10 Hektare Sawah di Senggi Dapat Akses Air, Ini Langkah Nyata Tim UNDIP Hadapi El Nino

Must read

EDUCARE.CO.ID – Ancaman kekeringan mulai menjadi tantangan bagi petani di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Penurunan curah hujan akibat fenomena El Nino dapat mengganggu pasokan air dan keberlangsungan musim tanam.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP). Melalui kolaborasi Tim 7 dan Tim 12, mereka menghadirkan sumur bor sebagai sumber air alternatif bagi lahan pertanian warga.

Fasilitas tersebut dapat mendukung kebutuhan pengairan sekitar 10 hektare sawah milik masyarakat Senggi.

Berdasarkan sumber UNDIP, pembangunan sumur bor menjadi bagian dari upaya membantu petani menghadapi keterbatasan air sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tengah perubahan iklim.

Kekeringan Jadi Tantangan Petani Senggi

Sebagian masyarakat di Kawasan Transmigrasi Senggi mengandalkan pertanian sebagai sumber penghidupan.

Namun, ketergantungan pada curah hujan membuat petani menghadapi risiko ketika musim kering berlangsung lebih panjang.

Curah hujan yang menurun dapat mengurangi ketersediaan air untuk sawah. Kondisi tersebut kemudian berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman dan hasil panen.

Karena itu, petani membutuhkan sumber air alternatif yang dapat membantu menjaga ketersediaan air saat hujan tidak menentu.

Tim 7 dan Tim 12 UNDIP Bersinergi

TEP UNDIP menggabungkan dua tim untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Tim 7 berada di bawah kepemimpinan Fajrin Pramana Putra, S.P., M.Sc. Anggotanya terdiri dari Adelia Regita Andini, S.P.W.K.; Siti Nuriyana, S.Si.; Samuel Hasudungan Hutagalung, S.P.W.K.; Punggah Assa’bana, S.P.; dan Rizal Fahmi Imanullah, S.P.

Sementara itu, Tim 12 dipimpin Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si. Tim tersebut beranggotakan Ardhian Sasmita, S.A.B.; Fitran Dzulfikar, S.P.; Marta Junika Tambunan, S.Sos.; Nurkhafizah, S.P.W.K.; dan Putri Duwi Ulia Sari, S.TP.

Kolaborasi tersebut menempatkan kebutuhan petani sebagai dasar program. Kedua tim kemudian mengarahkan dukungan pada penyediaan infrastruktur air pertanian.

Sumur Bor Dukung Pengairan 10 Hektare Sawah

Ketua Tim 7 TEP UNDIP, Fajrin Pramana Putra, mengatakan sumur bor menjadi bentuk kontribusi langsung untuk membantu masyarakat menghadapi keterbatasan air.

“Pengadaan sumur bor ini merupakan bentuk kontribusi nyata TEP UNDIP dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan keterbatasan air. Harapannya, sumber air ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk mendukung pengairan sekitar 10 hektare lahan pertanian,” ujar Fajrin.

Ketersediaan sumber air alternatif dapat membantu petani mengelola lahan dengan lebih terencana.

Petani juga memiliki pilihan lain ketika curah hujan tidak mencukupi kebutuhan sawah.

Dengan demikian, sumur bor tidak hanya berfungsi sebagai sarana fisik. Infrastruktur tersebut juga dapat menjadi bagian dari strategi masyarakat menghadapi risiko kekeringan.

Petani Senggi Sambut Sumur Bor

Kehadiran sumur bor mendapat sambutan dari komunitas petani setempat.

Selama ini, kelompok tani banyak mengandalkan hujan untuk memenuhi kebutuhan air pertanian.

Perwakilan kelompok tani Kawasan Transmigrasi Senggi, Suroso, menyampaikan apresiasi kepada TEP UNDIP.

“Kami sangat berterima kasih kepada Tim Ekspedisi Patriot UNDIP yang sudah membantu menyediakan sumur bor ini. Bagi kami petani, air adalah kebutuhan yang sangat penting,” ungkap Suroso.

