EDUCARE.CO.ID – Pendekatan deep learning mulai menunjukkan hasil positif pada pendidikan anak usia dini (PAUD). Melalui pembelajaran yang berpusat pada anak, sekolah mendorong peserta didik untuk aktif bertanya, bereksplorasi, berpikir kritis, dan mengembangkan kreativitas sejak dini.
Berdasarkan sumber rilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), keberhasilan penerapan deep learning tidak hanya bergantung pada sekolah. Orang tua juga memegang peran penting sebagai mitra dalam mendampingi proses belajar anak.
Deep Learning Tekankan Pemahaman, Bukan Hafalan
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa deep learning menjadi salah satu paradigma pembelajaran yang perlu diterapkan dalam sistem pendidikan nasional.
Menurut Atip, pendekatan tersebut mengajak anak memahami materi secara mendalam, bukan sekadar menghafalnya.
“Deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, bukan hafalan. Kita ingin anak-anak tidak hanya membaca, tetapi memahami, tidak hanya menghitung, tetapi menganalisis, serta mampu menerapkan pengetahuan dan berinovasi,” ujarnya.
Anak Belajar Lewat Bermain dan Bereksplorasi
Kepala TK Bunda Ganesha, Susi Hindayani, menjelaskan bahwa sekolah menerapkan deep learning dengan memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi, mengajukan pertanyaan, dan membangun pengetahuannya sendiri.
Guru menghadirkan pembelajaran berbasis proyek, aktivitas kontekstual, pilihan kegiatan, serta penggunaan media lepasan yang mendukung perkembangan sensorik dan motorik anak.
“Bagi kami, bermain adalah belajar. Setiap kegiatan dirancang agar bermakna, menyenangkan, dan membangun kesadaran anak,” kata Susi.
Selain itu, sekolah juga mengajak orang tua ikut terlibat dalam berbagai aktivitas. Misalnya, saat peringatan Hari Anak Nasional, orang tua dan anak bersama-sama mengolah sampah daur ulang menjadi karya seni.
Menurut Susi, keterlibatan tersebut membuat pengalaman belajar tidak berhenti di sekolah, tetapi berlanjut di rumah.
Orang Tua dan Sekolah Harus Berkolaborasi
Susi mengakui bahwa menjaga konsistensi penerapan deep learning menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, sekolah terus memetakan minat serta tahap perkembangan setiap anak agar pembelajaran tetap sesuai kebutuhan mereka.
Pandangan serupa disampaikan Kepala TK Gagas Ceria, Catur Wulandari. Ia menilai deep learning membantu anak memahami berbagai konsep melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam proses tersebut, guru berperan sebagai fasilitator. Guru mengajukan pertanyaan terbuka, memberikan tantangan sesuai usia anak, dan mendorong mereka menemukan solusi secara mandiri.
“Bermain merupakan cara belajar paling alami bagi anak. Melalui bermain, mereka belajar bekerja sama, memecahkan masalah, berkomunikasi, serta mengelola emosi,” ujar Catur.
Karakter Anak Menjadi Tolok Ukur Keberhasilan
Catur menambahkan bahwa keberhasilan deep learning tidak hanya terlihat dari kemampuan akademik. Sekolah juga menilai keberanian anak mencoba hal baru, kemampuan bekerja sama, keterampilan menyampaikan gagasan, serta kebahagiaan selama mengikuti pembelajaran.
Oleh sebab itu, sekolah terus membangun komunikasi yang erat dengan orang tua. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar anak memperoleh pengalaman belajar yang selaras di sekolah maupun di rumah.
Melalui pendekatan ini, Kemendikdasmen berharap semakin banyak satuan PAUD menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Dengan demikian, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, mandiri, kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan.




