Mahasiswa UMY Ciptakan D-Sense, Alat yang Bisa Deteksi Kebiasaan Menggertakkan Gigi

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan perangkat wearable bernama D-Sense untuk membantu memantau aktivitas bruxism atau kebiasaan menggertakkan dan mengatupkan gigi. Inovasi ini dirancang untuk membantu caregiver mengenali aktivitas otot rahang, terutama pada penyandang Down syndrome yang mungkin mengalami kesulitan menyampaikan rasa sakit atau ketidaknyamanan.

D-Sense dikembangkan oleh tim mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UMY bersama mahasiswa Teknologi Elektro-Medis. Tim tersebut dipimpin Maryam Zalfaa Aurellia Alattas.

Gagasan pengembangan alat ini berangkat dari tantangan dalam mengenali gangguan kesehatan pada penyandang Down syndrome. Keterbatasan komunikasi dapat membuat keluhan seperti nyeri atau ketidaknyamanan tidak selalu tersampaikan dengan mudah kepada orang di sekitarnya.

Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian ialah bruxism. Kebiasaan menggertakkan gigi secara berulang dapat menimbulkan masalah pada kesehatan gigi dan mulut apabila tidak mendapat penanganan yang tepat.

D-Sense Gunakan Sensor EMG untuk Pantau Gerakan Rahang

D-Sense mengandalkan sensor electromyography (EMG) yang ditempatkan pada area pipi. Sensor tersebut menangkap sinyal aktivitas otot rahang, kemudian mengirimkan data ke aplikasi untuk dianalisis.

Sebelum pemantauan berlangsung, pengguna perlu menjalani proses kalibrasi. Sistem mengambil data dari aktivitas gigitan terkuat sebagai nilai acuan. Selanjutnya, aplikasi menggunakan ambang 20 persen dari nilai tersebut untuk mengategorikan aktivitas otot sebagai episode bruxism.

Ketika sistem mendeteksi aktivitas yang memenuhi ambang tersebut, aplikasi mengirimkan alarm kepada caregiver. Aplikasi juga menyertakan saran penanganan berdasarkan tiga tingkat intensitas, yaitu ringan, sedang, dan berat.

Maryam menjelaskan bahwa tim merancang perangkat ini untuk memperlancar komunikasi antara penyandang Down syndrome dan orang yang mendampingi mereka.

“Kami membuat alat monitoring ini dengan tujuan mempermudah komunikasi antara caregiver dan pasien,” ujar Maryam saat dihubungi pada Selasa (15/9/2026).

Ada Fitur Getaran sebagai Umpan Balik

Selain mengirimkan peringatan melalui aplikasi, D-Sense memiliki fitur vibratory biofeedback atau umpan balik berupa getaran. Fitur ini akan aktif secara otomatis ketika caregiver tidak merespons alarm dari aplikasi.

Getaran tersebut berfungsi mengalihkan perhatian pengguna saat sistem mendeteksi aktivitas bruxism. Tim berharap mekanisme ini dapat membantu mengurangi kebiasaan menggertakkan gigi secara bertahap.

Kehadiran fitur tersebut membuat D-Sense tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantau. Perangkat ini juga mencoba menghadirkan respons langsung ketika sistem mengenali aktivitas otot rahang yang memenuhi kriteria deteksi.

Meski demikian, efektivitas getaran dalam mengurangi frekuensi bruxism masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Pemantauan aktivitas otot dan keberhasilan intervensi merupakan dua hal berbeda yang perlu dievaluasi secara terpisah.

Kenali Risiko Bruxism bagi Kesehatan Gigi

Bruxism yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Tekanan berulang pada gigi berpotensi menyebabkan pengikisan permukaan gigi, sedangkan aktivitas otot rahang dapat berkaitan dengan rasa nyeri atau ketidaknyamanan.

Dalam kondisi tertentu, gangguan pada gigi dan mulut juga dapat menghambat aktivitas makan. Jika keluhan tersebut mengurangi asupan makanan dalam jangka panjang, kondisi gizi seseorang berpotensi ikut terdampak.

