IHSG Terpuruk, Ancaman Krisis Ekonomi Bayangi Stabilitas Global

Must read

educare.co.id, Surabaya – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tren penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini menjadi sinyal tekanan serius di pasar modal Indonesia, yang tidak hanya berdampak pada investor domestik, namun juga berpotensi memberikan efek rambatan terhadap perekonomian global. Situasi ini diperparah oleh ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.

Dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga, Citra Hennida SIP MA, memberikan pandangannya terkait kondisi tersebut dalam sebuah wawancara.

Ia menjelaskan bahwa penurunan peringkat saham Indonesia oleh lembaga keuangan internasional seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs menunjukkan melemahnya kinerja ekonomi nasional. Kondisi ini kian memburuk akibat dampak perang dagang antara Amerika Serikat dengan China (20 persen) serta Meksiko dan Kanada (25 persen), yang menekan harga ekspor komoditas utama seperti sawit dan batu bara. Penurunan permintaan dari China sebagai pasar utama, karena sanksi dari AS, turut memperparah tekanan tersebut.

“Faktor dalam negeri sangat berpengaruh, ketidakpastian pemberantasan korupsi, APBN defisit, realisasi pajak rendah, kebijakan efisiensi, serta isu mundurnya pejabat ekonomi menciptakan sentimen negatif di pasar modal,” ujarnya.

Menurut Citra, inkonsistensi komunikasi pemerintah turut memperparah kondisi dengan mendorong terjadinya aksi jual besar-besaran oleh investor. Arus modal asing (capital flight) pun keluar, mencari pasar yang lebih stabil. Akibatnya, IHSG menjadi satu-satunya indeks di kawasan yang mencatat penurunan signifikan.

Situasi ini, lanjutnya, bisa membawa Indonesia ke ambang krisis yang mengancam sektor investasi. Jika pasar saham—sebagai sumber pendanaan perusahaan—kehilangan pembeli, maka bukan tidak mungkin terjadi kebangkrutan dan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal. Meski pemerintah memiliki opsi untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback), keterbatasan anggaran menjadi kendala utama. Alternatif ekstrem seperti mencetak uang baru justru dianggap berisiko karena dapat memicu inflasi tinggi dan memperburuk kondisi ekonomi serta kestabilan sosial.

“Dua kombinasi PHK dan inflasi bisa memunculkan riot sosial politik di masyarakat. Situasinya mirip 1997 ketika krisis financial Asia terjadi. Dari situ bisa kejahatan non tradisional semakin meningkat dan membuat Indonesia dirasa tidak aman. Ini akan mempengaruhi postur diplomasi Indonesia ke depan,” ungkap Citra.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa krisis ekonomi merupakan siklus yang bisa diatasi selama pemerintah mampu merespons dengan kebijakan yang tepat. Menurutnya, pemulihan kepercayaan pasar membutuhkan langkah-langkah nyata.

“Kunci pemulihan kepercayaan pasar adalah langkah konkret: kepastian hukum, kebijakan konsisten, pemberantasan korupsi, perlindungan jurnalis, dan komunikasi politik yang lebih baik,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa jatuh tempo utang Indonesia yang kian dekat menambah urgensi situasi, dan tanpa penanganan cepat, ekonomi nasional berpotensi memburuk lebih jauh.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article