Bawa Tumbler hingga Olah Sampah, Ini Cara Sekolah Bangun Budaya Ramah Lingkungan

Must read

EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong sekolah membangun budaya peduli lingkungan melalui kebiasaan sederhana yang konsisten. Bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Agama, Kemendikdasmen mengajak satuan pendidikan memperkuat perilaku ramah lingkungan, terutama sekolah yang belum pernah mengikuti Program Sekolah Adiwiyata.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan perlu menjadi bagian dari proses pendidikan. Sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kebiasaan murid dalam kehidupan sehari-hari.

“Sekolah adalah tempat kebiasaan dibentuk. Kebiasaan yang tumbuh di sekolah akan dibawa murid ke rumah, ke lingkungan tempat tinggalnya, dan ke tempat kerjanya,” ujar Atip dalam kegiatan Taubat Ekologis untuk Sekolah Berbudaya Lingkungan di Jakarta, Senin (12/10).

Kepedulian Lingkungan Masuk Penguatan Karakter Murid

Atip menjelaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan sejalan dengan dimensi keimanan dan ketakwaan dalam delapan dimensi profil lulusan. Ketentuan tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan.

Kemendikdasmen juga mendorong sekolah memperkuat karakter peduli lingkungan melalui pembelajaran mendalam (deep learning), kegiatan kokurikuler, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan Gerakan Sekolah Bersih.

Melalui berbagai program tersebut, sekolah dapat membangun lingkungan yang aman, sehat, rapi, dan indah. Lebih dari itu, pembiasaan yang konsisten membantu murid memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Sekolah Diminta Memulai dari Masalah di Lingkungan Sendiri

Atip mengajak setiap sekolah memulai perubahan dengan mengenali persoalan lingkungan yang mereka hadapi. Sekolah dapat menghitung volume sampah harian, memperbaiki sistem pengelolaan sampah, membersihkan toilet dan saluran air, serta menghemat pemakaian listrik dan air.

Hasil identifikasi tersebut dapat menjadi dasar penyusunan program perbaikan. Sekolah juga perlu memasukkan langkah-langkah tersebut ke dalam rencana kerja dan anggaran agar kegiatan berjalan secara terarah dan berkelanjutan.

Atip menekankan bahwa seluruh warga sekolah perlu terlibat dalam proses tersebut. Dukungan pemerintah daerah juga penting agar upaya menjaga lingkungan tidak hanya bergantung pada inisiatif beberapa orang.

“Perubahan tidak boleh bergantung pada satu atau dua orang saja. Oleh karena itu, diperlukan komitmen seluruh warga sekolah dan dukungan pemerintah daerah agar kepedulian terhadap lingkungan tumbuh menjadi budaya,” tambahnya.

Bawa Botol Minum Sendiri hingga Pilah Sampah

Sejumlah sekolah mulai menerapkan kebiasaan ramah lingkungan melalui kegiatan sehari-hari. Dini Purnama Sari, guru SMKN 17 Jakarta, menceritakan bahwa sekolahnya membiasakan murid dan warga sekolah membawa botol minum serta tempat makan sendiri.

Sekolah tersebut juga mengajak murid memilah dan mengolah sampah organik maupun anorganik melalui kegiatan kokurikuler. Selain itu, fasilitas pengisian air minum mandiri membantu murid mengurangi ketergantungan pada minuman kemasan.

Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa sekolah dapat mengurangi sampah sekaligus menanamkan tanggung jawab lingkungan melalui tindakan sederhana. Jika warga sekolah menjalankannya secara konsisten, kebiasaan itu berpeluang menjadi bagian dari budaya sekolah.

SDN Malaka Jaya 10 Olah Sisa Makanan Menjadi Kompos

Upaya serupa juga dilakukan SDN Malaka Jaya 10 Jakarta. Guru sekolah tersebut, Annisa ul Chasanah, menyampaikan komitmen untuk membiasakan murid memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, dan merawat tanaman di lingkungan sekolah.

Sekolah juga memanfaatkan sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta daun kering sebagai bahan pembuatan kompos. Langkah ini membantu warga sekolah mengenal pengelolaan sampah organik sekaligus memanfaatkan kembali bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.

Melalui kegiatan tersebut, murid dapat mempelajari kepedulian lingkungan secara langsung. Mereka tidak hanya menerima materi di kelas, tetapi juga mempraktikkan cara mengurangi sampah dan merawat lingkungan sekitar.

Taubat Ekologis Perlu Berlanjut Menjadi Kebiasaan

Kemendikdasmen berharap gerakan Taubat Ekologis tidak berhenti pada deklarasi. Kolaborasi lintas kementerian perlu berjalan seiring dengan partisipasi aktif guru, murid, tenaga kependidikan, dan pemerintah daerah.

Sekolah dapat memulai langkah tersebut melalui pengelolaan sampah, penghematan air dan energi, serta perawatan lingkungan secara rutin. Dengan perencanaan yang jelas dan keterlibatan seluruh warga sekolah, upaya kecil dapat berkembang menjadi kebiasaan bersama.

Melalui gerakan ini, Kemendikdasmen ingin memperkuat peran sekolah sebagai ruang pembentukan karakter. Harapannya, murid tumbuh menjadi generasi yang bertanggung jawab, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article