EDUCARE.CO.ID – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) mulai memetakan kebutuhan pertanian di Desa Marga Mulya, Kecamatan Kikim Timur, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.
Survei tersebut berlangsung pada Senin (31/8). Tim menggali kondisi sosial ekonomi, potensi pertanian, hingga kebutuhan sarana pendukung di kawasan transmigrasi Kikim.
Salah satu persoalan yang muncul ialah ketersediaan air untuk irigasi. Karena itu, TEP UNDIP Tim 1 Kawasan Transmigrasi (KT) Kikim tengah mengkaji penggunaan Pompa Air Tenaga Surya (PATS) sebagai alternatif sarana irigasi.
Berdasarkan sumber UNDIP, kajian PATS masih berada pada tahap survei lapangan. Tim perlu memastikan teknologi tersebut sesuai dengan kondisi sumber air, karakteristik lahan, kebutuhan irigasi, dan kesiapan masyarakat.
Pertanian Jadi Potensi Utama Desa Marga Mulya
Survei TEP UNDIP dimulai dengan diskusi bersama perangkat desa dan masyarakat. Tim mengumpulkan informasi langsung mengenai kondisi dan aktivitas warga.
Hamdan Sadikin, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sekaligus petani, menjelaskan bahwa pertanian menjadi salah satu aktivitas utama warga Marga Mulya.
Menurut Hamdan, petani biasanya melakukan panen padi dua kali dalam setahun. Dalam kondisi cuaca yang mendukung, frekuensi panen bisa meningkat menjadi tiga kali.
“Untuk masa panen padi sendiri di desa kami dalam setahun dua kali panen dan kadang bisa sampai tiga kali jika cuaca mendukung,” ungkap Hamdan.
Desa Marga Mulya memiliki sekitar 756 kepala keluarga dengan total penduduk mencapai 2.460 jiwa. Sekitar 80 persen penduduknya merupakan masyarakat transmigran.
Sementara itu, sektor pertanian melibatkan sekitar 90 petani dengan luas lahan kurang lebih 50 hektare.
Data tersebut menjadi salah satu dasar bagi TEP UNDIP untuk melihat potensi pengembangan pertanian di wilayah tersebut.
Ketersediaan Air Masih Jadi Kendala Petani
Potensi pertanian Marga Mulya masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya berkaitan dengan distribusi air ke lahan persawahan.
Saat ini, desa memiliki satu sumur bor di area persawahan. Namun, posisi sumur berada di bagian hilir sehingga pemanfaatannya belum optimal untuk memenuhi kebutuhan irigasi.
Kondisi tersebut membuat ketersediaan air menjadi salah satu perhatian dalam pemetaan TEP UNDIP.
Selain infrastruktur pertanian, tim juga mengumpulkan informasi mengenai kondisi ekonomi petani. Berdasarkan data awal survei, rata-rata pendapatan petani berada di kisaran Rp2,5 juta dalam periode tiga bulan.
Tim masih perlu mengkaji data tersebut secara lebih mendalam. Kajian lanjutan akan membantu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi pertanian dan ekonomi masyarakat.

TEP UNDIP Kaji Pompa Air Tenaga Surya
Dari hasil survei awal, TEP UNDIP Tim 1 KT Kikim menjajaki pemanfaatan Pompa Air Tenaga Surya (PATS) untuk mendukung sistem irigasi.
Program tersebut menjadi salah satu program unggulan TEP UNDIP Tim 1 KT Kikim. Dosen UNDIP Dr. Ir. Jaka Windarta, M.T., IPU, ASEAN Eng. mendampingi program tersebut.
Namun, tim belum memasang PATS di Desa Marga Mulya. Saat ini, mereka masih mengumpulkan data dan melakukan kajian teknis.
Tim perlu melihat kondisi sumber air, kebutuhan air sawah, karakteristik lahan, serta kesiapan masyarakat. Hasil kajian nantinya menjadi dasar untuk menentukan bentuk teknologi yang paling sesuai.
Pendekatan tersebut penting agar pengembangan teknologi tidak hanya mengandalkan aspek teknis. Kebutuhan dan kondisi masyarakat juga menjadi pertimbangan utama.
Petani Sambut Rencana Penguatan Irigasi
Rencana pengembangan sarana irigasi mendapat perhatian dari masyarakat, terutama para petani. Ketersediaan air yang lebih memadai dapat membantu petani mengatur kebutuhan sawah.
Sekretaris Desa Marga Mulya, Jazuli, turut memberikan informasi mengenai kondisi desa kepada tim.
Ia berharap penguatan sarana air dapat membantu petani menjaga produktivitas lahan.
“Kami berharap kalau sarana air untuk sawah bisa lebih baik, petani juga lebih mudah mengatur kebutuhan air. Kalau air cukup, kami bisa lebih tenang dalam mengelola sawah dan berharap hasil panen juga bisa lebih baik,” ujar Jazuli.
Masukan dari masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pemetaan. Tim tidak hanya melihat kondisi wilayah, tetapi juga mendengar pengalaman warga dalam menghadapi persoalan pertanian.
Pemetaan Mencakup 21 Desa Transmigrasi
Survei di Marga Mulya merupakan bagian dari pemetaan kawasan transmigrasi Kikim. Kawasan tersebut mencakup sekitar 21 desa transmigrasi.
Desa-desa tersebut tersebar di Kecamatan Kikim Timur, Kikim Tengah, Kikim Selatan, Kikim Barat, dan Pseksu.
Setiap desa memiliki karakteristik serta kebutuhan yang berbeda. Karena itu, TEP UNDIP melakukan survei langsung untuk memperoleh gambaran berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Data dari masyarakat juga membantu tim memahami persoalan pembangunan dari sudut pandang warga. Informasi tersebut kemudian menjadi bahan untuk menyusun arah program pendampingan.
Dorong Pertanian dan Energi Bersih
Bagi TEP UNDIP Tim 1 KT Kikim, survei Marga Mulya menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi potensi sekaligus tantangan pembangunan di kawasan transmigrasi.
Tim akan menggunakan data lapangan sebagai bahan kajian untuk menentukan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Jika hasil kajian mendukung, pemanfaatan energi surya untuk pompa air dapat menjadi salah satu alternatif penguatan irigasi pertanian. Teknologi tersebut juga sejalan dengan upaya pemanfaatan energi bersih di sektor produktif.
Melalui pendekatan berbasis data dan partisipasi masyarakat, UNDIP melalui Tim Ekspedisi Patriot terus mendorong pengembangan potensi kawasan transmigrasi.
Upaya tersebut juga mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Fokusnya mencakup SDG 1 Tanpa Kemiskinan, SDG 7 Energi Bersih dan Terjangkau, serta SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Pada akhirnya, pemetaan yang dilakukan TEP UNDIP diharapkan dapat membantu menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi setiap desa. Bagi masyarakat Marga Mulya, penguatan irigasi menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keberlanjutan aktivitas pertanian.

