EDUCARE.CO.ID – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), rekayasa biomedis, dan teknologi kesehatan digital membuka peluang baru bagi layanan kesehatan di Indonesia. Namun, inovasi tidak cukup hanya menjadi hasil penelitian atau prototipe di laboratorium.
Teknologi perlu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Karena itu, peneliti, tenaga medis, pemerintah, industri, dan perguruan tinggi perlu bekerja bersama agar inovasi dapat berkembang menjadi solusi yang mudah diakses.
Isu tersebut menjadi perhatian dalam BINUS HealthTech Festival 2026 di Kampus BINUS Anggrek. Festival bertema Navigating Future Health Technology to Support Indonesia Universal Health Coverage (UHC) ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di bidang kesehatan.
Berdasarkan sumber rilis resmi BINUS University, rangkaian BINUS HealthTech Festival 2026 berakhir pada 27 Agustus 2026. Melalui kegiatan ini, BINUS University mendorong pengembangan teknologi kesehatan yang lebih inklusif, relevan, dan terjangkau.
Teknologi Hadir untuk Menjawab Tantangan Kesehatan
Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam menyediakan layanan kesehatan yang merata. Kondisi geografis yang luas, kesenjangan akses antarwilayah, dan keterbatasan tenaga kesehatan masih menjadi persoalan penting.
Selain itu, meningkatnya beban penyakit juga menuntut sistem kesehatan untuk terus beradaptasi. Biaya pelayanan kesehatan pun menjadi perhatian bagi banyak masyarakat.
Di sisi lain, perkembangan teknologi menawarkan peluang baru.
AI dapat membantu tenaga kesehatan menganalisis data dan mendukung pengambilan keputusan. Sementara itu, teknologi kesehatan digital dapat memperluas layanan jarak jauh dan memperbaiki pengelolaan data medis.
Rekayasa biomedis juga membuka jalan bagi pengembangan perangkat kesehatan yang lebih efektif. Namun, semua inovasi tersebut membutuhkan proses panjang sebelum masyarakat dapat merasakan manfaatnya.
Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi kesehatan.
Universal Health Coverage Bukan Sekadar Soal Cakupan
Vice Rector for Research and Technology Transfer BINUS University, Prof. Dr. Juneman Abraham, M.Psi., menilai Universal Health Coverage tidak hanya berbicara tentang jumlah masyarakat yang masuk dalam sistem kesehatan.
Menurutnya, masyarakat harus benar-benar memperoleh layanan berkualitas ketika membutuhkan pertolongan medis.
“BINUS HealthTech Festival hadir untuk mendorong agar inovasi AI, biomedis, dan teknologi kesehatan tidak berhenti sebagai riset, tetapi dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata dan terjangkau bagi masyarakat,” ujar Juneman.
Karena itu, BINUS University mendorong perguruan tinggi untuk membangun kerja sama yang lebih kuat dengan pemerintah, industri, rumah sakit, dan lembaga riset.
Melalui kolaborasi tersebut, inovasi dapat bergerak dari tahap penelitian menuju penerapan di lapangan.
BINUS Ingin Riset Kesehatan Sampai ke Masyarakat
Penanggung jawab BINUS HealthTech Festival 2026, Dr. Syauqi Abdurrahman Abrori, menegaskan bahwa hasil penelitian harus memberi dampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, peneliti tidak boleh membiarkan inovasi berhenti sebagai karya akademik.
“Visi kami sederhana: riset dan teknologi kesehatan harus sampai ke masyarakat, tidak berhenti di laboratorium. BINUS HealthTech Festival 2026 merupakan upaya kami membangun jembatan interdisipliner dengan merangkul industri, akademisi, pemerintah, dan pihak klinis untuk menghilirkan riset menjadi solusi kesehatan yang relevan dan terjangkau,” kata Syauqi.
Pendekatan tersebut membuka ruang bagi peneliti untuk memahami persoalan kesehatan secara lebih nyata.
Di sisi lain, tenaga medis dapat memberikan masukan berdasarkan pengalaman mereka di lapangan. Industri juga dapat membantu mengembangkan teknologi agar lebih siap digunakan.
Dengan begitu, setiap pihak dapat mengambil peran dalam membawa inovasi menuju masyarakat.
Hadirkan Kolaborasi Pemerintah hingga Industri
BINUS HealthTech Festival 2026 menghadirkan sejumlah kegiatan yang berfokus pada pengembangan teknologi kesehatan.
Rangkaian acara mencakup Youth HealthTech Innovator, Research Short Course in Advanced Medical Informatics, dan HealthTech R&D Exhibition.
