Cangkang Kepiting Tak Lagi Sekadar Limbah, Mahasiswa ITK Gagas BRACO Jadi Kaldu Bubuk

Must read

EDUCARE.CO.ID – Cangkang kepiting yang kerap berakhir sebagai limbah setelah proses pengolahan kini dilirik sebagai bahan baku potensial untuk produk bernilai tambah. Mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mengangkat peluang tersebut melalui BRACO, sebuah gagasan pengembangan kaldu bubuk berbahan dasar hasil pengolahan cangkang kepiting.

Gagasan ini dikembangkan oleh mahasiswa Kelompok 9 MSD I dengan bimbingan Muhammad Iqra Prasetya, S.Si., M.Si., selaku dosen pengampu. Tim melihat bahwa aktivitas perikanan di Balikpapan tidak hanya menghasilkan produk konsumsi, tetapi juga menyisakan cangkang kepiting yang berpotensi untuk dimanfaatkan lebih lanjut.

Dalam kajian awalnya, tim memperkirakan limbah cangkang kepiting di Balikpapan mencapai sekitar 5 ton per bulan. Potensi bahan baku tersebut antara lain berasal dari kawasan Manggar, Kariangau, dan Teritip. Namun, angka tersebut masih berupa estimasi berdasarkan kajian tim dan perlu diverifikasi melalui pendataan lapangan.

BRACO Buka Peluang Pemanfaatan Limbah Pesisir

Melalui BRACO, mahasiswa ITK merancang konsep pengolahan cangkang kepiting secara higienis untuk menghasilkan bahan kaldu bubuk. Inisiatif ini berupaya mengubah sisa pengolahan hasil laut menjadi produk yang memiliki potensi nilai ekonomi.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular. Alih-alih membuang material sisa produksi, konsep ini mendorong pemanfaatannya kembali agar dapat menghasilkan nilai tambah dalam rantai ekonomi.

Berdasarkan sumber Institut Teknologi Kalimantan, gagasan ini juga membuka peluang penjajakan produk lokal bersama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Meski demikian, tim masih perlu menyempurnakan proses pengolahan dan menguji karakteristik produk sebelum melangkah ke tahap produksi pangan untuk pasar.

Dengan pengembangan yang tepat, BRACO dapat menjadi salah satu alternatif eksplorasi pemanfaatan potensi perikanan lokal. Namun, realisasi peluang tersebut bergantung pada hasil penelitian lanjutan, kesiapan proses produksi, serta penerimaan calon konsumen.

Uji Keamanan Pangan Jadi Prioritas

Pemanfaatan cangkang kepiting sebagai bahan baku kaldu bubuk memerlukan perhatian khusus terhadap keamanan pangan. Proses pengolahan yang higienis dan perhitungan kelayakan usaha saja belum cukup untuk memastikan produk aman dikonsumsi.

Karena itu, pengembangan BRACO perlu melalui serangkaian pengujian, termasuk pemeriksaan cemaran mikroba dan logam berat. Tim juga perlu menilai kesesuaian metode pengolahan, formulasi, serta proses produksi dengan ketentuan keamanan pangan yang berlaku.

Tahapan tersebut penting untuk memastikan bahwa inovasi tidak hanya menawarkan manfaat lingkungan dan ekonomi, tetapi juga memenuhi persyaratan kesehatan bagi konsumen. Selain itu, penyempurnaan formulasi dan pengujian mutu dapat membantu tim menentukan karakteristik produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Pada tahap sekarang, BRACO masih berada dalam ranah gagasan dan studi pengembangan produk. Oleh sebab itu, klaim mengenai keamanan konsumsi maupun kesiapan komersialnya perlu menunggu hasil pengujian dan validasi lebih lanjut.

Studi Awal Hitung Potensi Kelayakan Usaha

Tim BRACO turut mengkaji peluang ekonomi untuk melihat kemungkinan pengembangan produk dalam skenario usaha. Berdasarkan asumsi yang digunakan dalam perhitungan, kajian tersebut menghasilkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp38.854.774 dan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 51 persen. Tim juga memperkirakan waktu pengembalian modal sekitar enam bulan.

Dalam analisis investasi, NPV membantu menilai nilai manfaat finansial bersih berdasarkan asumsi arus kas, sedangkan IRR menunjukkan tingkat pengembalian internal dari investasi yang direncanakan.

Meski hasil perhitungan awal menunjukkan potensi ekonomi, angka tersebut belum menggambarkan hasil usaha yang benar-benar berjalan. Tim masih perlu memvalidasi biaya produksi, kesinambungan pasokan bahan baku, kebutuhan peralatan, serta respons konsumen terhadap produk.

Perhitungan lanjutan juga perlu mempertimbangkan biaya pengujian keamanan pangan, pengemasan, distribusi, dan pemenuhan persyaratan produksi. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kebutuhan modal maupun proyeksi keuntungan ketika BRACO memasuki tahap pengembangan berikutnya.

Berpotensi Memberi Manfaat bagi Lingkungan dan UMKM

Jika pengembangannya berhasil, BRACO berpotensi menghadirkan manfaat di luar penciptaan produk baru. Pemanfaatan cangkang kepiting dapat membantu mengurangi sisa pengolahan hasil laut yang tidak termanfaatkan, sekaligus membuka alternatif kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal.

Bagi pelaku UMKM, gagasan ini dapat menjadi titik awal untuk mengeksplorasi produk turunan hasil perikanan. Sementara itu, keterlibatan masyarakat dalam rantai pasok dan pengembangan usaha berpotensi membuka ruang pembelajaran serta penguatan keterampilan.

Namun, besarnya manfaat tersebut akan bergantung pada kelayakan proses produksi, ketersediaan bahan baku, pengelolaan limbah, dan keberlanjutan usaha. Pengembangan produk juga perlu memastikan bahwa proses pemanfaatan cangkang tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.

BRACO turut mengangkat isu yang berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri, inovasi dan infrastruktur, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta pelestarian ekosistem laut.

BRACO Jadi Awal Eksplorasi Inovasi Pesisir

Gagasan BRACO menunjukkan bagaimana mahasiswa ITK mencoba melihat potensi ekonomi dari persoalan limbah di kawasan pesisir. Cangkang kepiting yang sebelumnya kurang termanfaatkan menjadi titik awal untuk mengeksplorasi inovasi berbasis sumber daya lokal.

Meski demikian, perjalanan dari gagasan menuju produk pangan komersial masih memerlukan sejumlah tahapan penting. Pengujian keamanan, penyempurnaan formulasi, validasi biaya, dan penilaian pasar akan menentukan apakah BRACO dapat berkembang menjadi produk yang layak diproduksi dan diterima konsumen.

Melalui riset lanjutan dan pengembangan yang terukur, gagasan ini berpotensi memperluas pilihan pemanfaatan hasil perikanan di Balikpapan. Langkah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa inovasi pengolahan limbah perlu berjalan beriringan dengan keamanan pangan, kelayakan usaha, dan keberlanjutan lingkungan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article