EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menorehkan prestasi di panggung internasional. Tim Civil Nexus dari Program Studi Teknik Sipil sukses membawa pulang tiga penghargaan dalam ajang International Highest Early Strength Eco-Green Concrete Cube Competition (I-HESEGC) 2026 di Malaysia.
Dalam kompetisi yang berlangsung pada 2–4 Agustus 2026 di Politeknik Sultan Haji Ahmad Shah (POLISAS), Kuantan, Pahang, Malaysia, tim tersebut meraih Gold Medal, Top 4 Special Award, dan Best Paper. Pencapaian ini menjadi hasil dari riset dan pengembangan beton berkekuatan awal tinggi dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.
Tim Civil Nexus terdiri atas Dewa Tri Puja, Adimas Wahyu Ariadani, dan Ariska Vera Wibowo. Ketiganya merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UMY yang mendapat pendampingan dari dosen Hakas Prayuda, S.T., M.Eng., Ph.D.
Ketua tim, Dewa Tri Puja, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian tersebut. Ia menilai ketiga penghargaan itu menjadi hasil dari kerja keras tim dalam menyiapkan inovasi di tengah waktu persiapan yang terbatas.
“Sangat senang dan bangga karena usaha yang kami lakukan sebagai tim dapat membuahkan hasil terbaik. Kami juga mampu bersaing dengan dua nominator lainnya, yaitu dari Politeknik Sultan Idris Shah dan Politeknik Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah, Malaysia,” ungkap Dewa saat diwawancarai secara daring, Selasa (11/8).
Hanya Punya Waktu Dua Bulan untuk Menyiapkan Inovasi
Di balik raihan tiga penghargaan tersebut, Civil Nexus menghadapi tantangan besar sejak tahap persiapan. Tim hanya memiliki waktu sekitar dua bulan untuk melakukan penelitian, menguji komposisi material, dan menyiapkan seluruh kebutuhan kompetisi.
Waktu persiapan yang singkat juga bertepatan dengan kesibukan anggota tim di kompetisi lain. Dewa tengah mengikuti final kompetisi beton tingkat nasional di Universitas Tarumanagara. Sementara itu, Adimas baru menyelesaikan kompetisi di Universiti Malaya.
Setelah menyelesaikan agenda tersebut, mereka langsung memaksimalkan waktu yang tersisa untuk meneliti dan mengembangkan formulasi beton.
“Kami memanfaatkan setiap hari yang tersedia. Bahkan, hari Minggu pun kami tetap berada di laboratorium,” tutur Dewa.
Selain keterbatasan waktu, aturan teknis I-HESEGC menuntut ketelitian tinggi. Peserta harus mencampur beton secara manual tanpa bantuan mesin. Mereka juga wajib menyelesaikan seluruh proses, mulai dari menimbang material hingga mencetak beton, dalam waktu satu jam.
Panitia kemudian menguji kuat tekan beton ketika material berusia sekitar 24 jam. Aturan ini menuntut peserta menghasilkan beton dengan kekuatan awal yang optimal dalam waktu pengerasan singkat.
Karena itu, Civil Nexus harus memperhitungkan komposisi material, desain campuran, teknik pencampuran, dan waktu pengerjaan secara cermat. Setiap tahapan membutuhkan perencanaan dan pengujian agar hasilnya memenuhi kriteria kompetisi.
Berburu Material Sambil Menghadapi Ujian Akhir Semester
Tantangan berikutnya muncul ketika tim mencari material yang paling sesuai untuk formulasi beton mereka. Dengan waktu yang terbatas, ketiga mahasiswa tersebut harus mencoba sejumlah komposisi sebelum menentukan campuran yang tepat.
Pada saat bersamaan, mereka juga menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS). Tim tetap harus menyelesaikan berbagai kebutuhan kompetisi, mulai dari poster ilmiah, makalah, mix design, latihan presentasi, hingga persiapan keberangkatan ke Malaysia.
“Kami memiliki waktu yang sedikit, tetapi harus memenuhi banyak persyaratan kompetisi, mulai dari poster, paper, mix design, latihan presentasi, hingga berbagai kebutuhan lainnya,” jelas Dewa.