Menurut Suroso, ketidakpastian hujan sering membuat petani khawatir terhadap kondisi tanaman.

Musim kering dapat meningkatkan risiko bagi lahan yang mereka kelola.

Karena itu, kehadiran sumur bor memberikan harapan baru bagi keberlanjutan produksi pangan masyarakat.

Petani Tak Lagi Hanya Mengandalkan Hujan

Suroso berharap sumber air tersebut dapat membantu pengairan lahan pertanian di sekitar kawasan.

“Dengan adanya sumur bor ini, kami berharap lahan pertanian sekitar dapat terus mendapatkan pengairan. Kurang lebih 10 hektare lahan bisa terbantu, sehingga kami tidak terlalu bergantung pada hujan,” lanjutnya.

Ketersediaan air alternatif memberi petani ruang untuk mengatur pengelolaan lahan dengan lebih baik.

Petani dapat menyesuaikan kebutuhan air dengan kondisi tanaman dan musim.

Langkah tersebut juga dapat membantu masyarakat menghadapi perubahan pola cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Sumur Bor Jadi Aset Jangka Panjang

TEP UNDIP melihat pembangunan sumur bor sebagai investasi bagi keberlanjutan pertanian masyarakat.

Sumber air alternatif dapat mendukung aktivitas pertanian dalam menghadapi periode kering.

Selain itu, fasilitas tersebut memiliki peluang untuk menjadi aset bersama yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.

Namun, pemanfaatan sumber air tetap membutuhkan pengelolaan yang baik.

Masyarakat perlu menjaga fasilitas agar dapat terus berfungsi. Penggunaan air juga perlu menyesuaikan kebutuhan lahan dan kondisi sumber air.

Dengan pengelolaan yang tepat, manfaat sumur bor dapat dirasakan lebih luas oleh petani Senggi.

Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Petani

Kerja sama Tim 7 dan Tim 12 menunjukkan pentingnya kolaborasi perguruan tinggi dengan masyarakat.

TEP UNDIP tidak hanya membawa pengetahuan dari kampus. Tim juga melihat langsung persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan.

Dari kebutuhan tersebut, tim kemudian memilih bentuk dukungan yang dapat memberikan manfaat langsung.

Pendekatan ini membuat program lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Petani juga dapat ikut menjaga dan mengembangkan manfaat program setelah tim menyelesaikan kegiatan.

Pada akhirnya, keberlanjutan program tidak hanya bergantung pada perguruan tinggi. Masyarakat lokal memiliki peran penting dalam menjaga fasilitas dan mengelolanya secara bersama.

Perkuat Ketahanan Pangan di Tengah Perubahan Iklim

Penyediaan infrastruktur air pertanian juga berkaitan dengan ketahanan pangan.

Ketika petani memiliki akses terhadap sumber air alternatif, mereka dapat mengurangi ketergantungan terhadap curah hujan.

Kondisi tersebut dapat membantu menjaga keberlangsungan aktivitas budidaya dan produksi pangan.

TEP UNDIP berharap sumur bor dapat menjadi aset jangka panjang bagi masyarakat Transmigrasi Senggi.

Program tersebut sekaligus menjadi contoh penerapan riset dan pengabdian perguruan tinggi untuk menjawab persoalan nyata di daerah.

Sumur Bor Senggi Sejalan dengan Target SDGs

Program TEP UNDIP juga mendukung sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs).

Pertama, SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui dukungan terhadap produktivitas pertanian dan sistem pangan berkelanjutan.

Kedua, SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui pengelolaan sumber air untuk kebutuhan pertanian.

Ketiga, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui upaya adaptasi terhadap risiko kekeringan dan perubahan pola cuaca.

Keempat, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok tani.

Program tersebut memperlihatkan bahwa dukungan terhadap petani tidak selalu harus berbentuk bantuan produksi.

Penyediaan infrastruktur dasar juga dapat membantu masyarakat menghadapi tantangan jangka panjang.

Bagi petani Senggi, sumur bor menjadi sumber air alternatif. Bagi TEP UNDIP, fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article