EDUCARE.CO.ID – Beras menjadi salah satu makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. Selain beras biasa, kini tersedia pula beras fortifikasi yang mengandung tambahan zat gizi tertentu.
Sekilas, keduanya terlihat hampir sama. Namun, beras fortifikasi vs beras biasa memiliki sejumlah perbedaan.
Perbedaannya mencakup kandungan nutrisi, sumber zat gizi, proses produksi, hingga cara mencuci sebelum memasak.
Berdasarkan informasi dari Dayi Extruder Machine, berikut sejumlah perbedaan beras fortifikasi dan beras biasa yang perlu diketahui.
1. Kandungan Nutrisi Berbeda
Beras biasa memperoleh sebagian besar zat gizinya dari kandungan alami beras.
Jumlah nutrisi tersebut dapat berbeda. Varietas beras, kondisi tanah, serta proses pengolahan dapat memengaruhi kandungannya.
Proses penggilingan dan pemolesan juga dapat mengurangi sebagian vitamin serta mineral yang terdapat pada beras.
Sementara itu, produsen menambahkan zat gizi tertentu ke dalam beras fortifikasi.
Beberapa zat gizi yang dapat terdapat dalam beras fortifikasi antara lain zat besi, asam folat, vitamin A, vitamin B12, zinc, vitamin B1, dan vitamin B3.
Penambahan tersebut bertujuan meningkatkan asupan mikronutrien dari makanan pokok.
2. Sumber Zat Gizinya Tidak Sama
Beras biasa memperoleh nutrisi dari beras itu sendiri.
Kandungan tersebut bergantung pada jenis beras dan proses pengolahannya.
Beras fortifikasi mendapat tambahan nutrisi dari luar. Produsen memasukkan zat gizi tertentu melalui proses fortifikasi.
Pada beberapa produk, produsen membuat butiran beras yang mengandung vitamin dan mineral. Mereka kemudian mencampurkan butiran tersebut dengan beras biasa menggunakan rasio tertentu.
Cara ini membantu produsen menyebarkan zat gizi tambahan ke dalam campuran beras.
3. Beras Fortifikasi Melewati Proses Tambahan
Beras biasa umumnya melewati proses penggilingan dan pemolesan sebelum konsumen memasaknya.
Sementara itu, beras fortifikasi membutuhkan tahap tambahan untuk memasukkan atau menempelkan zat gizi ke dalam butiran.
Produsen dapat menggunakan beberapa metode. Metode tersebut antara lain coating, dusting, dan ekstrusi.
Metode coating menempatkan zat gizi pada permukaan butiran. Sementara itu, dusting menggunakan bubuk nutrisi untuk melapisi beras.
Metode ekstrusi bekerja dengan membentuk kembali bahan beras bersama zat gizi tambahan menjadi butiran yang menyerupai beras.
Metode ekstrusi banyak mendapat perhatian karena produsen dapat menempatkan nutrisi di bagian dalam butiran. Posisi tersebut dapat membantu nutrisi bertahan selama proses pencucian dan pemasakan.
4. Tampilan dan Rasa Bisa Hampir Sama
Beras fortifikasi tidak selalu mudah dibedakan dari beras biasa hanya melalui tampilan.
Produsen dapat membuat beras fortifikasi dengan metode ekstrusi sehingga bentuknya menyerupai beras biasa.
Setelah memasak, produk berkualitas baik juga dapat memiliki rasa dan tekstur yang hampir sama dengan beras biasa.
Namun, hasil akhirnya dapat berbeda antara satu produk dan produk lainnya.
Metode fortifikasi serta kualitas bahan dapat memengaruhi tekstur dan cita rasa nasi.
Karena itu, konsumen perlu melihat informasi produk pada kemasan jika ingin mengetahui jenis dan metode fortifikasinya.
5. Cara Mencuci Perlu Diperhatikan
Cara mencuci menjadi salah satu hal penting ketika membandingkan beras fortifikasi dengan beras biasa.
Masyarakat umumnya dapat mencuci beras biasa sebelum memasaknya.
Beras fortifikasi membutuhkan perhatian lebih. Cara mencuci yang kurang tepat dapat mengurangi sebagian zat gizi pada produk tertentu.
Risiko tersebut terutama muncul pada metode fortifikasi yang menempatkan vitamin dan mineral di permukaan butiran.
Pada metode coating, misalnya, air dapat membawa sebagian zat gizi yang menempel pada permukaan beras.
Karena itu, konsumen sebaiknya mengikuti petunjuk pencucian pada kemasan.
Setiap produk dapat menggunakan metode fortifikasi yang berbeda. Petunjuk produsen membantu konsumen menjaga kualitas dan kandungan nutrisi selama persiapan makanan.
6. Tujuan Konsumsinya Juga Berbeda
Beras biasa terutama menyediakan karbohidrat sebagai sumber energi.
Konsumsi beras biasa tetap dapat mendukung pola makan sehat. Namun, masyarakat perlu melengkapinya dengan sumber protein, sayur, buah, dan makanan bergizi lainnya.
Beras fortifikasi memiliki tujuan tambahan. Produk tersebut membantu meningkatkan asupan zat gizi mikro melalui makanan pokok.
Fortifikasi juga dapat menjadi salah satu strategi untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi tertentu pada masyarakat.
Namun, beras fortifikasi tetap perlu dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.
7. Harga Beras Fortifikasi Bisa Lebih Tinggi
Harga menjadi perbedaan lain antara beras fortifikasi dan beras biasa.
Produsen perlu melakukan proses tambahan untuk membuat beras fortifikasi. Mereka juga membutuhkan bahan fortifikan berupa vitamin dan mineral.
Biaya tambahan tersebut dapat membuat harga beras fortifikasi sedikit lebih tinggi dibandingkan beras biasa dengan kualitas yang setara.
Selain proses produksi, produsen juga perlu memperhatikan standar keamanan pangan dan kandungan zat gizi yang berlaku.
Karena itu, harga tidak menjadi satu-satunya pertimbangan ketika memilih beras. Konsumen juga perlu memperhatikan kandungan nutrisi, kebutuhan keluarga, serta informasi pada kemasan.
Beras Fortifikasi atau Beras Biasa, Mana yang Dipilih?
Beras biasa dan beras fortifikasi memiliki karakteristik masing-masing.
Dalam pola makan sehari-hari, beras biasa tetap dapat menjadi sumber energi utama. Sementara itu, beras fortifikasi menawarkan tambahan mikronutrien melalui proses fortifikasi.
Pilihan beras dapat mengikuti kebutuhan nutrisi dan pola makan setiap keluarga.
Jika memilih beras fortifikasi, konsumen sebaiknya membaca informasi kandungan zat gizi serta petunjuk pengolahan pada kemasan.
Cara tersebut membantu masyarakat memahami produk yang mereka konsumsi dan menjaga kualitas nutrisi selama proses memasak.
Penulis: Andini Namira Saskirana

