EDUCARE.CO.ID – Prestasi membanggakan datang dari 12 siswa BPK Penabur Intercultural Secondary and Junior College Kelapa Gading. Mereka membawa pulang 76 medali dan empat trofi dari ajang World Scholar’s Cup (WSC) Shanghai Global Round 2026.
Kompetisi internasional tersebut berlangsung di Shanghai, China, pada 5–10 Agustus 2026. Para siswa bersaing dengan lebih dari 85 tim dari 30 negara, termasuk Indonesia.
Capaian itu sekaligus membuka jalan menuju kompetisi tingkat dunia berikutnya. Sebanyak 12 siswa tersebut berhak melaju ke Tournament of Champions yang akan berlangsung di Yale University, Amerika Serikat, pada November 2026.
Berdasarkan sumber keterangan tertulis BPK Penabur Intercultural Secondary and Junior College Kelapa Gading yang dikutip Kompas.com, perjalanan tersebut menjadi hasil dari proses latihan dan pembinaan yang dilakukan para siswa selama berbulan-bulan.
Empat Cabang WSC Uji Kemampuan Siswa
World Scholar’s Cup merupakan kompetisi akademik internasional bagi pelajar tingkat SMP dan SMA. Ajang ini telah berlangsung sejak 2007.
Kompetisi tersebut menggunakan format tim yang terdiri dari tiga peserta. Setiap tim harus menghadapi empat cabang lomba, yaitu Team Debate, Collaborative Writing, Scholar’s Challenge, dan Scholar’s Bowl.
Keempat cabang tersebut menguji kemampuan siswa dari berbagai sisi. Peserta perlu menguasai materi, melakukan riset, menyusun argumen, bekerja sama, dan menyampaikan gagasan secara kritis.
Format kompetisi membuat siswa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Mereka juga harus mampu berkomunikasi dan berkolaborasi dengan anggota tim.
Junior Division Sumbang Puluhan Medali
Pada kategori Junior Division, siswa Penabur Kelapa Gading tampil dalam tiga tim.
Tim pertama beranggotakan Tiffany Annabel Blessing, Ashley Nicole, dan Risharta Tandyasraya.
Tiffany membawa pulang empat medali emas, satu medali perak, dan satu trofi. Ashley meraih tiga medali emas dan dua medali perak, sedangkan Risharta mengantongi dua medali emas dan tiga medali perak.
Tim kedua terdiri atas Madelaine Annabelle Pranata, Joanna Natalie Lo, dan Berenice Maden Widjaya.
Madelaine meraih dua medali emas dan satu medali perak. Joanna memperoleh dua medali emas, sementara Berenice membawa pulang satu medali emas dan satu medali perak.
Sementara itu, tim ketiga diisi Jonathan Clifton, Filia Emery Tani, dan Felicia Surya Djojo.
Jonathan mengoleksi tiga medali emas dan tiga medali perak. Filia meraih empat medali emas dan dua medali perak. Felicia menyumbangkan tiga medali emas dan tiga medali perak.
Tiffany Masuk Top 5 Individual
Pencapaian Tiffany menjadi salah satu sorotan dalam kompetisi tersebut. Ia berhasil masuk Top 5 Individual di WSC Shanghai Global Round 2026.
Bagi Tiffany, hasil tersebut terasa istimewa setelah menjalani persiapan panjang. Pengalaman mengikuti WSC juga membuatnya lebih terbuka dalam berinteraksi dengan orang lain.
“Rasanya, kekhawatiran yang saya alami selama ini terbayarkan. Saya juga menjadi pribadi yang lebih terbuka setelah bergabung di WSC,” ujar Tiffany dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (2/9/2026).
Tiffany sendiri sudah mengikuti WSC selama tiga tahun. Ia terus mengasah kemampuan berbicara di depan publik selama mengikuti kompetisi.
Menurutnya, seseorang bisa belajar menjadi pembicara yang baik dalam waktu relatif singkat. Namun, proses untuk menyempurnakan kemampuan tersebut membutuhkan latihan yang panjang.
Senior Division Tambah Koleksi Medali
Prestasi Penabur Kelapa Gading juga datang dari kategori Senior Division.
Kenzie Aska menjadi salah satu peraih medali terbanyak. Ia membawa pulang 12 medali emas, tiga medali perak, dan dua trofi.
Sementara itu, Nathania Nattaya Adiputra meraih lima medali emas dan tujuh medali perak. Maureen Elaine Darmawan menyumbangkan enam medali emas dan tiga medali perak.
Tim Senior Division juga meraih trofi dengan predikat 18th Best Overall.
Kenzie mengaku tidak menyangka bisa memperoleh pencapaian sebanyak itu. Ia merasa lega setelah seluruh proses latihan selama beberapa bulan membuahkan hasil.
