EDUCARE.CO.ID – Indonesia perlu memperkuat talenta dan inovasi untuk menghadapi perkembangan teknologi yang bergerak semakin cepat. Penguatan ekosistem riset dan inovasi dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing menuju target Indonesia sebagai negara maju pada 2045.
Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman, dalam keynote speech pada Seminar Nasional Engineering Innovation for Industrial and Future Sustainable Society.
Seminar tersebut berlangsung di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Kamis (3/9), sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-62 FTUI.
Perkembangan AI hingga 3D Printing Makin Pesat
Fauzan menyoroti perubahan teknologi yang berlangsung secara eksponensial. Beberapa teknologi yang berkembang cepat antara lain kecerdasan artifisial (AI), bioengineering, 3D printing, cloud, hingga agentic AI.
Perubahan tersebut membuat Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan penguasaan teknologi. Menurut Fauzan, kualitas talenta dan kemampuan menghasilkan inovasi justru menjadi modal penting untuk membangun daya saing nasional.
“Mata uang baru kita itu bukan teknologi itu sendiri, tetapi bagaimana talenta dan inovasi kita kembangkan,” ujarnya.
Karena itu, pengembangan sumber daya manusia perlu berjalan seiring dengan penguatan riset dan inovasi. Dengan begitu, Indonesia dapat memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
Investasi R&D Swasta Perlu Diperkuat
Fauzan juga menekankan pentingnya meningkatkan investasi penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) dari sektor swasta.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri menjadi salah satu pendekatan yang dapat memperkuat investasi tersebut. Salah satunya melalui skema co-funding bersama industri.
Menurut Fauzan, langkah ini penting agar aktivitas riset tidak berhenti di lingkungan akademik. Hasil penelitian perlu memiliki jalur yang jelas menuju penerapan dan memberikan manfaat bagi industri maupun masyarakat.
Selain itu, pendekatan riset juga perlu mengalami perubahan. Perguruan tinggi didorong untuk tidak hanya mengejar jumlah publikasi, tetapi mulai mengembangkan riset berdasarkan problem statement dan challenge-based research.
Riset Harus Punya Dampak Nyata
Pendekatan berbasis persoalan tersebut memungkinkan peneliti merancang riset dengan tujuan yang lebih jelas. Setiap penelitian perlu memiliki pathway to impact atau jalur menuju dampak nyata.
Dengan pendekatan itu, perguruan tinggi dapat berperan lebih besar sebagai simpul pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi. Hasil riset tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi juga dapat menjawab kebutuhan industri dan persoalan masyarakat.
Sejalan dengan itu, penguatan hilirisasi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar ide, pengetahuan, dan teknologi dapat berkembang menjadi solusi yang memiliki nilai ekonomi dan sosial.
Tantangan Teknologi Jadi Peluang bagi Insinyur
Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Kemas Ridwan Kurniawan, melihat perkembangan teknologi sebagai tantangan sekaligus peluang bagi dunia engineering.
Transformasi digital, transisi energi, perubahan iklim, dan tuntutan pembangunan berkelanjutan kini ikut membentuk kebutuhan baru bagi para insinyur.
Menurut Kemas, peran insinyur tidak lagi sebatas menciptakan teknologi. Mereka juga harus memastikan inovasi tersebut mampu menyelesaikan persoalan nyata.
Teknologi yang dikembangkan perlu memberikan manfaat bagi masyarakat. Pada saat yang sama, inovasi harus mampu memperkuat daya saing industri dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
PT Pindad Dorong Kedaulatan Teknologi
Seminar nasional tersebut juga menghadirkan Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma.
Prima menekankan pentingnya membangun kedaulatan teknologi melalui penguatan inovasi dalam negeri. Menurutnya, Indonesia perlu mengembangkan kemampuan teknologi sendiri agar tidak terus bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan talenta nasional perlu membangun kolaborasi yang lebih erat.
Kolaborasi Jadi Kunci Menuju Indonesia Emas 2045
Seminar Engineering Innovation for Industrial and Future Sustainable Society memperlihatkan pentingnya mempertemukan dunia akademik, pemerintah, dan industri.
Kolaborasi tersebut dapat memperkuat pengembangan talenta, riset, teknologi, inovasi, hingga hilirisasi. Dengan demikian, hasil penelitian memiliki peluang lebih besar untuk menjawab kebutuhan industri dan masyarakat.
Pada akhirnya, talenta dan inovasi menjadi dua modal penting dalam perjalanan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Penguatan ekosistem yang menghubungkan perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi langkah strategis agar inovasi tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi menghasilkan dampak nyata bagi pembangunan nasional.


