16 Murid Indonesia Berlaga di YIC 2026, Bawa Inovasi AI hingga Teknologi Pertanian

Must read

Sebanyak 16 murid sekolah menengah Indonesia mengikuti ajang internasional Young Inventors Challenge (YIC) 2026 melalui delapan tim riset. Mereka mengangkat beragam persoalan, mulai dari pertanian dan lingkungan hingga kesehatan serta teknologi asistif bagi penyandang disabilitas.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Pengembangan Prestasi dan Karakter (Puspreska) mengirimkan delegasi tersebut untuk mengikuti rangkaian YIC pada 12–19 Oktober 2026 di Jakarta. Setelah melewati proses seleksi dan pembinaan, kedelapan tim berhasil masuk kelompok 32 besar finalis.

Kepala Puspreska, Rusprita Putri Utami, menegaskan bahwa pengembangan talenta murid membutuhkan proses berkelanjutan. Karena itu, setiap murid perlu memperoleh kesempatan untuk mengenali minat, mengasah kemampuan, dan mengembangkan potensinya.

“Setiap murid memiliki potensi dan keunikan masing-masing yang perlu dikenali, dikembangkan, dan diberikan ruang untuk bertumbuh agar mampu mencapai potensi terbaiknya,” ujar Rusprita.

Ia berharap pengalaman berkompetisi di tingkat internasional dapat mendorong para murid meraih prestasi. Selain itu, proses tersebut juga memberi mereka ruang untuk mengembangkan kemampuan riset dan menyampaikan gagasan ilmiah.

Berawal dari OPSI 2025, Murid Jalani Pembinaan Bertahap

Persiapan delegasi Indonesia menuju YIC 2026 bermula dari Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025. Sebanyak 12 tim pemenang OPSI, yang terdiri atas 24 murid, mengikuti pra-pembinaan di Jakarta pada 2–6 Maret 2026.

Dalam kegiatan tersebut, para murid mempresentasikan hasil penelitian dan menyesuaikan proposal dengan format YIC. Mereka juga mendapat pendampingan untuk menyempurnakan proposal, memperkuat visualisasi produk, serta mempersiapkan presentasi.

Pembina dan alumni YIC turut membantu peserta selama proses persiapan. Selanjutnya, para murid mengikuti pembinaan tahap I dan tahap II untuk meningkatkan kesiapan mereka menghadapi kompetisi.

Rangkaian seleksi itu mengantarkan delapan tim ke kelompok 32 besar finalis. Mereka kemudian mempresentasikan penelitian dan mengikuti sesi wawancara utama secara daring atau online viva session pada Sabtu (17/10).

Koordinator Pembina YIC 2026, Abu Amar dari Institut Teknologi Indonesia (ITI), mengapresiasi kerja keras para peserta selama menjalani pembinaan. Menurutnya, mereka terus menyempurnakan penelitian hingga mencapai tahap finalis.

Abu Amar berharap para murid memperoleh hasil terbaik saat penyelenggara mengumumkan pemenang pada November 2026. Meski demikian, proses pembinaan juga memberikan pengalaman penting bagi peserta untuk mengembangkan riset dan meningkatkan kemampuan berkompetisi.

Ini 8 Inovasi Riset yang Dibawa Delegasi Indonesia

Delapan tim Indonesia menghadirkan gagasan dengan fokus penelitian yang berbeda. Berikut nama anggota, asal sekolah, dan inovasi yang mereka bawa ke YIC 2026.

1. PORTIS – Drone untuk Deteksi Penangkapan Ikan Ilegal

Anggota: Cameela Ahmad dan Shaheza Aleesha Risky

Asal sekolah: SMA Negeri 1 Sumenep

Tim PORTIS mengembangkan penelitian berjudul DRAVIS: The Use of Drone Surveillance Equipped with YOLO Computer Vision Framework for Monitoring and Detecting Illegal Fishing.

Melalui riset ini, mereka memanfaatkan drone dan teknologi computer vision berbasis YOLO untuk memantau serta mendeteksi dugaan praktik penangkapan ikan ilegal. Dengan pendekatan tersebut, tim mengeksplorasi pemanfaatan teknologi pengawasan untuk mendukung perlindungan sumber daya laut.