Maryam menyampaikan bahwa kebutuhan akan perangkat pemantauan seperti D-Sense menjadi salah satu alasan tim mengembangkan inovasi tersebut. Menurutnya, teknologi sejenis telah tersedia di sejumlah negara, tetapi akses terhadap perangkat serupa di Indonesia masih terbatas.

Tim merancang perangkat ini untuk membantu caregiver mengenali aktivitas bruxism melalui pemantauan sinyal otot rahang. Sistem peringatan dan fitur getaran menjadi dua komponen utama yang mendukung fungsi tersebut.

Dapat Pendanaan PKM-KC 2026, D-Sense Jalani Pengujian

Pengembangan D-Sense memperoleh dukungan pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) tahun 2026. Tim kemudian menjalankan pengujian secara bertahap untuk mengevaluasi kemampuan perangkat dalam membaca aktivitas otot rahang.

Pada tahap awal, tim menguji perangkat terhadap subjek tanpa kondisi Down syndrome. Pengujian ini bertujuan menilai kemampuan algoritma dalam membedakan sinyal yang berkaitan dengan bruxism dari gangguan sinyal lainnya.

Dalam tahap tersebut, tim melaporkan tingkat akurasi pembacaan mencapai 98 persen. Hasil ini menjadi salah satu dasar bagi tim untuk melanjutkan pengujian pada kelompok pengguna yang menjadi sasaran pengembangan alat.

Setelah memperoleh persetujuan etik untuk penelitian yang melibatkan manusia, tim melanjutkan pengujian kepada tujuh penyandang Down syndrome. Setiap peserta menjalani pemantauan dengan durasi antara 20 menit hingga dua jam. Sementara itu, jarak pemantauan perangkat mencapai 15 meter.

Maryam menyampaikan bahwa enam dari tujuh peserta menunjukkan hasil pengujian yang dinilai baik. Tim melaporkan akurasi sekitar 93 persen dalam tahap tersebut.

“Dari tujuh orang penderita down syndrome, enam di antaranya mendapatkan hasil yang bagus. Kami dapat akurasi di sekitar 93 persen,” pungkas Maryam.

Angka tersebut menggambarkan hasil pengujian awal pada kelompok peserta yang terbatas. Karena itu, hasilnya belum dapat mewakili seluruh penyandang Down syndrome atau memastikan kemampuan D-Sense dalam penggunaan klinis secara luas. Pengujian dengan jumlah peserta lebih besar dan evaluasi lebih lanjut tetap diperlukan.

Kolaborasi Mahasiswa FKG dan Teknologi Elektro-Medis

Pengembangan D-Sense melibatkan mahasiswa dari dua bidang keilmuan, yakni kedokteran gigi dan Teknologi Elektro-Medis. Kolaborasi ini mempertemukan pemahaman mengenai kesehatan gigi dan mulut dengan penerapan teknologi sensor serta sistem pemantauan.

Selain Maryam Zalfaa Aurellia Alattas, tim pengembang terdiri atas Muhamad Nur Sodiq, Muhammad Rafif Sarmadi, dan Najwa Raihana. Dosen pembimbing tim PKM-KC tersebut ialah drg. Arief Waskitho, Sp.Pros., Ph.D.

Melalui D-Sense, para mahasiswa mencoba menjawab kebutuhan pendampingan kesehatan bagi penyandang Down syndrome melalui pendekatan teknologi wearable. Inovasi ini juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas bidang dapat menghasilkan gagasan yang berangkat dari persoalan kesehatan sehari-hari.

Ke depan, pengembangan D-Sense masih membutuhkan evaluasi lebih luas, baik dari sisi ketepatan deteksi, kenyamanan penggunaan, maupun efektivitas fitur getaran. Dengan pengujian lanjutan, tim dapat memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai potensi perangkat sebagai alat bantu pemantauan bruxism.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article