan Dewan Pembina (Governing Board Meeting/GBM) ke-16 SEAMEO RECFON di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

SEAMEO RECFON merupakan salah satu dari tujuh pusat regional di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Pertemuan tahunan itu mempertemukan 11 anggota Dewan Pembina dari negara-negara anggota SEAMEO.

Dalam agenda tersebut, SEAMEO RECFON meluncurkan tiga policy brief berbasis bukti ilmiah. Ketiganya membahas penguatan kebijakan pangan dan gizi untuk mendukung kesehatan serta kualitas pembelajaran murid di Indonesia dan Asia Tenggara.

Berdasarkan Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 801/sipers/A6/IX/2026, pemerintah melihat riset dan data sebagai bagian penting dalam merancang kebijakan gizi sekolah.

Suharti: Murid Lapar Sulit Belajar Optimal

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menegaskan bahwa gizi berkualitas menjadi salah satu fondasi keberhasilan pendidikan anak.

Menurutnya, kualitas sekolah, kompetensi guru, dan kurikulum yang baik belum cukup jika murid datang ke kelas dalam kondisi lapar atau kekurangan gizi.

“Gizi yang baik adalah kondisi yang memungkinkan proses pembelajaran secara optimal. Murid mungkin belajar di sekolah yang bagus, guru yang profesional, dan kurikulum yang sesuai, tetapi jika murid tersebut datang ke kelas dalam keadaan lapar atau kurang gizi, pembelajaran yang optimal akan sulit terjadi,” tegas Suharti.

Suharti juga mengapresiasi kontribusi SEAMEO RECFON dalam mendukung Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.

Data tersebut mencatat penurunan angka stunting balita dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024.

Selain itu, Suharti menyoroti peluang besar dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 60 juta murid pada 2027.

Menurutnya, MBG dapat menjadi momentum untuk memperkuat edukasi gizi, keamanan pangan, dan kebiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah.

SEAMEO RECFON Perkuat Data Gizi Mikro

Direktur SEAMEO RECFON, Rini Sekartini, menjelaskan policy brief pertama. Kajian tersebut mendorong penguatan sistem biomarker zat gizi mikro dalam SSGI 2026.

SEAMEO RECFON mengusulkan pemanfaatan teknologi multiplex immunoassay serta peningkatan kapasitas laboratorium.

Pendekatan itu dapat membantu meningkatkan akurasi data. Selain itu, pemerintah dapat melakukan evaluasi percepatan penurunan stunting secara lebih efisien.

Rini menilai riset perlu terhubung langsung dengan kebijakan dan praktik di lapangan.

“Peluncuran policy brief ini merupakan wujud nyata mandat kami dalam menjembatani sains, kebijakan, dan praktik. Penguatan biomarker zat gizi mikro berguna untuk mendukung penetapan prioritas dan evaluasi kebijakan percepatan penurunan stunting di Indonesia yang lebih efektif dan efisien,” jelas Rini.

Dengan data yang lebih kuat, pemerintah memiliki dasar yang lebih baik untuk menentukan prioritas intervensi gizi.

Anemia Murid Perlu Dilihat dari Akar Masalah

Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON, Brian Sri Prahastuti, turut menyoroti persoalan anemia pada murid.

Menurut Brian, pemerintah perlu melihat penyebab anemia secara lebih menyeluruh. Pemeriksaan yang lebih lengkap dapat membantu menentukan intervensi yang sesuai.

“Anemia menjadi perhatian kami karena berhubungan langsung dengan kemampuan murid untuk menangkap pelajaran akibat berkurangnya suplai oksigen ke sel-sel otak. Dengan sekali pemeriksaan darah yang lebih lengkap, kita dapat memberikan rekomendasi intervensi yang jauh lebih tepat sasaran,” tutur Brian.

Karena itu, deteksi masalah gizi perlu berjalan bersama penguatan data. Pendekatan tersebut dapat membantu kebijakan menjangkau kebutuhan murid secara lebih tepat.

