EDUCARE.CO.ID – Pemulihan pendidikan setelah bencana tidak cukup hanya dengan memperbaiki ruang kelas dan fasilitas sekolah. Kondisi psikologis murid dan guru juga perlu mendapat perhatian agar kegiatan belajar dapat kembali berjalan dengan baik.
Hal tersebut menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) setelah gempa bumi melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah memberikan dukungan psikososial bagi murid dan guru yang terdampak bencana.
Berdasarkan sumber rilis Kemendikdasmen, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pemulihan pascagempa mencakup dua aspek, yaitu pemulihan kondisi mental serta perbaikan sarana dan prasarana pendidikan.

Pemulihan Mental Jadi Bagian dari Penanganan Bencana
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa Kemendikdasmen menggandeng berbagai pihak untuk membantu murid kembali merasa aman setelah mengalami gempa.
Salah satunya melalui kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Tim psikologi memberikan pendampingan dengan kegiatan yang mendorong anak untuk kembali ceria dan berani beraktivitas.
“Untuk pemulihan mental, ini kan ada dua yang kami lakukan. Pertama, tadi ada teman-teman dari tim HIMPSI yang bekerja sama dengan kami untuk memberikan semangat seperti tadi yang kita lakukan. Anak-anak kita dibuat ceria, gembira,” ujar Abdul Mu’ti pada Senin (24/8).
Selain HIMPSI, sejumlah organisasi sosial dan perguruan tinggi juga ikut membantu masyarakat yang terdampak gempa.
Menurut Abdul Mu’ti, kolaborasi tersebut penting agar anak-anak tidak terus berada dalam kondisi trauma setelah bencana.
“Kami intinya bekerja sama dengan semua pihak agar masyarakat, terutama anak-anak, ini terbebas dari trauma dengan berbagai macam kegiatan dan penyuluhan psikologi,” katanya.
Sementara itu, pemerintah secara bertahap melakukan pembangunan fisik dan rekonstruksi melalui dana revitalisasi.
Murid Masih Mengalami Cemas akibat Gempa Susulan
Pendampingan psikologis diperlukan karena sebagian murid masih merasakan kecemasan setelah gempa. Temuan tersebut muncul dari asesmen awal yang dilakukan tim HIMPSI di Kabupaten Ngada dan Nagekeo.
Ketua Divisi Program Kebencanaan Korps Relawan Bencana Himpunan Psikologi Indonesia (KRESNA HIMPSI), Yuria Ekalitani, mengatakan tim masih menemukan murid yang takut menghadapi kemungkinan gempa susulan.
“Masih kami jumpai sebagian besar siswa merasa cemas dan takut karena gempa susulan,” jelas Yuria.
Kecemasan tersebut muncul dalam berbagai bentuk. Beberapa murid mengalami kesulitan tidur, takut masuk ke dalam rumah, hingga enggan menutup pintu karena khawatir gempa kembali terjadi.
Selain itu, sebagian murid juga mengalami kesulitan berkonsentrasi. Kondisi tersebut tentu dapat mengganggu aktivitas belajar dan membuat proses pemulihan membutuhkan waktu.
Tenda Gembira Bantu Anak Mengelola Rasa Takut

Untuk membantu murid menghadapi kondisi tersebut, HIMPSI menghadirkan kegiatan Tenda Gembira.
Kegiatan ini menggunakan aktivitas bermain yang tersusun secara terarah. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak dapat kembali beraktivitas dalam suasana yang lebih nyaman sekaligus membangun rasa aman setelah mengalami bencana.
Tim HIMPSI juga mengenalkan teknik stabilisasi emosi. Teknik tersebut membantu anak mengenali dan mengelola rasa takut serta kecemasan yang muncul setelah gempa.
Pendekatan melalui permainan membuat proses pendampingan terasa lebih ringan bagi anak. Mereka tidak hanya diajak membicarakan pengalaman traumatis, tetapi juga memperoleh ruang untuk bermain dan berinteraksi.
Guru Juga Mendapat Pendampingan Psikologis
Dukungan psikososial tidak hanya menyasar murid. Guru dan tenaga kependidikan juga mendapat pendampingan karena mereka memiliki peran penting dalam membantu siswa selama masa pemulihan.
HIMPSI memberikan psikoedukasi mengenai dukungan psikologis awal kepada para guru. Tim juga menjalankan kegiatan Supportive, Accompaniment, Psychosocial, Assistance (SAPA).
Melalui SAPA, tim menyapa guru terdampak secara langsung sekaligus melakukan asesmen psikososial. Hasil asesmen membantu tim memahami kondisi psikologis guru setelah bencana.
Yuria menilai guru juga perlu memiliki kemampuan dasar untuk memberikan dukungan psikososial kepada siswa.
“Untuk bisa lebih terlatih, guru perlu mendapatkan pelatihan untuk memberikan layanan dukungan psikososial kepada siswa didik,” ujarnya.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena guru berinteraksi dengan murid setiap hari. Mereka dapat menjadi salah satu pihak pertama yang melihat perubahan perilaku siswa setelah mengalami bencana.
Murid Mulai Merasa Lebih Tenang
Pendampingan psikososial mulai memberikan perubahan yang dirasakan oleh sejumlah murid. Salah satunya Felix Axelleon Naweng, murid yang terdampak gempa di Ngada.
Setelah mengikuti kegiatan dukungan psikososial, Felix mengaku lebih tenang ketika menceritakan kembali pengalamannya saat gempa.
“Ya, ada pengaruh. Setelah ada kegiatan tersebut, saya sudah lebih fokus dan tenang ketika bercerita tentang gempa,” kata Felix.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ruang aman dan pendampingan dapat membantu anak menghadapi kembali pengalaman bencana secara lebih tenang.
Pemulihan Pendidikan Tak Hanya soal Bangunan
Gempa bumi dapat meninggalkan dampak yang lebih panjang daripada kerusakan bangunan sekolah. Rasa takut, kecemasan, gangguan tidur, dan kesulitan berkonsentrasi juga dapat memengaruhi proses belajar anak.
Karena itu, pemulihan pendidikan membutuhkan perhatian terhadap kondisi fisik sekaligus psikologis. Kemendikdasmen pun menggandeng HIMPSI, organisasi sosial, serta perguruan tinggi untuk memperkuat dukungan bagi masyarakat terdampak.
Di sisi lain, guru perlu mendapat bekal agar mampu mendampingi siswa selama masa pemulihan. Dengan dukungan yang tepat, lingkungan sekolah dapat kembali menjadi ruang yang aman bagi anak untuk belajar dan beraktivitas.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan pendidikan tetap berjalan dan anak-anak terdampak bencana memperoleh kesempatan untuk pulih secara bertahap.