2. Tirto’s User – Sistem Irigasi Sawah Otomatis Berbasis AI

Anggota: Hanin Naurayani Alifa dan Khariza Fazari Shafiya

Asal sekolah: SMA Negeri 2 Ponorogo

Tim Tirto’s User mengembangkan Integrated and Automatically Controlled Irrigation System (TIRTO) for Rice Fields Based on Artificial Intelligence.

Penelitian ini menggabungkan sistem irigasi terintegrasi dengan kendali otomatis berbasis kecerdasan artifisial (AI). Melalui inovasi tersebut, tim ingin mendukung pengelolaan air yang lebih terukur sesuai kebutuhan budidaya padi.

Selain mengangkat pemanfaatan teknologi, riset ini juga menyoroti pentingnya pengelolaan irigasi dalam kegiatan pertanian.

3. AGRITEVO – Inkubator Benih Padi Bertenaga Surya

Anggota: Muhammad Rijal dan Salwa Salsabila Az

Asal sekolah: SMAS Islam Athirah, Sulawesi Selatan

Tim AGRITEVO membawa penelitian AGRITEVO: Internet of Things (IoT)-Based Rice Seedling Incubator Powered by Solar Energy.

Mereka merancang inkubator penyemaian benih padi yang menggabungkan Internet of Things (IoT) dan energi surya. Sistem tersebut memanfaatkan panel surya, mikrokontroler ESP32, sensor kelembapan tanah, serta sensor suhu.

Muhammad Rijal menjelaskan bahwa tim ingin membantu petani meminimalkan risiko kegagalan saat menyemai benih padi. Untuk itu, mereka mengembangkan sistem yang memantau kondisi lingkungan selama proses penyemaian.

Inovasi ini menghubungkan teknologi digital dengan kebutuhan pertanian. Selain mendukung pemantauan, pemanfaatan energi surya juga menjadi bagian dari pendekatan yang mereka pilih.

4. ChemisTwin – Pelapis Ramah Lingkungan untuk Melindungi Baja

Anggota: Safira Laksmi Dewi dan Prayogo Aryobimo

Asal sekolah: SMA Nasional KPS, Kalimantan Timur

Tim ChemisTwin mengusung penelitian NANOVA: Ecofriendly Cellulose Nanocrystals (CNC)-SiO₂-PDMS Superhydrophobic Coating for Robust Steel Protection.

Penelitian ini mengkaji pelapis superhidrofobik yang menggabungkan cellulose nanocrystals (CNC), silika (SiO₂), dan PDMS. Tim mengeksplorasi kombinasi material tersebut untuk mengembangkan lapisan pelindung baja dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.

Melalui penelitian ini, para murid mengangkat pemanfaatan nanomaterial sebagai salah satu alternatif dalam pengembangan teknologi perlindungan material.

5. SCAB – Perangkat Pemandu Cerdas bagi Penyandang Tunanetra

Anggota: Revalina Marbun dan Kayra Naurin Aqueeni

Asal sekolah: SMA Negeri 6 Yogyakarta

Tim SCAB mengembangkan EnviroSmart Device: Smart Guidance and Emergency Device for Visually Impaired.

Mereka merancang perangkat pemandu cerdas untuk membantu penyandang tunanetra. Selain mendukung kebutuhan navigasi, perangkat ini juga mengusung fitur pemberitahuan darurat untuk menunjang keselamatan pengguna.

Gagasan tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi dapat membantu menjawab kebutuhan aksesibilitas. Dengan demikian, inovasi digital tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga pada dukungan bagi kelompok yang membutuhkan alat bantu.

6. AKU DAH LUPA – Sistem Analisis Alzheimer melalui Citra MRI

Anggota: Fathan Abdillah Al Attar dan Fachry Bahtiar Rahadiansyah

Asal sekolah: MAN 2 Kota Malang

Tim AKU DAH LUPA membawa penelitian AlzScan: An Alzheimer’s Disease Detection System Using EfficientNetV2 and Multi-Head Self-Attention on MRI Images.

Melalui riset ini, mereka mengembangkan sistem berbasis web untuk menganalisis citra magnetic resonance imaging (MRI). Sistem tersebut memanfaatkan EfficientNetV2 dan metode Multi-Head Self-Attention dalam pengolahan citra medis.