Riset 4.219 Murid Temukan Kesenjangan Gizi

Policy brief kedua membahas Penerapan Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal (PGS-PL) dalam Kebijakan Gizi Sekolah.

Kajian ini melibatkan 4.219 murid berusia 7–18 tahun. Peneliti mengambil data dari 12 kabupaten/kota di 12 provinsi.

Tim menggunakan WHO Optifood untuk menganalisis kebutuhan dan kesenjangan asupan zat gizi mikro.

Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan pada sejumlah zat gizi. Kesenjangan asupan folat mencapai 100 persen, sedangkan kalsium mencapai 78 persen.

Sementara itu, kesenjangan asupan vitamin A mencapai 25 persen. Peneliti juga menemukan persoalan pada asupan vitamin C dan zinc.

Temuan tersebut menjadi dasar untuk menyusun siklus menu selama tujuh hari. Tim menyusun menu dengan memanfaatkan pangan dan kuliner lokal.

Menu Lokal Dukung Pelaksanaan MBG

Hasil kajian tersebut dapat menjadi rujukan bagi pemerintah pusat dan daerah. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta sekolah juga dapat memanfaatkannya dalam penyusunan menu lokal.

Kajian ini berlangsung sebelum program MBG berjalan. Karena itu, hasil penelitian menggambarkan kondisi kesenjangan gizi mikro sebelum program tersebut diterapkan.

Temuan tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan persoalan gizi antardaerah.

Setiap wilayah memiliki potensi pangan lokal yang berbeda. Karena itu, penyusunan menu perlu mempertimbangkan bahan pangan yang tersedia di masing-masing daerah.

Pendekatan berbasis pangan lokal dapat membuat menu sekolah lebih sesuai dengan potensi wilayah. Pada saat yang sama, langkah tersebut dapat memperkenalkan kekayaan pangan lokal kepada murid.

Program Gizi Sekolah Diperkuat di Tingkat ASEAN

Policy brief ketiga berfokus pada penguatan implementasi program gizi sekolah di kawasan ASEAN.

SEAMEO RECFON mendorong penjaminan mutu dan pemantauan regional. Langkah ini bertujuan memperkuat pelaksanaan program gizi sekolah di negara-negara mitra.

Deputi Direktur Administrasi SEAMEO RECFON, M. Dzaky F. Surapranata, mengatakan lembaganya telah mendampingi sejumlah negara melalui program Gizi untuk Prestasi atau Nutrition Goes to School.

“Melalui program unggulan Gizi untuk Prestasi atau Nutrition Goes to School, kami telah mendampingi negara mitra seperti Laos dan Kamboja,” ujar Dzaky.

Di Indonesia, pendekatan tersebut berjalan sejalan dengan penguatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) di Kemendikdasmen.

Salah satu fokusnya ialah membangun kebiasaan makan sehat dan bergizi sejak usia sekolah.

Sains, Kebijakan, dan Sekolah Perlu Terhubung

Peluncuran tiga policy brief memperkuat posisi SEAMEO RECFON sebagai Centre of Excellence sekaligus regional knowledge hub di bidang pangan dan gizi Asia Tenggara.

Ketiga kajian tersebut menunjukkan pentingnya hubungan antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan praktik.

Bagi sekolah, kebijakan gizi bukan hanya soal menyediakan makanan. Sekolah juga memiliki ruang untuk membangun pengetahuan dan kebiasaan hidup sehat pada murid.

Sementara itu, pemerintah membutuhkan data yang kuat untuk menentukan program dan prioritas intervensi.

Dengan demikian, riset dapat menjadi dasar untuk memperbaiki kebijakan gizi. Pangan lokal juga dapat mengambil peran lebih besar dalam mendukung kebutuhan nutrisi murid.

Kemendikdasmen melalui SEAMEO RECFON berkomitmen memperkuat kebijakan gizi, pemanfaatan pangan lokal, dan edukasi di lingkungan sekolah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun generasi murid Indonesia dan Asia Tenggara yang sehat, cerdas, serta berdaya saing.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article