Selain itu, BINUS University juga menggelar Indonesia–UK Research Translation Forum in Health bersama British Council dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Festival tersebut juga menghadirkan BINUS HealthTech Festival Plenary Seminar.
Seminar ini mengangkat tema “Innovating for Universal Health Coverage: Technology, Policy, and Partnership”.
Forum tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan tenaga klinis untuk membahas masa depan teknologi kesehatan Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie, Ph.D., serta Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran berbagai pemangku kepentingan menunjukkan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.
BINUS Perluas Kerja Sama dengan Rumah Sakit
BINUS HealthTech Festival 2026 juga menjadi momentum bagi BINUS University untuk memperkuat kemitraan.
Dalam kegiatan tersebut, BINUS University menjalin Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan RSD Gunung Jati Cirebon, RS An-Nisa Tangerang, dan Program Studi Teknologi Kedokteran Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Kerja sama ini berfokus pada pengembangan, validasi, dan penerapan teknologi kesehatan.
Rumah sakit memiliki peran penting dalam proses pengembangan inovasi. Tenaga kesehatan dapat memberikan masukan terhadap teknologi yang peneliti kembangkan.
Selain itu, lingkungan klinis dapat membantu peneliti memahami kebutuhan pengguna secara langsung.
Sementara itu, kerja sama dengan perguruan tinggi membuka peluang penelitian lintas disiplin dan memperluas pengembangan teknologi.
Pamerkan Berbagai Inovasi HealthTech
BINUS University turut menghadirkan pameran riset dan pengembangan bertajuk “Affordable Health Technology Innovations for Inclusive and Sustainable Healthcare”.
Pameran tersebut menampilkan berbagai purwarupa, perangkat, dan hasil penelitian di bidang teknologi kesehatan.
BINUS HealthTech Advanced Laboratory mengembangkan sejumlah inovasi bersama berbagai institusi pendidikan dan riset.
Kolaborasi tersebut melibatkan Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selain institusi akademik, sejumlah mitra industri juga ikut berpartisipasi. Di antaranya Halodoc, Medimedi, dan GTM.
Principal Investigator BINUS HealthTech Advanced Laboratory, Dr. Nur Afny Catur Andryani, mengatakan teknologi kesehatan perlu mempertimbangkan kemampuan masyarakat untuk mengaksesnya.
“Teknologi harus dapat diterapkan termasuk di daerah dengan keterbatasan sumber daya, tanpa mengurangi kualitas layanan,” ujarnya.
Menurutnya, inovasi tidak cukup hanya menawarkan teknologi canggih. Pengembang juga perlu memikirkan keterjangkauan dan kondisi wilayah yang akan menggunakan teknologi tersebut.
Pelajar Ikut Menciptakan Solusi Kesehatan
BINUS HealthTech Festival 2026 juga membuka ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan gagasan di bidang kesehatan.
Melalui kompetisi Youth HealthTech Innovator 2026, siswa sekolah menengah atas dari berbagai wilayah Indonesia dapat menawarkan ide teknologi kesehatan yang lebih terjangkau.
Kompetisi tersebut mendorong peserta untuk melihat persoalan kesehatan di sekitar mereka.
Selain itu, peserta juga mengembangkan solusi yang dapat membantu masyarakat, termasuk komunitas di wilayah pedesaan.
BINUS University turut menghadirkan diskusi panel bertema “From Innovation to Impact: Translating Health Technology into Equitable Care”.
Diskusi tersebut membahas perjalanan sebuah inovasi, mulai dari tahap gagasan hingga penerapan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Teknologi Harus Membawa Dampak Nyata
Melalui BINUS HealthTech Festival 2026, BINUS University kembali menekankan pentingnya hubungan antara riset, teknologi, kebijakan, industri, dan pelayanan kesehatan.
Sebuah inovasi kesehatan tidak hanya membutuhkan teknologi yang unggul. Inovasi tersebut juga harus sesuai dengan kebutuhan pengguna dan mudah diakses oleh masyarakat.
Karena itu, pengembang perlu mempertimbangkan aspek keterjangkauan sejak awal proses penelitian.
AI, teknologi kesehatan digital, dan rekayasa biomedis memiliki potensi besar untuk memperkuat layanan kesehatan Indonesia.
Namun, masyarakat baru dapat merasakan manfaat teknologi ketika peneliti berhasil membawa inovasi keluar dari laboratorium dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kolaborasi lintas sektor, BINUS University berharap teknologi kesehatan dapat berkembang menjadi solusi yang relevan, terjangkau, dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia.