Persaingan internasional turut menguji kesiapan mental mereka. Para peserta dari negara lain juga datang dengan persiapan yang matang sehingga Civil Nexus sempat merasa khawatir menghadapi kompetisi.
“Tidak bisa dipungkiri, karena perlombaan ini bergengsi, peserta dari negara lain juga memiliki persiapan yang matang. Hal itu sempat membuat kami takut untuk maju. Namun, kami tidak menjadikannya alasan untuk berhenti, melainkan tantangan agar berani tampil di ajang internasional,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai tekanan, tim tetap melanjutkan penelitian dan menyelesaikan seluruh persyaratan. Mereka menjadikan setiap tahapan sebagai bagian dari proses untuk memperbaiki kualitas inovasi.
Satukan Tiga Gagasan Lewat Komunikasi dan Evaluasi
Selain kemampuan teknis, kekompakan menjadi unsur penting dalam perjalanan Civil Nexus. Ketiga anggota tim memiliki sudut pandang dan gagasan masing-masing. Karena itu, mereka perlu membangun komunikasi agar setiap keputusan tetap sejalan dengan tujuan penelitian.
“Kuncinya, sebisa mungkin kami meluruskan persoalan dan mencari jalan tengah ketika terjadi miskomunikasi karena kami menyatukan tiga kepala dalam satu gagasan,” kata Dewa.
Tim juga menjaga konsistensi selama proses penelitian. Mereka mengevaluasi setiap percobaan untuk menemukan kekurangan dan menentukan perbaikan pada tahap berikutnya.
Bagi Civil Nexus, formulasi yang belum memenuhi target bukan berarti penelitian harus berhenti. Sebaliknya, hasil pengujian menjadi bahan evaluasi untuk menyusun komposisi material yang lebih sesuai.
Pendekatan tersebut membantu tim menjalani proses penelitian secara bertahap. Mereka terus menguji, mengevaluasi, dan menyempurnakan formulasi beton hingga mendapatkan hasil yang sesuai dengan kriteria kompetisi.
Dukungan Kampus Bantu Tim Fokus pada Penelitian
Dukungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Program Studi Teknik Sipil turut membantu persiapan Civil Nexus. Menurut Dewa, kampus mendukung tim sejak memperoleh kesempatan mengikuti kompetisi hingga berangkat ke Malaysia.
Dukungan tersebut mencakup fasilitas laboratorium, kebutuhan penelitian, transportasi, serta akomodasi selama kompetisi. Dengan fasilitas itu, anggota tim dapat lebih fokus menjalankan penelitian dan mempersiapkan diri untuk bertanding.
“Kampus sangat mendukung mahasiswa. Kami diberikan fasilitas mulai dari kebutuhan laboratorium, keberangkatan, penginapan, dan berbagai kebutuhan lainnya sehingga dapat fokus pada perlombaan tanpa terlalu memikirkan kendala tersebut,” ungkap Dewa.
Dukungan ini juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang mereka pelajari di bangku kuliah. Melalui penelitian dan kompetisi, mahasiswa dapat menguji gagasan, mengembangkan inovasi, serta memperoleh pengalaman akademik di tingkat internasional.
Tiga Penghargaan Jadi Bekal untuk Kompetisi Berikutnya
Civil Nexus tidak ingin berhenti pada keberhasilan di Malaysia. Dewa berharap pencapaian tersebut dapat menjadi pijakan bagi tim untuk melanjutkan penelitian dan mengikuti kompetisi pada tingkat yang lebih tinggi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota tim, dosen pembimbing, Program Studi Teknik Sipil, dan UMY atas dukungan selama proses penelitian hingga kompetisi.
Raihan Gold Medal, Top 4 Special Award, dan Best Paper di I-HESEGC 2026 menjadi catatan prestasi bagi mahasiswa Teknik Sipil UMY. Selain membawa nama kampus di tingkat internasional, pengalaman ini juga memperkuat proses pembelajaran melalui riset, kerja sama tim, dan pengembangan inovasi di bidang konstruksi.

