educare.co.id, Bandung – Ibni Inggrianti, mahasiswa Magister Teknik Elektro subprogram studi Telematika dan Jaringan Telekomunikasi di Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil meraih beasiswa tesis untuk melakukan penelitian terkait teknologi 5G di Belanda. Ia akan menjalankan penelitian di Network Architecture and Services (NAS) group di TU Delft di bawah bimbingan Prof. Robert Kooij.
Beasiswa ini merupakan hasil inisiatif Bandoengse Technische Hoogeschool Fonds (BTHF) bekerja sama dengan I&P Indonesia. BTHF berkolaborasi dengan ITB untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan riset, sementara I&P Indonesia berperan sebagai fasilitator pertukaran pengetahuan dan keahlian profesional antara Indonesia dan Belanda. Ibni mengetahui program beasiswa ini melalui bidang akademik Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB.
Dalam penelitiannya, Ibni akan menganalisis traffic jaringan dengan menggunakan machine learning. Ia membutuhkan data asli yang tidak tersedia di Indonesia. “Saya mau ambil original data telekomunikasi atau traffic di sana untuk memprediksi keakuratan dan kecocokan penggunaan 5G. Kebetulan TU Delft memiliki banyak kerja sama dengan provider telekomunikasi di sana,” jelasnya, dalam siaran tertulis itb (18/2).
Ibni, yang memiliki minat dalam olahraga lari dan tenis, telah tertarik pada bidang telematika setelah mengikuti berbagai akademi, konferensi, dan kompetisi internasional di negara-negara seperti Korea Selatan, Selandia Baru, dan Tiongkok. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan di bidang telekomunikasi, termasuk internet governance, keamanan data, dan otomatisasi jaringan, semakin memperkuat relevansi risetnya. Dengan 5G yang telah diterapkan di Belanda, ia berharap dapat memperoleh wawasan baru yang dapat diterapkan di Indonesia.
Ia telah memulai riset mengenai tesis ini sejak semester kedua studi masternya, dan hasilnya telah diterima untuk publikasi dalam konferensi internasional dengan judul “Evaluating Time Series Approaches for Cellular Network Traffic Forecasting.”
Perjalanan menuju pencapaian ini tidaklah mudah. Ibni mengaku sempat mengalami berbagai hambatan sebelum akhirnya berhasil mendapatkan kesempatan riset ke luar negeri. “Alhamdulillah, kali ini rezeki. Saya menghubungi profesor di sana, dan beliau sangat menyambut baik berdasarkan pengalaman riset saya sebelumnya,” ungkapnya.
Ibni berharap kerja sama antara ITB dan TU Delft dapat semakin erat di masa depan, khususnya dalam bidang penelitian. “Semoga riset ini dapat berkontribusi dalam pengembangan teknologi telekomunikasi di Indonesia. Saya juga berharap adik-adik tingkat saya memiliki kesempatan serupa untuk melakukan riset di Belanda dan menerapkan teknologi baru yang relevan di Indonesia,” tutupnya.



