EDUCARE.CO.ID – Hamparan sawah Desa Sukorejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, kini memiliki sejumlah bangunan kecil yang menarik perhatian. Bangunan itu bukan rumah warga, melainkan Rumah Burung Hantu (RUBUHA).
Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Angkatan 15 memasang RUBUHA sebagai upaya membantu petani menghadapi hama tikus. Mereka memilih pendekatan alami dengan memanfaatkan burung hantu sebagai predator tikus sawah.
Program tersebut lahir dari persoalan yang mahasiswa temukan selama menjalankan KKN. Tim kemudian merancang solusi yang sesuai dengan kondisi pertanian dan potensi lingkungan Desa Sukorejo.
Kegiatan KKN berlangsung pada 29 Juli hingga 27 Agustus 2026. Pemerintah Desa Sukorejo turut mendukung program tersebut di bawah kepemimpinan Kepala Desa Sriyono.
Keluhan Petani Jadi Awal Gagasan RUBUHA
Mahasiswa mulai menemukan masalah hama tikus ketika mereka berdialog dengan warga. Petani menilai serangan tikus dapat mengganggu kondisi tanaman di area persawahan.
Kerusakan tanaman tentu dapat memengaruhi hasil panen. Dampaknya juga bisa merembet pada pendapatan dan kesejahteraan petani.
Situasi tersebut membuat mahasiswa mencari solusi yang tidak hanya memberi dampak sesaat. Mereka ingin menghadirkan program yang masih dapat warga manfaatkan setelah masa KKN selesai.
Ketua Kelompok 13 KKN Unimus, Khairul Umam, mengatakan timnya menyesuaikan program dengan kebutuhan warga.
“Kami tidak ingin KKN hanya meninggalkan dokumentasi kegiatan, tetapi juga sesuatu yang tetap bisa dimanfaatkan warga setelah kami kembali ke kampus,” ujar Umam.
Menurut Umam, pengalaman tersebut juga mengubah cara pandang tim terhadap inovasi. Sebuah inovasi tidak selalu membutuhkan teknologi rumit atau biaya besar.
Persoalan sederhana pun dapat melahirkan solusi tepat guna. Syaratnya, mahasiswa perlu memahami kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan sekitar.
Empat Wilayah Jadi Lokasi Pemasangan
Kelompok 13 memasang RUBUHA di empat wilayah pertanian Desa Sukorejo. Lokasinya mencakup Sedayu, Grajegan, Jati, dan Jetak.
Tim memilih titik tersebut dengan mempertimbangkan area persawahan serta kebutuhan pengendalian hama. Harapannya, burung hantu dapat memanfaatkan RUBUHA sebagai tempat beraktivitas di sekitar lahan pertanian.
Kehadiran predator alami menjadi bagian penting dari konsep program. Mahasiswa ingin membantu petani memanfaatkan mekanisme ekosistem untuk menghadapi populasi tikus.
RUBUHA Bawa Konsep Pengendalian Hama Alami
Program RUBUHA tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas. Mahasiswa juga menggabungkan edukasi lingkungan dan pemanfaatan predator alami.
Konsep ini mendorong masyarakat melihat ekosistem sebagai bagian dari solusi. Burung hantu memiliki peran sebagai predator yang dapat memangsa tikus di area pertanian.
Mahasiswa berharap pendekatan tersebut dapat menjadi alternatif bagi petani. Mereka juga ingin meningkatkan pemahaman warga tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Inovasi desa pun tidak selalu harus berbentuk aplikasi atau perangkat digital. Potensi alam yang warga kelola secara tepat juga dapat menghasilkan solusi sederhana.
Dosen Dorong KKN Beri Dampak Nyata
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Unimus, Prima Trisna Aji, mengapresiasi langkah Kelompok 13. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami kebutuhan masyarakat sebelum menyusun program.
“KKN bukan tentang seberapa banyak program yang diselesaikan, tetapi seberapa tepat program menjawab kebutuhan desa,” kata Prima.
Ia juga mendorong warga untuk merawat RUBUHA setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian. Pemantauan secara berkala dapat membantu warga melihat perkembangan program.
Data lapangan juga penting untuk menilai manfaat RUBUHA. Warga dapat mengamati kondisi hama dan perkembangan populasi burung hantu dari waktu ke waktu.
Program Tetap Berjalan Setelah KKN Selesai
Masa KKN Kelompok 13 berakhir pada 27 Agustus 2026. Namun, RUBUHA tetap berada di kawasan pertanian Desa Sukorejo.
Mahasiswa berharap warga dapat melanjutkan pengelolaan fasilitas tersebut. Jika burung hantu mulai memanfaatkan RUBUHA, keberadaan predator alami itu berpotensi membantu mengendalikan tikus.
Efektivitas program tentu membutuhkan pemantauan lanjutan. Warga dan pihak desa dapat melihat perubahan kondisi hama serta dampaknya terhadap lahan pertanian.
Pendekatan tersebut juga memperlihatkan arah baru kegiatan KKN. Mahasiswa tidak hanya membawa program dari kampus, tetapi juga belajar membaca persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
11 Mahasiswa Jalankan Program RUBUHA
Sebanyak 11 mahasiswa Kelompok 13 KKN Unimus Angkatan 15 menjalankan program tersebut. Mereka terdiri atas Khairul Umam, Septi Febriyanti, Resa Amelia, Aisya Faradiba Kamila, Bagus Prabowo, Salsabila Rizki Syifa, Arya Raja Armaditya Putra, Ajeng Aulia Putri, Andri Bayu Saputra, Nanda Fitria Rizqi, dan Kayla Khansha Aurelia Dewi.
Kolaborasi juga melibatkan pemerintah desa, petani, dan masyarakat. Setiap pihak memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan program di lingkungan pertanian.
Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan sekaligus memahami kebutuhan warga. Bagi masyarakat, RUBUHA dapat menjadi salah satu upaya memanfaatkan potensi lingkungan untuk menghadapi persoalan pertanian.
RUBUHA Jadi Jejak Pengabdian Mahasiswa
Program RUBUHA menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat dapat berangkat dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan warga. Mahasiswa melihat masalah hama tikus, berdialog dengan petani, lalu mencari pendekatan yang sesuai dengan lingkungan setempat.
Kini mahasiswa telah menyelesaikan masa KKN di Sukorejo. Namun, fasilitas yang mereka bangun masih dapat warga manfaatkan.
Lebih dari sekadar bangunan kecil di tengah sawah, RUBUHA membawa gagasan tentang pengendalian hama dengan memanfaatkan keseimbangan alam. Program ini juga menjadi contoh bahwa solusi sederhana dapat memberi manfaat ketika masyarakat ikut menjaga dan mengembangkannya.
Penulis: Putri Faathiman Niara


