Kemendikdasmen Luncurkan Regulasi Baru, Sekolah Aman dan Nyaman Jadi Prioritas

Must read

EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak cukup diukur dari capaian akademik. Sekolah juga perlu menghadirkan lingkungan belajar yang aman, sehat, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang murid secara menyeluruh.

Pesan tersebut disampaikan dalam Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) dalam Rangka Penguatan Karakter dan Perlindungan Murid di Sekolah yang berlangsung di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, mengatakan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momentum untuk memperkuat arah transformasi pendidikan nasional. Menurutnya, pendidikan perlu memberi ruang yang aman sekaligus memanusiakan setiap peserta didik.

“Pendidikan tidak hanya berbicara tentang pencapaian akademik, tetapi juga bagaimana sekolah menjadi ruang tumbuh yang aman, sehat, inklusif, dan memanusiakan setiap anak Indonesia,” ujar Suharti.

Regulasi Baru Perkuat Perlindungan Murid di Sekolah

Dalam kesempatan tersebut, Kemendikdasmen juga memperkuat implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) beserta pedoman pelaksanaannya.

Regulasi ini hadir untuk memperkuat perlindungan murid sekaligus membangun budaya sekolah yang sehat secara sosial dan emosional.

Suharti menjelaskan, pemerintah ingin memastikan seluruh satuan pendidikan memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman.

Ia menambahkan, seminar tersebut menjadi ruang berbagi praktik baik sekaligus memperkuat komitmen bersama agar implementasi BSAN berjalan di seluruh Indonesia.

Libatkan Ribuan Peserta dan Kolaborasi Lintas Sektor

Kemendikdasmen menggelar seminar secara hibrida. Lebih dari 100 peserta hadir langsung dan ribuan peserta mengikuti secara daring melalui kanal digital.

Peserta berasal dari berbagai unsur. Mereka terdiri atas kementerian, pemerintah daerah, organisasi pendidikan, komunitas, media, hingga mitra pembangunan.

Kemendikdasmen juga menggandeng Save the Children Indonesia untuk memperluas jangkauan diskusi dan edukasi.

Selain itu, pemerintah melibatkan dinas pendidikan dari empat provinsi sasaran Program KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia), yaitu Sumatra Utara, Lampung, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara.

Delapan kabupaten sasaran juga ikut terlibat. Wilayah tersebut meliputi Nias Utara, Nias Selatan, Tanggamus, Pesisir Barat, Kayong Utara, Ketapang, Pulau Morotai, dan Halmahera Utara.

Tidak hanya itu, sebanyak 560 kepala sekolah PAUD dan SD, guru, kelompok kerja BSAN, serta perwakilan sekolah turut mengikuti kegiatan tersebut.

Bahas Regulasi hingga Penguatan Peran Keluarga

Seminar berlangsung dalam dua sesi utama.

Sesi pertama membahas kerangka regulasi BSAN. Materi yang dibahas mencakup Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026, pedoman pelaksanaan, serta penguatan sistem perlindungan anak.

Sesi kedua berfokus pada praktik di lapangan. Pembahasan mencakup perlindungan anak di sekolah dan penguatan peran keluarga melalui pola pengasuhan positif.

Kemendikdasmen berharap hasil seminar tidak berhenti sebagai ruang diskusi semata.

Sebaliknya, hasilnya diharapkan menjadi langkah nyata dalam kebijakan dan praktik pendidikan agar setiap murid dapat belajar dengan aman, nyaman, dan berkembang secara optimal.

Melalui penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, pemerintah ingin menghadirkan transformasi pendidikan yang lebih utuh. Tidak hanya melahirkan murid berprestasi, tetapi juga membentuk lingkungan sekolah yang melindungi, menghargai, dan menguatkan karakter anak Indonesia.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article