EDUCARE.CO.ID – Limbah pertanian tidak selalu berakhir sebagai sampah. Lima mahasiswa Program Studi D3 Agroindustri, Jurusan Pertanian, Politeknik Negeri Subang (POLSUB), membuktikannya melalui MycoCraft, inovasi yang mengolah sisa media tanam jamur menjadi produk kerajinan ramah lingkungan.
Tim yang dipimpin Anggia Ainal Amalia ini memanfaatkan limbah baglog jamur yang sudah melewati masa produktif sebagai bahan baku alternatif. Mereka mengolah sisa serbuk gergaji tersebut menjadi beragam produk fungsional dengan desain menarik dan potensi nilai ekonomi.
Baglog sendiri merupakan media tanam jamur yang umumnya terdiri atas serbuk gergaji dan nutrisi tambahan. Setelah masa panen berakhir, media tersebut dapat menumpuk sebagai limbah organik apabila petani tidak mengelolanya dengan baik.
Anggia melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk menghadirkan produk baru sekaligus mengurangi limbah pertanian.
“Padahal, limbah baglog masih sangat berpotensi dimanfaatkan kembali. Gagasan MycoCraft ini kami kembangkan dengan konsep waste to value, yaitu mengubah barang sisa yang tak berharga menjadi produk fungsional yang memiliki daya tarik estetika dan nilai jual,” jelas Anggia.
Bersama empat anggota timnya, Ahmad Surya Puji Andika, Hemalia Putri Rahayu, Nur Khodijah, dan Pratiwi, Anggia mengembangkan MycoCraft sebagai usaha kreatif yang menggabungkan pengelolaan limbah dengan desain produk.
MycoCraft Hadirkan Tiga Produk dari Limbah Jamur
MycoCraft kini memiliki tiga varian produk yang menyasar kebutuhan sehari-hari sekaligus dekorasi.
Pertama, MycoCoaster, yaitu tatakan gelas atau minuman yang dapat melengkapi tampilan meja. Kedua, MycoPot, pot tanaman berukuran mini dengan desain dekoratif. Ketiga, MycoKey, gantungan kunci dengan tampilan estetik yang mudah dibawa.
Ketiga produk tersebut menunjukkan bahwa sisa media tanam jamur dapat memiliki fungsi baru melalui pengolahan dan pengembangan desain. Alih-alih membiarkan limbah menumpuk, tim MycoCraft memanfaatkannya sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk yang berpotensi menarik minat konsumen.
Berdasarkan sumber Politeknik Negeri Subang, tim ini mengembangkan usahanya melalui Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) yang digagas Unit Pengembangan Karier dan Kewirausahaan POLSUB. Dosen Jurusan Pertanian, Erin Nur Fitriani, turut memberikan pendampingan selama proses pengembangan usaha.
Program tersebut mendorong mahasiswa untuk menerapkan ilmu vokasi secara langsung, mulai dari pengolahan bahan hingga pengelolaan bisnis. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mengembangkan gagasan produk, tetapi juga belajar memahami proses produksi dan kebutuhan pasar.
Pamerkan Produk di Kampus Cibogo POLSUB
Tim MycoCraft mulai memperkenalkan produknya kepada masyarakat melalui pameran dalam ajang Lomba Olahraga Baris Berbaris (LOBB) Kejuaraan Daerah (Kejurda) FORBASI Jawa Barat. Kegiatan tersebut berlangsung di Kampus Cibogo POLSUB pada Sabtu (17/10/2026).
Pameran ini menjadi kesempatan bagi tim untuk memperlihatkan langsung hasil inovasi mereka kepada pengunjung. Selain memperkenalkan fungsi produk, kegiatan tersebut juga membantu mahasiswa mengenali respons calon konsumen terhadap kerajinan berbahan limbah pertanian.
Bagi Anggia dan rekan-rekannya, pengembangan MycoCraft menjadi ruang belajar kewirausahaan yang mencakup banyak aspek. Mereka mempelajari pengolahan bahan baku, pengembangan desain, proses produksi, pengemasan, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan.
“Ini menjadi wadah bagi kami untuk menerapkan pengetahuan secara utuh. Mulai dari proses pengolahan bahan, pengembangan desain, produksi, pengemasan, hingga strategi pemasaran dan tata kelola keuangannya,” tambah Anggia.
Melalui pengalaman tersebut, tim menghubungkan pembelajaran agroindustri dengan praktik usaha. Mereka juga berkesempatan memahami tantangan ketika sebuah produk harus memenuhi kebutuhan konsumen, bukan hanya menyelesaikan proses pembuatan.
Bidik Konsumen Peduli Lingkungan dan Pelaku UMKM
Setelah memperkenalkan produk kepada publik, tim MycoCraft mulai menyusun strategi pemasaran untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Mereka membidik sejumlah segmen, mulai dari mahasiswa, pelajar, dewasa muda, hingga rumah tangga.
Selain pasar umum, MycoCraft juga menyasar konsumen yang peduli terhadap isu lingkungan atau eco-conscious consumers. Kelompok ini menjadi sasaran potensial karena produk MycoCraft mengangkat pemanfaatan kembali limbah sebagai bagian dari konsep usaha.
Tim juga melihat peluang kerja sama dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya kedai kopi dan kafe yang membutuhkan elemen dekorasi menarik. Produk seperti MycoCoaster dan MycoPot berpotensi melengkapi kebutuhan tersebut, bergantung pada desain dan kebutuhan masing-masing usaha.
Untuk tahap awal, tim menjalankan pemasaran melalui dua jalur, yakni penjualan langsung dan media digital. Mereka memusatkan upaya pemasaran di Kabupaten Subang dan wilayah sekitarnya sebelum memperluas jangkauan ke berbagai daerah di Jawa Barat.
“Kami percaya bahwa produk ini nantinya bisa secara nyata mendorong penerapan konsep waste to value di masyarakat. Kami ingin membuktikan bahwa pengelolaan limbah yang berkelanjutan bisa sejalan dengan pengembangan peluang usaha kreatif berbasis potensi lokal,” pungkas Anggia.
MycoCraft Gabungkan Kepedulian Lingkungan dan Kewirausahaan
Inovasi MycoCraft memperlihatkan peluang pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan baku produk kreatif. Di sisi lain, usaha ini memberi mahasiswa kesempatan untuk mengasah keterampilan kewirausahaan melalui proses pengembangan produk, pengenalan pasar, dan perencanaan penjualan.
Ke depan, perluasan pasar dan pengembangan variasi produk dapat membuka peluang bagi MycoCraft untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Konsistensi kualitas, desain yang menarik, serta pengelolaan produksi juga akan berperan penting dalam mendukung keberlanjutan usaha.
Melalui MycoCraft, mahasiswa POLSUB berupaya mengubah persoalan limbah menjadi peluang ekonomi. Inisiatif ini sekaligus menunjukkan bagaimana pendidikan vokasi dapat mendorong inovasi berbasis potensi lokal yang mempertemukan kreativitas, kewirausahaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