Tim mengeksplorasi potensi kecerdasan artifisial untuk mendukung analisis yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer. Namun, teknologi ini masih memerlukan pengujian dan validasi klinis sebelum dapat digunakan untuk mendukung keputusan medis.

Fachry Bahtiar Rahadiansyah juga mengapresiasi pengalaman pembinaan yang ia jalani bersama tim. Menurutnya, kegiatan tersebut membantu peserta mempersiapkan diri menghadapi kompetisi YIC.

7. SYFORCE – Perangkat Pakai untuk Mengukur Kelengkungan Tulang Belakang

Anggota: Muhammad Sulthan Fadhil Ardani dan Alrizta Winant Maliki Herdyanto

Asal sekolah: MAN Insan Cendekia Pekalongan

Tim SYFORCE mengembangkan penelitian SIMUFLEX: A Wearable Spinal Curvature Measurement System Based on Fusion Sensor for Detecting Scoliosis.

Mereka merancang perangkat yang dapat dikenakan untuk mengukur kelengkungan tulang belakang dengan memanfaatkan sistem fusi sensor. Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan perangkat teknologi untuk mendukung pemantauan kondisi tulang belakang yang berkaitan dengan skoliosis.

Melalui pendekatan tersebut, tim mengeksplorasi penggunaan sensor dalam pengembangan perangkat pemantauan kesehatan. Meski demikian, fungsi diagnostik perangkat tetap memerlukan pengujian dan validasi lebih lanjut.

8. DewaCerva – Riset Nanopartikel Ekstrak Daun Dewandaru untuk Terapi Kanker Serviks

Anggota: Muhammad Bagir dan Xahida Xena Xanadu Adam Talib

Asal sekolah: SMA Negeri 8 Jakarta

Tim DewaCerva membawa penelitian DewaCerva: Lipid-Polymer Hybrid Nanoparticles (LPNs) of Dewandaru (Eugenia uniflora L.) Leaf Extract for Cervical Cancer Therapy with Evaluation of p53, AKT and mTOR Pathways.

Riset ini mengkaji formulasi nanopartikel hibrida lipid-polimer yang menggunakan ekstrak daun dewandaru. Tim meneliti potensinya dalam konteks pengembangan terapi kanker serviks melalui evaluasi jalur biologis p53, AKT, dan mTOR.

Penelitian tersebut menggabungkan kajian bahan alam dengan teknologi nanopartikel. Namun, temuan riset tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti efektivitas terapi pada pasien. Pengujian lanjutan tetap diperlukan untuk menilai keamanan dan manfaatnya.

YIC Jadi Ruang Pengembangan Talenta Riset Muda

Keikutsertaan delapan tim Indonesia dalam YIC 2026 merupakan bagian dari penerapan Manajemen Talenta Murid. Program ini mencakup tahapan identifikasi, pengembangan, aktualisasi, apresiasi, dan pemanfaatan talenta.

Melalui tahapan tersebut, Kemendikdasmen mendorong murid untuk mengembangkan kemampuan sesuai potensi masing-masing. Kompetisi riset juga memberi kesempatan kepada mereka untuk mengasah pemikiran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi ilmiah.

Selain mengembangkan penelitian, peserta perlu menyampaikan gagasan secara sistematis dan menjelaskan pendekatan ilmiah yang mereka gunakan. Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk melanjutkan pengembangan riset pada jenjang pendidikan berikutnya.

Young Inventors Challenge diselenggarakan oleh Association of Science, Technology, and Innovation (ASTI). Ajang ini mendorong murid sekolah menengah untuk berkolaborasi dalam menghasilkan produk dan solusi inovatif bagi berbagai persoalan.

Penyelenggara juga mengaitkan semangat inovasi tersebut dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Dengan demikian, peserta mendapat ruang untuk mengembangkan gagasan yang berkaitan dengan tantangan sosial, lingkungan, kesehatan, dan pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan sumber rilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 16 murid yang tergabung dalam delapan tim mewakili Indonesia di Young Inventors Challenge (YIC) 2026. Setelah menjalani seleksi dan pembinaan sejak OPSI 2025, kedelapan tim berhasil masuk kelompok 32 besar finalis dengan inovasi di bidang teknologi, pertanian, lingkungan, kesehatan, dan teknologi asistif.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article