“Saya tidak menyangka akan meraih prestasi sebanyak ini, tetapi hal itu membuat saya lega karena semua kerja keras yang telah saya lakukan selama beberapa bulan terakhir,” ucap Kenzie.
Seleksi Jakarta Jadi Titik Awal
Perjalanan menuju Shanghai dimulai jauh sebelum Global Round. Para siswa terlebih dahulu mengikuti Jakarta Regional Round pada 2–4 Mei 2026.
Seleksi tersebut menjadi tahap awal bagi siswa untuk mendapatkan kesempatan tampil di Global Round. Setelah lolos, mereka mulai meningkatkan persiapan menghadapi kompetisi internasional.
Tiffany mempersiapkan diri dengan mempelajari berbagai topik dalam silabus WSC. Ia juga melatih mental dan membangun kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
“Saya belajar dengan keras untuk tiap topik individual yang ada di dalam silabus,” jelas Tiffany.
Ia juga menilai kemampuan berbicara membutuhkan proses yang konsisten. Latihan rutin membantu dirinya membangun kepercayaan diri saat menghadapi kompetisi.
Kenzie Fokus Latihan Debat dan Menulis
Kenzie memiliki pengalaman serupa. Saat pertama bergabung dalam ekstrakurikuler WSC, kemampuan debat dan menulisnya masih berada pada tahap awal.
Latihan bersama guru dan teman-teman kemudian membantu Kenzie mengembangkan kedua kemampuan tersebut.
Menjelang Global Round, ia menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk berlatih debat dan menulis karya sastra kreatif. Ia juga mempelajari cara menemukan ide serta mengatur gaya bicara dan tulisan.
“Pada tahapan Global Round, saya meluangkan waktu beberapa bulan untuk berlatih debat dan menulis karya sastra kreatif, terutama mengenai cara menghasilkan ide serta mengendalikan gaya bicara dan tulisan saya,” ucap Kenzie.
Selain latihan, Kenzie mempelajari silabus WSC secara menyeluruh. Materinya mencakup berbagai bidang sehingga ia perlu memahami banyak topik sebelum bertanding.
Sekolah Beri Dukungan Selama Persiapan
Persiapan kompetisi berjalan beriringan dengan kegiatan belajar di sekolah. Para siswa tetap mengikuti pembelajaran dan menyelesaikan tugas akademik selama berlatih untuk WSC.
Tiffany mengapresiasi peran guru yang mendampingi tim selama persiapan. Guru memberikan contoh debat, masukan, dan berbagai tips untuk menghadapi kompetisi.
“Mereka membantu mempersiapkan siswa dengan cara memperlihatkan contoh debat dan juga memberikan tips serta masukan yang membangun,” tutur Tiffany.
Kenzie juga menerapkan manajemen waktu agar kegiatan sekolah dan kompetisi tetap berjalan seimbang. Ia menempatkan tugas sekolah sebagai prioritas utama.
Selain mengikuti WSC, Kenzie aktif dalam OSIS dan berbagai kepanitiaan sekolah. Ia juga mengikuti kegiatan MakeX, STEAM, pemrograman dan robotika, serta penelitian.
WSC Jadi Ruang Bertemu Pelajar Dunia
Bagi para siswa, WSC Global Round tidak hanya memberikan pengalaman berkompetisi. Ajang tersebut juga mempertemukan mereka dengan pelajar dari berbagai negara.
Tiffany menikmati kesempatan tersebut karena peserta dapat membangun relasi tanpa memandang asal negara.
“Tidak peduli dari negara mana, setiap pelajar saling membangun relasi satu sama lain,” ungkap Tiffany.
Di sisi lain, Kenzie melihat tantangan dalam kompetisi sebagai bagian dari proses belajar. Ia harus menghabiskan banyak waktu untuk memahami silabus dan membangun kekompakan bersama tim.
Untuk menghadapinya, tim menyusun strategi dan memperbanyak latihan sebelum kompetisi.
Tiket Yale Jadi Target Berikutnya
Keberhasilan di Shanghai membawa 12 siswa Penabur Kelapa Gading menuju tahap berikutnya. Mereka akan tampil dalam Tournament of Champions di Yale University pada November 2026.
Kesempatan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan akademik mereka. Setelah bersaing dengan puluhan negara di Shanghai, para siswa kembali mendapat ruang untuk menguji kemampuan dalam kompetisi tingkat dunia.
Prestasi 76 medali dan empat trofi juga menunjukkan hasil dari latihan yang konsisten. Namun, perjalanan mereka belum berhenti.
Kini, tantangan berikutnya menanti di Yale. Para siswa akan kembali membawa pengalaman dari Shanghai untuk menghadapi babak puncak WSC.

