Tim Dosen UPN “Veteran” Yogyakarta Ciptakan Eco-Cement dari Limbah Cangkang Telur dan Eceng Gondok

EduNews EduSchool

educare.co.id, Yogyakarta – Tim peneliti dari Program Studi Teknik Kimia UPN “Veteran” Yogyakarta berhasil mengembangkan inovasi eco-cement berbahan dasar limbah cangkang telur dan eceng gondok. Riset yang dipimpin oleh Dr. Heri Septya Kusuma, S.Si., M.T., bersama empat mahasiswa unggulannya, Aurelio Muhammad Saleemah Agung, Najla Anira Putri, Muhamad Shifu, dan Nafisa Illiyanasafa, menghasilkan material konstruksi ramah lingkungan yang berpotensi menjadi alternatif semen konvensional di masa depan.

Dr. Heri menyampaikan bahwa hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Hybrid Advances yang terindeks Scopus. Artikel ilmiah berjudul “Production and Characterization of Eco-Cement Using Eggshell Powder and Water Hyacinth Ash” ini menjadi kontribusi UPN “Veteran” Yogyakarta dalam pengembangan teknologi material berkelanjutan di tingkat global.

Dalam risetnya, tim menggunakan bubuk cangkang telur (Eggshell Powder/ESP) dan abu eceng gondok (Water Hyacinth Ash/WHA) sebagai bahan utama. Inovasi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku semen konvensional yang memiliki jejak karbon tinggi, sekaligus mengatasi permasalahan lingkungan akibat limbah organik yang kurang dimanfaatkan. Hasil analisis menunjukkan eco-cement ini mengandung lebih dari 70% kalsium oksida (CaO) dan jumlah silika (SiO₂) yang memadai, yang berperan dalam aktivitas pozzolanik dan peningkatan kekuatan material.

Pengujian laboratorium menggunakan teknologi karakterisasi material canggih untuk memastikan kualitas eco-cement. Analisis X-ray Fluorescence (XRF) menunjukkan bahwa komposisi kimia eco-cement menyerupai semen konvensional. Sementara itu, Fourier-Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) mengonfirmasi keberadaan kalsium silikat hidrat (C–S–H) dan kalsit, yang meningkatkan daya rekat serta ketahanan material. Scanning Electron Microscopy (SEM) mengungkap bahwa eco-cement dengan 9% kandungan WHA memiliki struktur mikro yang lebih padat dan porositas lebih rendah, sehingga daya tahannya lebih tinggi dibandingkan formulasi lainnya.

BACA JUGA:  Hari Pramuka ke-64: “Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa”

“Keunggulan lain dari eco-cement ini adalah potensi reduksi emisi karbon hingga 30% dibandingkan semen konvensional. Proses produksi semen tradisional diketahui menyumbang 5–8% dari total emisi CO₂ global, sehingga inovasi ini memberikan solusi nyata bagi industri konstruksi yang lebih berkelanjutan. Jika dibandingkan, produksi semen Portland konvensional menghasilkan 850–900 kg CO₂ per ton, sedangkan eco-cement yang dikembangkan oleh tim UPNVY hanya menghasilkan 600–650 kg CO₂ per ton, menjadikannya pilihan yang lebih ramah lingkungan,” jelas Dr. Heri, dalam siaran tertulis uny (18/2).

Ia juga menambahkan bahwa penelitian ini membuktikan limbah agro seperti cangkang telur dan eceng gondok dapat menggantikan sebagian bahan baku dalam produksi semen. Inovasi ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang terbatas, tetapi juga mengatasi permasalahan limbah yang sering menjadi tantangan lingkungan. Berdasarkan karakterisasi yang dilakukan, eco-cement menunjukkan kualitas kompetitif dibandingkan semen konvensional, bahkan dengan daya tahan yang lebih baik dalam beberapa aspek.

Ke depan, tim berharap penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut hingga tahap implementasi industri dan diaplikasikan dalam proyek konstruksi nyata. “Semoga penelitian serupa terus berkembang untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan menginspirasi lebih banyak mahasiswa serta dosen dalam penelitian dan publikasi di jurnal internasional bereputasi,” pungkas Dr. Heri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *