Angkat Fenomena Pseudohistory, Mahasiswa FIB UNAIR Raih Juara II Lomba Esai Nasional
EDUCARE.CO.ID, Surabaya – Fenomena pseudohistory atau sejarah semu yang marak di Indonesia mendorong mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) menciptakan karya esai yang inovatif. Ide tersebut membawa tim yang terdiri dari Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin dan Kesya Azka Najhan meraih Juara II Lomba Esai Sanskerta. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) pada Minggu (12/10/2025), dengan mengusung tema “Sejarah dan Kebudayaan”. Tujuan lomba ini adalah untuk mendorong mahasiswa agar mengkaji fenomena historis dan kebudayaan Indonesia secara kritis dan ilmiah.
Dalam esainya, Irsyad mengangkat isu pseudohistory yang kerap beredar di ruang publik, khususnya setelah era reformasi 1998. Ia menjelaskan bahwa kemunculan pseudohistory berkaitan erat dengan semakin terbukanya kebebasan berekspresi di masyarakat. Namun, kebebasan tersebut sering disalahgunakan oleh pihak-pihak yang menyebarkan informasi sejarah yang keliru tanpa dasar akademik.
Irsyad mengamati bahwa pseudohistory mulai banyak beredar setelah reformasi, di mana keterbukaan informasi di satu sisi memberikan ruang bagi masyarakat untuk berdiskusi, tetapi di sisi lain juga membuka peluang munculnya klaim sejarah yang tidak benar.
Untuk menjawab isu ini, mahasiswa UNAIR menawarkan solusi yang berorientasi pada penguatan komunikasi antara sejarawan akademik dan masyarakat luas. Menurutnya, kurangnya jembatan antara dunia akademik dan ruang publik adalah salah satu akar dari menjamurnya pseudohistory.
Irsyad menilai sejarawan harus berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah termakan isu sejarah yang menyesatkan. “Sejarawan tidak boleh hanya berkutat di ruang akademik. Mereka harus menjadi garda terdepan penjaga kebenaran sejarah bangsa,” terangnya. Ia menambahkan bahwa ketika ada isu menyesatkan, sejarawan perlu hadir untuk memberikan penjelasan berbasis data dan riset.
Lebih lanjut, Irsyad memaparkan inisiatif seperti kanal edukasi sejarah yang aktif di media sosial dan menekankan perlunya literasi sejarah di masyarakat untuk meluruskan klaim pseudohistory. Ia menganggap model komunikasi publik semacam itu sebagai bentuk konkret komunikasi yang efektif. “Kanal edukasi sejarah memberi contoh bagaimana sejarah bisa disampaikan dengan cara yang menarik tanpa kehilangan substansi akademik,” imbuhnya.
Irsyad berharap gagasannya ini dapat mendorong kolaborasi antara akademisi dan publik dalam memperkuat literasi sejarah nasional, dan masyarakat semakin kritis terhadap informasi sejarah yang beredar. (DSM)
