EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan lulusan jenjang SMP di Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) dapat melanjutkan pendidikan ke SMA pada sekolah yang sama tanpa mengikuti seleksi ulang.
Berdasarkan sumber Kemendikdasmen, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan kebijakan tersebut saat menghadiri kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SNT 7 Bogor, Jawa Barat, Senin (10/8/2026).
“Lulusan SMP SNT otomatis dapat melanjutkan ke SMA di sekolah yang sama karena sistemnya terintegrasi, sehingga tidak perlu mengikuti seleksi lagi,” ujar Abdul Mu’ti.
Sistem Terintegrasi Jadi Ciri Utama SNT
Kemendikdasmen merancang SNT sebagai sekolah yang menghubungkan jenjang SMP dan SMA dalam satu sistem pendidikan terpadu. Dengan model ini, siswa dapat melanjutkan pendidikan secara berkesinambungan tanpa harus mengikuti proses penerimaan peserta didik baru.
Mu’ti berharap sistem tersebut membantu siswa fokus mengembangkan kemampuan akademik dan nonakademik hingga siap melanjutkan pendidikan tinggi.
“Harapannya, setelah menyelesaikan pendidikan di SNT, mereka dapat melanjutkan ke perguruan tinggi yang lebih baik,” katanya.
Kuota Sangat Terbatas, Satu Angkatan Hanya 80 Murid
Berbeda dengan sekolah negeri umum, SNT menerapkan pembatasan jumlah murid untuk menjaga mutu pendidikan. Dalam satu angkatan, setiap SNT hanya menerima 80 murid, terdiri atas 40 siswa SMP dan 40 siswa SMA.
Mu’ti menjelaskan bahwa Kemendikdasmen akan tetap menggunakan kebijakan pembatasan kuota ini pada penerimaan tahun-tahun berikutnya, meski pemerintah masih membuka kemungkinan penyesuaian sesuai kebutuhan daerah dan kapasitas sekolah.
Seleksi Fokus pada Kemampuan di Atas Rata-Rata
Kemendikdasmen menggunakan tes skolastik sebagai instrumen utama dalam seleksi calon siswa SNT. Kemendikdasmen menujukan seleksi tersebut bagi siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
Pada penerimaan angkatan pertama tahun ajaran 2026/2027, tercatat 2.068 siswa mendaftar. Namun, Kemendikdasmen hanya menerima 1.360 siswa di 17 lokasi SNT di berbagai daerah Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menjelaskan bahwa Kemendikdasmen menerima 680 siswa SMP dan 680 siswa SMA.
“Mereka merupakan angkatan pertama SNT tahun ajaran 2026/2027,” ujar Gogot.
Seleksi Guru dan Kepala Sekolah Juga Ketat
Keketatan seleksi tidak hanya berlaku bagi siswa. Kemendikdasmen juga melakukan seleksi ketat terhadap guru dan kepala sekolah SNT.
Dari sekitar 60 ribu lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan, pemerintah hanya menerima 204 guru untuk bertugas di SNT. Sementara itu, seleksi kepala sekolah menghasilkan 17 kepala sekolah terpilih dari sekitar 1.800 pendaftar di seluruh Indonesia.
Gogot menegaskan bahwa Kemendikdasmen menempatkan kepala sekolah hasil seleksi nasional berstandar mutu tinggi di SNT.
SNT Bukan Sekolah Berasrama
Mu’ti juga menegaskan bahwa SNT berbeda dengan Sekolah Rakyat maupun Sekolah Unggulan Garuda. SNT tidak menggunakan sistem asrama.
Pemerintah menempatkan SNT dalam satu kota atau daerah agar siswa tetap tinggal bersama keluarga dan tidak harus berpindah tempat tinggal.
“Mereka tidak berasrama. Karena itu, kami menempatkan sekolah dalam satu kota agar siswa tetap dekat dengan keluarga dan setiap daerah memiliki sekolah unggul,” jelas Mu’ti.
Kemendikdasmen Ingin Hadirkan Sekolah Unggul di Daerah
Melalui SNT, Kemendikdasmen ingin menghadirkan sekolah unggul di berbagai daerah dengan mutu pendidikan yang terjaga, proses seleksi yang ketat, dan sistem pembelajaran yang berkelanjutan dari SMP hingga SMA.
Kemendikdasmen berharap program ini menjadi salah satu jalur pembinaan talenta muda Indonesia agar mampu bersaing pada jenjang pendidikan tinggi dan dunia kerja di masa depan.



