Bukan Nugget Biasa, UM Padukan Ikan Nila dan Kelor untuk Mendukung Gizi Keluarga

Must read

EDUCARE.CO.ID – Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan nugget ikan nila dengan tambahan daun kelor sebagai alternatif pangan bergizi dan terjangkau. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), UM menggabungkan protein ikan dengan potensi gizi daun kelor untuk mendukung ketahanan pangan dan kesehatan keluarga.

Pusat Kesehatan dan Pangan LPPM UM menjalankan riset ini melalui skema Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB). Program tersebut berfokus pada diversifikasi pangan berbasis bahan lokal. Selain itu, tim ingin memperluas pilihan sumber protein yang terjangkau bagi masyarakat sekaligus mendukung gerakan nasional Gemarikan.

Tim peneliti merancang formulasi nugget dengan mempertimbangkan kandungan gizi, cita rasa, dan peluang pemasaran. Dengan pendekatan tersebut, mereka berharap produk ini dapat memenuhi kebutuhan konsumen sekaligus membuka peluang pengembangan usaha pangan lokal.

LPPM UM Uji Formulasi Nugget Ikan Nila dan Daun Kelor

Tim peneliti menjalankan riset di laboratorium Universitas Negeri Malang pada 16 Januari hingga 22 Oktober 2026. Mereka menguji sejumlah formulasi yang mengombinasikan ikan nila dengan bubuk daun kelor (Moringa oleifera).

Selama penelitian, tim melakukan eksperimen formulasi dan uji proksimat untuk menganalisis komposisi gizi. Mereka juga mengevaluasi mutu organoleptik, termasuk karakteristik rasa dan penerimaan produk. Selanjutnya, tim menganalisis aspek ekonomi pasar untuk menilai peluang pengembangan produk.

Riset ini melibatkan empat dosen dan enam mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Kolaborasi tersebut menghubungkan penelitian pangan dengan edukasi kesehatan masyarakat.

Selain menguji produk di laboratorium, tim mengadakan pelatihan bagi guru di sekolah mitra. Kegiatan ini memperluas pemahaman tentang nutrisi dan pendidikan kesehatan keluarga. Tim juga menyosialisasikan inovasi tersebut kepada orang tua agar mereka mengenal alternatif pangan untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga.

Hasil Riset Catat Peningkatan Protein hingga 18 Persen

Bahan rilis penelitian menyebut nugget ikan nila dengan tambahan daun kelor memiliki kandungan protein 18 persen lebih tinggi daripada nugget ikan standar di pasar. Rilis yang sama menyatakan bahwa satu porsi produk dapat memenuhi 25 persen kebutuhan harian zat besi anak.

Temuan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan nugget nila kelor sebagai alternatif pangan keluarga. Namun, pembaca perlu memahami konteks pengujian sebelum menarik kesimpulan mengenai manfaat gizinya.

Besaran kandungan gizi bergantung pada formulasi, ukuran porsi, dan metode analisis. Karena itu, tim perlu menjelaskan hasil pengujian secara terperinci, termasuk produk pembanding dan kelompok usia yang menjadi acuan kebutuhan zat besi.

Kepala Pusat Kesehatan dan Pangan LPPM UM, Prof. Dr. Titi Mutiara Kiranawati, M.P., menilai inovasi tersebut dapat memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan produk berbasis riset.

“Inovasi ini tidak hanya sekadar diversifikasi pangan, melainkan langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat melalui kolaborasi berkelanjutan yang memadukan riset akademis dengan kebutuhan sektor industri,” ujarnya.

Melalui riset ini, tim mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah. Meski demikian, mereka masih perlu memperhatikan penerimaan konsumen dan kelayakan produksi sebelum memperluas pemasaran.

Kolaborasi Kampus dan Industri Buka Peluang Pengembangan Produk

Program nugget nila kelor melibatkan Universitas Negeri Malang, Universitas Mataram, Universitas Brawijaya, dan CV Tri Utami Jaya Mataram. Keempat institusi tersebut berkolaborasi untuk mendukung pengembangan riset dan pemanfaatan teknologi pangan.

Kerja sama lintas institusi dapat mempertemukan keahlian akademisi dengan kebutuhan industri. Selain itu, kolaborasi tersebut membuka peluang bagi peneliti untuk mengembangkan formulasi dan menilai potensi produk di pasar.

Tim juga menemukan sejumlah tantangan dalam pengembangan nugget nila kelor. Salah satunya ialah menjaga konsistensi rasa daun kelor agar konsumen dari berbagai kelompok usia dapat menerima produk tersebut.

Di samping itu, tim perlu mengelola pasokan bahan baku segar secara konsisten. Ketersediaan bahan baku dan pengendalian mutu akan berpengaruh terhadap proses produksi serta kualitas produk akhir.

Untuk tahap selanjutnya, tim merekomendasikan percepatan sertifikasi BPOM dan halal. Mereka juga mendorong perluasan kemitraan dengan UMKM lokal. Langkah ini dapat membantu proses hilirisasi dan membuka peluang produksi dalam skala lebih besar.

Inovasi Nugget Nila Kelor Dukung Target SDGs

Pengembangan nugget nila kelor berkaitan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini mendukung SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan melalui diversifikasi pangan dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Selain itu, riset tersebut selaras dengan SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Pengembangan pilihan pangan bergizi dapat mendukung upaya meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat. Meski begitu, manfaat kesehatan tetap bergantung pada kandungan gizi produk dan pola konsumsi secara keseluruhan.

Program ini juga mendukung SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi UM dengan Universitas Mataram, Universitas Brawijaya, dan CV Tri Utami Jaya Mataram mempertemukan unsur perguruan tinggi dan industri dalam pengembangan inovasi pangan.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Negeri Malang, riset melalui skema RIKUB ini mengembangkan nugget ikan nila dengan tambahan daun kelor untuk mendukung diversifikasi pangan dan ketahanan pangan lokal. Tim menggabungkan pengujian produk, edukasi gizi, dan kolaborasi lintas institusi untuk mendorong pemanfaatan hasil riset.

Ke depan, tim perlu melanjutkan pengujian mutu, menjaga konsistensi rasa, dan memenuhi persyaratan perizinan. Dengan persiapan tersebut, nugget nila kelor berpeluang berkembang sebagai alternatif pangan berbasis bahan lokal yang mendukung upaya peningkatan gizi keluarga.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article