EDUCARE.CO.ID – Meningkatnya aktivitas belanja online membuat kebutuhan kemasan pelindung ikut melonjak. Bubble wrap, styrofoam, dan packing peanuts masih banyak digunakan untuk menjaga barang tetap aman selama proses pengiriman.
Namun, penggunaan material tersebut juga menimbulkan persoalan lingkungan karena sebagian besar sulit terurai dan berpotensi menjadi limbah dalam jangka panjang.
Berangkat dari persoalan itu, tim mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan Sukoo-Pack, pelindung kemasan ramah lingkungan berbahan dasar pati buah sukun. Produk ini menawarkan alternatif void filling atau pengisi ruang kosong dalam paket yang dapat menggantikan penggunaan styrofoam dan material pelindung berbahan plastik.
Berdasarkan sumber resmi Universitas Brawijaya, inovasi tersebut membawa tim mahasiswa UB meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) Tahun 2026.
Berawal dari Masalah Limbah Kemasan
Pertumbuhan transaksi e-commerce membuat aktivitas pengiriman barang semakin masif. Setiap paket membutuhkan perlindungan agar produk tidak rusak saat berpindah dari penjual ke konsumen.
Karena itu, banyak pelaku usaha menggunakan bubble wrap, styrofoam, dan berbagai jenis pelindung kemasan lainnya.
Sayangnya, material tersebut dapat menambah volume sampah. Limbah plastik juga berisiko terurai menjadi mikroplastik yang kemudian mencemari lingkungan.
Tim Sukoo-Pack melihat persoalan tersebut sebagai peluang untuk menghadirkan solusi baru.
Mereka menyoroti tingginya aktivitas e-commerce di Indonesia. Pada kuartal III 2025, transaksi e-commerce mencapai sekitar 1,44 miliar transaksi dengan pertumbuhan tahunan sebesar 20,5 persen.
Pertumbuhan tersebut turut meningkatkan kebutuhan kemasan pelindung dalam aktivitas pengiriman sehari-hari.
Selain itu, tim juga mengutip data yang menunjukkan aktivitas e-commerce dan logistik berkontribusi terhadap sampah plastik perkotaan.
Lima Mahasiswa UB Kembangkan Sukoo-Pack
Tim pengembang Sukoo-Pack terdiri atas lima mahasiswa dari berbagai program studi di Universitas Brawijaya.
Brevarian Raphael Benung dari Teknik Industri memimpin tim tersebut. Ia bekerja bersama Aprilita Najwa Kurniawati dari Kimia, Komang Wahyu Pramudya Widya Putra dari Akuntansi, Naurah Shadrina dari Teknik Industri, dan Ni Made Oktia Paramitha Dewi dari Teknik Industri.
Dosen Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik UB, Ir. Wifqi Azlia, S.T., M.T., IPM., mendampingi tim selama proses pengembangan produk.
Melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan, tim tersebut mengembangkan Sukoo-Pack sebagai packing peanuts biodegradable berbahan dasar pati sukun.
“Kami ingin menghadirkan kemasan pelindung yang tidak hanya fungsional, tetapi juga bisa terurai secara alami tanpa meninggalkan residu berbahaya. Sukun kami pilih karena bahannya lokal, melimpah, dan selama ini belum banyak dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Brevarian.
Kenapa Memilih Buah Sukun?
Tim memilih sukun atau Artocarpus altilis sebagai bahan utama karena tanaman ini tersedia cukup melimpah di Indonesia.
Selama ini, masyarakat belum memanfaatkan potensi sukun secara maksimal. Padahal, buah tersebut memiliki kandungan pati yang tinggi.
Kandungan pati tersebut memberi peluang bagi tim untuk mengolah sukun menjadi biopolimer yang lebih ramah lingkungan.
Dalam proses pembuatannya, tim mencampurkan pati sukun dengan gliserol sebagai plasticizer nabati. Bahan ini membantu menjaga material agar tidak mudah rapuh.
Selanjutnya, tim membentuk bahan tersebut melalui metode microwave assisted foaming.
Proses itu menghasilkan butiran ringan dan berpori yang menyerupai packing peanuts. Struktur tersebut membantu material meredam benturan sekaligus mengisi ruang kosong di dalam kemasan.
Dirancang untuk Meredam Benturan
Tim tidak hanya berfokus pada bahan ramah lingkungan. Mereka juga menguji kemampuan Sukoo-Pack sebagai pelindung barang.
Tim melakukan pengujian terhadap kekuatan material dan kemampuan meredam benturan. Selain itu, mereka juga menguji ketahanan terhadap kelembapan.
Selanjutnya, tim mengukur tingkat biodegradabilitas produk dengan mengacu pada standar ASTM.
Hasil pengembangan menunjukkan Sukoo-Pack memiliki potensi sebagai material pelindung yang dapat digunakan dalam proses pengemasan dan pengiriman barang.
Produk tersebut juga menawarkan keunggulan dari sisi waktu penguraian.
Tim mengklaim Sukoo-Pack dapat terurai secara alami dalam waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Sebagai perbandingan, packing peanuts berbahan polistirena dapat membutuhkan waktu lebih dari 500 tahun untuk terurai.
UMKM dan Pelaku Logistik Jadi Target Pasar
Sebelum mengembangkan produk, tim melakukan survei awal kepada pelaku usaha dan pengguna jasa logistik.
Survei tersebut menunjukkan banyak responden menggunakan kemasan pelindung secara rutin dalam jumlah cukup besar.
Namun, sebagian responden menilai produk yang tersedia di pasar masih memiliki beberapa persoalan. Selain kurang ramah lingkungan, beberapa jenis kemasan pelindung juga memiliki harga yang relatif tinggi.
Karena itu, tim melihat peluang Sukoo-Pack untuk menjawab kebutuhan pasar.
Produk ini nantinya menyasar pelaku UMKM, bisnis e-commerce, hingga perusahaan yang membutuhkan solusi kemasan dalam jumlah besar.
Tim juga berencana mengembangkan pemasaran melalui skema business to business atau B2B.
Dijual Mulai Rp9.000 per Kemasan
Sukoo-Pack hadir dalam kemasan kantong transparan biodegradable berbahan dasar singkong.
Tim menyiapkan dua pilihan ukuran untuk konsumen.
Kemasan berukuran 0,5 liter dibanderol sekitar Rp9.000. Sementara itu, kemasan berukuran 1 liter dijual dengan harga sekitar Rp15.000.
Survei lanjutan yang dilakukan tim menunjukkan respons positif dari calon konsumen.
Sebanyak 98,1 persen responden menyatakan tertarik mencoba pelindung kemasan berbahan sukun tersebut.
Ketertarikan itu muncul karena responden mempertimbangkan kemampuan produk dalam melindungi barang, aspek ramah lingkungan, serta harga yang ditawarkan.
“Harapan kami, SUKOO-PACK tidak berhenti sebagai proyek pendanaan semata, tetapi dapat tumbuh menjadi usaha yang benar-benar berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi lingkungan,” kata Brevarian.
Inovasi Sukun untuk Kurangi Limbah Kemasan
Saat ini, tim Sukoo-Pack memasuki tahap produksi dan validasi pasar. Mereka terus menyempurnakan formulasi produk sebelum memperluas pemasaran.
Ke depan, tim ingin membawa produk tersebut ke pasar yang lebih luas melalui kerja sama dengan pelaku usaha dan platform e-commerce.
Inovasi ini menunjukkan bahwa bahan pangan lokal juga memiliki potensi besar di luar kebutuhan konsumsi.
Melalui pengembangan Sukoo-Pack, mahasiswa UB mencoba mengubah sukun menjadi solusi untuk dua persoalan sekaligus, yakni pemanfaatan sumber daya lokal dan pengurangan limbah kemasan.
Jika pengembangan produk terus berjalan, Sukoo-Pack berpeluang menjadi salah satu alternatif pelindung kemasan yang lebih ramah lingkungan bagi industri pengiriman dan perdagangan digital.


